To react how hot and dry the weather is in my studio lately ☀️🥵
Please visit @dgalleriejakarta at Booth B15
Art Jakarta Gardens @artjakarta
May 5 – 10 | Hutan Kota by Plataran
Left.
'Extreme Weather'
42 x 29,7
Sun on Paper, 2026
Right.
'Angin Panas Khatulistiwa'
50 x 90
Sun on Canvas, 2026
Always 📸 by : @ravalenvrgn
Alih-alih menjadi eksplorasi medium baru yang menjauh dari praktik lukis yang selama ini saya kenal, Vicky seakan hadir dengan menegaskan bahwa ia mendefinisikannya dengan tetap melukis dengan cahaya itu sendiri. Vicky menjadikan cahaya bukan hadir sebagai medium pencitraan imej, tetapi sebagai daya bakar. Ia mengubah energi panas menjadi alat bakar yang meninggalkan jejak kehitaman hingga taraf tertentu menjadi hancur pada medium yang dipakainya. Matahari dipakai olehnya sebagai alat penciptaan yang destruktif.
Simak ulasan @tommyzuck ketika berkunjung ke pameran fotografis bertajuk "Solstice". Baca selengkapnya di link bio @sudutkantincom .
#pameransenirupa #soltice #fotografi #yogyakarta
𝙋𝙪𝙠𝙖𝙪, a group exhibition presenting Dewa R, Evran Andhika, Rafif Saleh, Riski Dwi, and Vicky Saputra.
This exhibition does not seek to restore the meaning of “natural” to a single, fixed definition. Rather, it demonstrates that what we consider natural always lies on the enchantment; somewhere between direct experience, the process of representation, and construction. Enchantment with nature may arise in an instant, but the way we understand and remember it will always change. For the “event” in the word “natural” certainly does not promise complete and neatly organized knowledge.
'Paradoxical'
270 x 68
sun on canvas
2026
The exhibition will run from 10 until 24 April 2026
Essay by Sectio Agung @sectioa
In collaboration with SURVIVE!Garage @survive_garage
SURVIVE!Garage
Jl. Nitiprayan No.99 RT 03, Jomegatan, Ngestiharjo, Kec. Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55184
Project 010
Atosakuru @atosakuru@ifellangrajendra@bernardus.ari@lintangpermataku
Photos : @ifellangrajendra & @ravalenvrgn
Tubuh tidak lahir untuk selalu siap 24/7, dan Solstice adalah pengakuan jujur atas hal itu. Melalui pameran tunggal pertamanya di Sumsum Gallery (@sumsum.gallery ), Vicky Saputra (@vicksaputra ) menunjukkan hasil praktik pirografi surya: bekerja tiga jam sehari, menyerahkan sisanya pada matahari, cuaca, dan jeda. Dikurasi oleh Ibrahim Soetomo (@ibrahimsoetomo ), Solstice bukan sekadar pameran seni, melainkan sebuah titik henti tempat tubuh masih bisa memilih kapan ia perlu menunduk, menengadah, maupun terhenti.
Ulasan pameran Solstice oleh Rifki Akbar Pratama (@rifkiap__ ) kini dapat dibaca dalam bahasa Indonesia ataupun dalam bahasa Inggris.
Baca selengkapnya di urakanmagazine.com
Teks oleh Rifki Akbar Pratama (@rifkiap__ )
Fotografi oleh Ravalen Virginia (@ravalenvrgn )
Pengalaman kosmik yang biasa saja. Sekedar mengantarkannya pulang sebelum bertemu kembali esok. Walau sehari hari bekerja bersama, mengamati geraknya, memahami sifatnya, selalu ada hal hal baru yang bisa dimaknai lebih dalam.
Layaknya pertanyaan iseng "gunung atau pantai?". Bukan hanya karena tumbuh besar di sebuah pulau yang membuatku menyukai pantai, namun bagaimana ia menerima mentari apa adanya, di saat tenang dan riuhnya.
“Solstice” telah resmi berakhir.
Terima kasih atas seluruh proses, pertemuan, dan percakapan yang terjadi sepanjang pameran ini.
Sumsum Gallery bangga mendapat kesempatan menjadi penyelenggara pameran tunggal pertama Vicky Saputra.
Terima kasih, Vicky & Solstice.
📷 @ravalenvrgn
Vicky Saputra with visitors filling the exhibition space. In Solstice, we share stories, perspectives, and resonances around each work and the artistic practice behind it.
The exhibition runs until March 5, 2026 at Sumsum Gallery. We warmly invite you to visit.
📷 @ravalenvrgn
Mengetahui, menonton, juga mendalami seri Sunstroke milik Vicky Saputra bakalnya tak lengkap jika tak mengulik bagaimana proses Ia membuatnya. Berawal dari lukisan tulang dan sayatan, Vicky menemukan teknik ini ketika masa residensinya di Rumah Tangga. Kita dapat menemukan garis yang meliuk-liuk, gosong hasil bakaran, juga beberapa reaksi kimiawi pada kertas. Ia adalah hasil bakar dari Vicky yang menyergap cahaya matahari dengan suryakanta, mengendalikan arahnya, bereaksi, dan membiarkan alam bekerja sendirinya.
Dengan jangka waktu berkarya yang lumayan bisa diprediksi, pun juga sebentar, kita bisa bayangkan seberapa Vicky menunggu. Bisa kita sebut, Ia punya waktu mengendapkan diri lebih lama dari pada pengerjaan karya itu sendiri. Solstice sendiri bisa kita maknai sebagai cara Vicky menghargai waktu, dimana matahari hadir, dalam momentum yang Ia butuhkan. Secara visual, beberapa terlihat menjalar, melubangi hingga habis, juga mengubah warna. Kami merasa ada yang terkontrol dan tidak, mungkin saja ini bentuk dinamika Vicky bersama kekuatan alam.
Beberapa hal yang bisa kita telaah dari praktik Vicky, seperti perihal produktivitas, Vicky punya waktunya sendiri untuk mengejar matahari yang intens. Berikutnya adalah ketahanan dan ketubuhan, yang bisa kita tengok dibeberapa dokumentasi bahwa pasti ketahanannya di uji. Sinar yang datang tak pasti, sumber yang tak bisa dikendalikan, juga risiko yang hadir. Terakhir, mungkin beberapa dari kita terkagum melihat penemuan yang baru dari mengolah karya seni. Namun jika dipikirkan ulang, apa yang dipakai dan diguna-guna Vicky sudah ada sejak dahulu, sebelum kita ada. Sejak sekolah dasar pun kita sudah mengetahui bahwa lup, bisa menjadi alat bakar. Kesadaran, akan apa yang kita lihat, atau terpapar oleh sendirinya, tidak boleh disia-siakan.
#pinkisthenewpunk
Grong Socius 2026
Kurator pameran Solstice, Ibrahim Soetomo, menjelaskan bagaimana proses kerja Vicky membentuk karakter visual karya-karyanya dalam pameran tunggalnya kali ini di Sumsum Gallery.
Simak penjelasannya dalam video ini.
On February 11, we held the opening of Vicky Saputra’s solo exhibition.
If you haven’t had the chance to attend, we warmly invite you to visit and experience the works firsthand.
The exhibition runs until March 5 at Sumsum Gallery.
We would like to invite you to 𝗦𝗼𝗹𝘀𝘁𝗶𝗰𝗲, a solo exhibition by 𝗩𝗶𝗰𝗸𝘆 𝗦𝗮𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮.
The exhibition presents works on paper and canvas made using sunstroke, a technique that uses focused sunlight to burn the surface as a drawing process.
11 Feb – 5 Mar 2026
Sumsum Gallery