Robertus R P Kumaniren

@robertusrisky

Ad Maiorem Dei Gloriam Freelance Photojournalist based in Surabaya, East Java
Followers
1,983
Following
3,597
Account Insight
Score
28.21%
Index
Health Rate
%
Users Ratio
1:1
Weeks posts
Para Puan Pengupas Harapan Mereka tak butuh disebut tangguh. Publik harus tahu, para puan ini menjalani hidup karena himpitan ekonomi. Mereka tak punya banyak pilihan, selain memikul beban dalam kondisi kerja yang jauh dari kata layak. Mereka tak butuh diglorifikasi –betapa perkasanya mereka sebagai kuli angkut. Kalau ada pilihan pekerjaan yang lebih baik, mereka tidak ingin seperti ini, begitu kata mereka. SETIAP PAGI bagi Samlah tak ubahnya seperti pagi-pagi sebelumnya. Bangun subuh, salat, kemudian ke Pasar Pabean. Demikian terus ia mengulang hidupnya setiap hari, sampai-sampai ia lupa sudah berapa lama menjalani aktivitas mengupas dan mengangkut karungan bawang. Tentu ia tak sendiri. Ada puluhan perempuan sepertinya yang menggantungkan nasib di pasar itu. Sinar matahari menyorot wajah puluhan perempuan buruh angkut. Teriknya kota metropolitan, membuat keringat mengucur meresap di pakaian, menambah berat beban yang harus mereka pikul. Peluh lelah mereka tenggelam dalam riuh tawar menawar antara pedagang dan pembeli. Mereka sabar menanti datangnya permintaan mengangkut kerupuk, bawang putih, bawang merah, dan sebagainya. Samlah dan puluhan perempuan ini, sanggup mengangkat beban seberat 25 sampai 30 kilogram dengan kepalanya. Ya, beban diletakkan tepat di atas kepala mereka. Beban berat yang mereka panggul, demi meringankan beban ekonomi. Semakin banyak yang diangkat, semakin banyak rupiah yang didapat. Suami Samlah, juga bekerja sebagai kuli angkut di Pelabuhan Tanjung Perak. Editor: Miftah Faridl Selengkapnya baca di @projectarek.id https://projectarek.id/cerita-foto/para-puan-pengupas-harapan
140 4
5 days ago
Wajah Juang Transpuan Merebut Ruang Hidup Dari tubuh lelaki yang dipaksa berdamai dengan panggung perempuan, Lusi menapaki hidup penuh luka —KDRT, hinaan, pengusiran, hingga kehilangan keluarga. Namun dari panggung ke panggung hajatan, ia mengumpulkan serpihan harga diri, membangun rumah, dan bertahan sebagai penghibur. Malam itu, malam Minggu yang riuh oleh pesta hajatan, Lusi tampil mencolok di atas panggung. Tubuhnya paling besar dibanding anggota Trio Codhot lainnya maupun para penyanyi perempuan yang bergantian mengisi acara. Di bawah lampu yang temaram namun cukup menyilaukan, ia berdiri dengan balutan gaun merah menyala bertabur manik-manik, berkilau setiap kali tubuhnya bergerak mengikuti irama. Suara musik dangdut menggema, bercampur dengan gelak tawa penonton dan suara anak-anak yang berlarian di sela kursi plastik. Lusi mengambil mikrofon, dan dalam sekejap, perhatian beralih padanya. Suaranya menggelegar—tidak halus, tidak pula merdu dalam pengertian umum—tetapi cukup kuat untuk menguasai suasana. Dipadu aksi kocak Niken dan Puspa, ketiganya menjadi bunga panggung. Ia mungkin bukan yang paling cantik malam itu. Wajahnya juga tidak seanggun pengantin yang duduk di pelaminan, atau sehalus biduan lain yang tampil dengan riasan sempurna. Namun Lusi memiliki sesuatu yang tak bisa ditiru, yakni cara ia menghidupkan panggung. Ia melontarkan guyonan, bergerak lincah, kadang sengaja menjatuhkan diri, kadang membuat gerakan berlebihan seperti kayang atau koprol, berguling-guling di antara para penonton. Penulis : Asvin Ellyana https://projectarek.id/reportase/wajah-juang-transpuan-merebut-ruang-hidup
141 2
25 days ago
Menjaga Hutan Terakhir Lereng Arjuno-Welirang *Akar Konflik Proyek Real Estat 1988-2026 di Tretes Bayang-bayang banjir besar di Sumatra dan Aceh akhir tahun lalu terus menghantui warga Tretes, Kabupaten Pasuruan. Tragedi itu mereka rasakan terus mendekat. Betapa tidak, lahan hutan seluas 22,5 hektare tepat di atas perkampungan mereka, hendak diubah menjadi real estat atau hunian kaum elite. KAMI DISAMBUT hangat di rumah tiga kamar milik keluarga Priya Kusuma (50), Ketua Aliansi Gema Duta. Meski berpenampilan gahar: rambut gondrong, tubuh kekar, dan bertato, ia berbicara guyub dan ramah malam itu, 13 Februari 2026. Obrolan mengalir dari soal keluarga hingga keresahan atas proyek yang membayangi desa. Di balik kesan sangarnya itu, Priya adalah sosok yang tegak di barisan depan melindungi ruang hidup warga di lembah Gunung Arjuno-Welirang. Ia memimpin penolakan warga atas rencana alih fungsi lahan menjadi real estat oleh PT Stasionkota Saranapermai. Sikap ini diambil karena proyek ini mengancam lingkungan dan ruang hidup warga. Jalan Panjang Perlawanan Warga Ya, konflik ini tidak muncul secara tiba-tiba. Akar persoalannya sudah menjalar sejak akhir 1980-an, tepatnya di meja-meja birokrasi yang tersembunyi. Saat itu, pengembang diduga mulai melakukan upaya sistematis untuk mengalihkan fungsi kawasan hutan menjadi lahan komersial, tanpa sepengetahuan masyarakat sekitar. Lahan yang semula merupakan kawasan Hutan Produksi Perhutani di Prigen tersebut kemudian memasuki proses alih fungsi melalui mekanisme Tukar Menukar Kawasan Hutan (TMKH) antara Perum Perhutani dan PT Kusuma Raya Utama. Sekali lagi, warga diabaikan seperti tak pernah ada kehidupan di kawasan itu. “Proses ini dimulai sekitar 1988. Sejak saat itu, mereka telah merintis pengajuan permohonan tukar-menukar kawasan hutan,” ujar Hadi Sucipto (47), Wakil Ketua Aliansi Gerakan Masyarakat Peduli Hutan (Gema Duta), 14 Februari 2026. Waktu bergulir, landasan hukum proyek ini muncul dari Surat Menteri Kehutanan pada 13 September 1996 yang memberikan persetujuan penggunaan kawasan hutan untuk pengembangan pariwisata kepada PT Kusuma Raya Utama. Teks: @rangga_zefsse https://projectarek.id/cerita-mendalam/m
198 11
1 month ago
Titik Sri Hartini (59) menggeluti profesinya sebagai driver ojek online sejak wabah Covid-19. Dalam sehari ia mendapatkan 200-250 ribu rupiah. Jumlah itu belum termasuk potongan dari aplikasi serta memenuhi kebutuhan hidupnya. Meski panas terik di Surabaya, tak menyurutkan niatnya untuk tetap melaksanakan ibadah puasa. Ia mulai memacu kendaraannya untuk mencari orderan mulai pukul 10.00 WIB, hingga waktu berbuka puasa. Hal itu ia lakukan untuk bertahan hidup di tengah ketidakpastian ekonomi. Dahulu, Titik merupakan Tenaga Kesehatan (Nakes) di salah satu rumah sakit swasta di Surabaya. Titik tinggal di indekos milik salah satu temannya. Ia menghuni salah satu kamar berukuran 2x3 meter. @pannafoto #apresiasipejuangramadan
95 2
1 month ago
Hidup perempuan! Hidup perempuan melawan!” pekik itu lantang menembus bising lalu lintas. Pekik disambut suara bersama masa barisan masyarakat sipil, pekerja, dan mahasiswa yang berdiri di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (12/3/2026). Aksi Kamisan ke-901 Surabaya terus mersonansi keresahan bagi banyak orang. Massa aksi mengubah jalanan menjadi mimbar perjuangan. Mereka membuka ruang demokrasi yang dinilai terus menyempit. Suara aksi ini, menjadi cara untuk merawat ingatan kolektif atas berbagai pelanggaran HAM masa lalu hingga yang terus terulang hingga saat ini. Aksi Kamisan kali ini, menyuarakan perlawanan atas bentuk-bentuk penindasan kepada perempuan. Bertepatan dengan momen Internasional Women's Day (IWD) 2026, yang rutin diperingati pada 8 Maret, massa aksi mengutuk kekerasan seksual, femisida, serta kebijakan pemerintah yang mengebiri suara perempuan, masyarakat marjinal, dan kelompok rentan. Mereka protes pada negara, karena lemahnya perlindungan dan hak-hak masyarakat sipil khususnya perempuan. Selengkapnya baca di https://projectarek.id/reportase/aksi-kamisan-barisan-perempuan-melawan
61 4
2 months ago
Hidup Perempuan! *Terus Kawal 23 Tuntutan Setiap massa aksi membawa pesan tuntutan. Namun, lebih sering tuntutan itu menguap ditampis abainya penguasan. Para perempuan melawan ini, menolak diabaikan. Mereka memilih terus mengawal apa yang sudah mereka rumuskan, 23 tuntutan. AWAN mendung menggantung di langit. Derap langkah massa aksi merambat menuju Gedung Grahadi, 9 Maret 2026. Puluhan orang berjalan beriringan di depan mobil komando yang membopong sound system berukuran gembul. Benda itu menambah lengking suara orasi para demonstran. Ya, aksi ini menjadi puncak peringatan International Women’s Day (IWD) Surabaya tahun ini. “Ayo Rek! Saling Njogo, Saling Nguatno”, tema yang diusung dalam peringatan IWD Surabaya kali ini. Rangkaian aksi sepekan, ditutup long march dan mimbar bebas memadati Jalan Gubernur Suryo. Meski isu yang dibahas beragam, Elsa mencatat adanya pola yang sama, yakni bersumber dari kondisi negara saat ini yang dianggap mempersempit ruang demokrasi bagi masyarakat sipil. "Sebetulnya ada pola yang sama dari temuan masalah, sekalipun dalam diskusi panel sebelumnya membawa isu yang berbeda. Akar persoalannya berasal dari negara,” ujar Elsa. Menurutnya, pemerintahan hari ini menjadi rezim yang semakin mempersempit ruang demokrasi bagi setiap orang. Ia mengatakan, perbuaran terhadap aktivis dan masyarakat sipil pasca demonstrasi Agustus 2025 lalu menjadi bukti. Perburuan termasuk pula kepada perempuan. Banyak Kasus, Banyak Tuntutan Masih kata Elsa, penyempitan ruang sipil ini berujung pada meningkatnya tindakan represif, kriminalisasi, hingga pembungkaman kebebasan berpendapat. Salah satu cara negara membungkam suara kritis adalah dengan ancaman hukum, Strategic Lawsuit Against Public Participation (Anti-SLAPP). Menurutnya, negara dan setiap elemen masyarakat harus memiliki komitmen untuk memberikan perlindungan serta menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap mereka yang menyuarakan kritik. Salah satu poin penting ialah memandang isu perempuan dan kelompok rentan sebagai bagian integral dari Hak Asasi Manusia (HAM). Teks: @rangga_zefsse Selengkapnya baca di https://projectarek.id/reportase/hidup-perempuan
63 1
2 months ago
Di balik harum secangkir kopi arabika dari lereng Gunung Arjuna, tersimpan kisah para pemetik kopi yang jarang tersorot. Pagi-pagi sekali. Udara masih dingin menusuk. Jalanan menanjak, berkelok, dan sunyi. Mereka sudah ada di kebun. Para pemetik kopi. Wajah-wajah yang mungkin tidak pernah masuk televisi. Tidak pernah viral di media sosial. Tapi tanpa mereka, siapa yang bisa menikmati kopi enak dari lereng Arjuna? Kopi dari desa Tegal kidul, Jatiarjo, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Adalah, Hidayat, Asmara, Mujiono, Cipto, dan Wati. Mereka adalah wajah-wajah penuh ketekunan, para petani yang setiap hari menapaki jalan terjal di antara kabut dan cemara, memetik harapan dari pohon-pohon kopi yang tumbuh di ketinggian 1.000 hingga 1.400 meter di atas permukaan laut. Di tengah tantangan regenerasi, para petani berharap generasi muda tidak malu kembali ke kebun. Anak muda maunya jadi barista. Ya, barista memang keren. Tapi tanpa pemetik kopi, barista tidak punya bahan cerita. Wajah-wajah pemetik kopi di lereng Arjuna adalah wajah-wajah harapan. Mereka adalah penjaga tradisi, pelestari alam, dan pejuang kehidupan yang tak pernah lelah. Di tangan mereka, kopi bukan sekadar komoditas, tapi cerita tentang ketekunan dan masa depan yang terus disemai di tengah kabut pegunungan.
74 2
3 months ago
Hikayat Pelapak Buku Blauran Menyerah bukanlah pilihan, meski bertahan harus ada hidup yang dipertaruhkan. Mereka yang bertahan, diselimuti rasa sepi ditemani tumpukan buku yang semakin menua. Hanya hidup yang membuat mereka tinggal, karena kematian pun tak membuat generasi selanjutnya mau diwarisinya. Ya, inilah hikayat pedagang buku di Pasar Blauran Surabaya yang masyhur (dahulu) itu. INGATKAH dengan nama Sarip, Said, Taskan, Pardi, Woyo, Tarno, Karno atau Lutfi? Yang terlahir di sekitaran 1980 dan 1990-an, gali ingatan kalian tentang kenangan di lapak buku Pasar Blauran. Mungkin merekalah yang menemani masa sekolah kalian dengan buku-buku yang apik dijajakan di sudut Pasar Blauran. Merekalah yang memastikan para pekerja berpenghasilan pas-pasan bisa menyediakan buku sekolah bagi anak-anak mereka. Nama-nama itu kini terlupakan. Tak lagi ada suara mereka menawarkan buku. Mereka telah meninggalkan dunia. Bukan hanya kenangan, mereka meninggalkan juga buku-buku yang menjadi hari-hari mereka dahulu. Lapak mereka tertutup rapat. Tumpukan buku dibalut sepi terpal yang tak tembus lampu pasar yang juga temaram tak seterang dahulu. Buku-buku itu tak terwariskan. Anak-anak pedagang buku itu, tak sanggup menapaki jalan hidup ayahnya. Hidup ayah mereka yang jenuh berteman sepi, sesepi pasar ini. Mereka memilih membiarkan lapak itu menjadi kuburan buku. Dibiarkan begitu saja hingga meresap bersama bangunan Pasar Blauran yang tak lagi sama seperti dua, tiga dekade silam. “Banyak lapak yang kosong yang ditinggalkan karena pedagangnya meninggal. Sama keluarganya nggak diteruskan. Ya sudah, dibiarkan begitu saja sama buku-bukunya. Mungkin anak-anak ini tidak mau karena memang sepi pembeli,” kata Zaiful Anwar, salah satu penjual buku yang tersisa. Napas Pasar Blauran kini megap-megap, tenggelam digilas zaman, terkubur dalam kebisingan Kota Pahlawan, dan terpuruk dalam memori ingatan. Desak riuh antar pembeli yang berebut buku dan pedagang yang sibuk menjajakan dagangan, kini menjadi suasana yang dirindukan. Baca selengkapnya di https://projectarek.id/cerita-foto/hikayat-pelapak-buku-blauran
108 5
3 months ago
Omah Dhuwur, Seni Melawan ‘Arek BR’ Meski kelima dari mereka ini tidak berasal dari keluarga dengan riwayat prostitusi, label tetap melekat di luar sanggar. Anak-anak Bangunredjo kerap disebut dengan label “Arek BR”—sebutan yang merujuk pada sejarah kampung sebagai kawasan prostitusi. Ini menjadi stigma dan melekat ke mana saja mereka pergi. BANGUNREJO nama yang tak asing bagi sebagian warga Surabaya. Ya, kawasan merah, karena banyak rumah diubah menjadi wisma prostitusi. Belum lagi cap kampung bromocorah. Dekade berlalu, generasi hilang berganti, kampung ini terus berubah dan bertumbuh. Namun, stigma tertinggal tak lekang waktu. Warga resah. Gundah gulana bagaimana menjawab pertanyaan anak-anak mereka. Mengapa dengan anak BR? Mengapa kalau kami lahir dan tumbuh di sana? Apa yang membedakan kami dengan anak-anak di kampung lain? banyak mengapa yang harus dijawab. Anak-anak menanti jawabannya. Terpojok, warga harus cari jawaban. Adalah Abdoel Semoet, salah seorang warga yang menolak lari dan memilih menjawab pertanyaan itu. Laki-laki 50 tahun itu, tentu bersama beberapa warga kampungnya, berusaha menjawab pertanyaan tak tak segera terjawab hingga dekade berlalu, dengan pendekatan yang lekat dengan keseharian warga, yaitu seni. Sebuah sanggar ia dirikan, tempat anak-anak ‘bernapas’. Pada 2014, Pemerintah Kota Surabaya menutup seluruh tempat prostitusi di kawasan ini. Namun penutupan itu tidak serta-merta menghapus stigma yang menempel pada kampung ini. Omah Dhuwur hadir, bukan semata sebagai sanggar seni, melaikan sebagai ruang aman. “Jejak sejarah itu masih membayangi kehidupan warga, terutama perempuan dan anak-anak yang lahir jauh setelah masa lokalisasi berakhir. Kami ingin anak-anak dan perempuan di Bangunrejo punya ruang untuk bernapas,” tutur Cak Semoet. Lahir dari Gerakan Kolektif Di kawasan Dupak, Surabaya Utara, Omah Dhuwur berdiri di tengah kampung yang pernah dilekati stigma eks lokalisasi. Di ruang inilah anak-anak perempuan berkumpul—berlatih, berbagi cerita, dan perlahan membangun rasa percaya diri di lingkungan yang selama bertahun-tahun menempatkan mereka dalam posisi rentan. Teks: Soffya Ranti Liputan untuk @projectarek.id
100 3
3 months ago
Tak sedikit demonstran pasca-aksi Agustus 2025 yang masih berjibaku mencari keadilan melalui proses persidangan. Bahkan, satu di antaranya meregang nyawa di dalam rumah tahanan. WAJAH Doni (19) dan Aldo (19) masih tampak kelu saat menjalani sidang pemeriksaan saksi dan ahli dari Penuntut Umum pada 7 Januari 2026. Dalam persidangan itu terungkap keduanya tidak memiliki niat melakukan pelanggaran hukum maupun memicu kerusuhan dalam aksi demonstrasi. “Mereka hanya berniat membantu orang lain dan tidak menyadari bahwa pembelian bahan bakar tersebut akan digunakan untuk tujuan melawan hukum,” ujar Jauhar Kurniawan dari Lembaga Bantuan Hukum Surabaya sesudah sidang. Kematian Alfarisi Menjelang akhir 2025, kabar duka datang dari Rutan Medaeng. Alfarisi bin Rikosen meninggal pada 30 Desember 2025 sekitar pukul 06.00. Alfarisi sempat dibangunkan untuk salat Subuh sekitar pukul 04.00, tapi terdengar mendengkur keras dan tidak merespons. Ia dinyatakan meninggal sebelum ditangani medis di klinik. Cerita untuk @projectm_org Teks @rangga_zefsse
97 2
3 months ago
Puluhan anak muda masih menjalani sidang berbulan-bulan setelah demonstrasi Agustus 2025 di Surabaya. Fotografer Robertus Risky memotret empat di antaranya dan mengikuti keluarga yang ikut terdampak. Doni dan Aldo, ditangkap hanya karena membelikan bensin untuk genset mobil komando. Saksi dan ahli di persidangan menyebut keduanya tak punya niat melawan hukum. Namun mereka tetap dijerat pasal karet. Nasib lebih pahit dialami Rizqi dan Alfarisi. Keduanya mengaku dipukuli dalam tahanan. Alfarisi meninggal di Rutan Medaeng sebelum ada putusan. Keluarga membantah klaim rutan soal riwayat penyakit dan KontraS menyebut kematiannya bagian dari pola berulang kematian tahanan. Esai foto selengkapnya dapat dibaca di projectmultatuli.org #CeritaFoto #BebaskanKawanKami #Surabaya #JawaTimur #YaAkuBakalDibaca
11.2k 238
3 months ago
Generasi Cemas Disabilitas: Jadi Atlet Sepak Bola Tak Ada Duitnya, Bekerja Pun Terbatas Pilihannya Firman Maulana dan Dewangga Saputra, dua atlet sepak bola disabilitas asal Surabaya, harus menghadapi berbagai tantangan untuk mendapatkan pekerjaan layak. Mereka terkendala syarat minimal ijazah, penempatan kerja yang tidak sesuai dengan jenis disabilitas, hingga upah yang jauh dari harapan. FIRMAN Maulana masih berusia 6 tahun, ketika suatu sore di Krembangan Masigit, kereta api menyeruduk tubuhnya hingga terpental dan melindas kaki kanannya. Ia syok. Orang-orang yang menyadari kejadian itu langsung berdatangan dan membawa Firman ke ke RSUD Dr. Soetomo. Teriakan histeris dari keluarga dan tetangga menjadi ingatan yang tak terlupakan, meski sudah 11 tahun lalu. Kini sudah tumbuh dewasa. Usianya sudah 18 tahun dan menjadi atlet sepak bola disabilitas yang bermain sebagai bek kiri untuk Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Surabaya (PERSAS). Di lapangan olahraga anak kedua dari lima bersaudara ini terbilang berprestasi. Ia pernah meraih tiga medali emas di cabang lompat jauh dan tolak peluru dalam ajang National Paralympic Committee (NPC): dua medali emas pada tahun 2022 (masing-masing untuk lompat jauh dan tolak peluru), serta satu medali emas lompat jauh pada tahun 2023. Di luar lapangan, Firman masih menganggur dan sedang mencari pekerjaan. Pada tahun 2024, saat duduk di kelas 9 SMK Negeri 7 Surabaya, ia terpaksa putus sekolah karena kendala ekonomi. Akibatnya, Firman hanya mengantongi ijazah dari SMP Negeri 5 Surabaya. Dari Kurir Disabilitas Bergaji Minim, Kuliah Berkat Sepak Bola, hingga Cemas Dewangga Saputra (19) terpaksa kehilangan kakinya setelah tak sengaja lututnya tersabet samurai saat temannya akan tawuran di jalan Raya Manyar, Surabaya. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Manyar Medical Centre dan RSUD Dr. Soetomo, namun karena terlambat penanganan membuat lelaki kelahiran Juni 2006 itu harus merelakan seluruh bagian kaki kirinya untuk diamputasi karena banyak kehilangan darah. Cerita untuk @projectm_org Teks @rangga_zefsse
0 12
5 months ago