"Hah, ini emangnya ga terlalu mahal untuk hadiah ultah?"
Photobook ini bukan sekedar merchandise. Awal 2025,
@yoasobi_staff_ menggelar tur Asia. Saya &
@poto_pot dipercaya untuk jadi fotografer mereka di Singapura & Jakarta. Selama tur, Yoasobi bekerja sama dengan fotografer lokal masing2 negara dan foto-foto kami sebagian dicetak jadi photobook.
Fakta2 itu harusnya terasa membanggakan. Tp anehnya, kepala saya justru sibuk menghitung harganya, & bertanya2 apakah hadiah kejutan ultah dari istri ini pantas utk saya.
Nyonya Princess
@rispuut melihat saya gelisah bilang dengan lembut:
“Gapapa Mas, ini untuk ngingetin kalau penting juga bangga sama pencapaian Mas sendiri.”
Rasanya menohok sekali ya. Karena kalau dipikir, ini bukan kali pertama hasil kerjaan saya muncul di tempat yg dulu terasa mustahil; pameran foto di Jerman, cover majalah di Italia, website media di Jepang, videotron di depan Mall Senayan City, koran The Straits Times Singapura, bahkan pernah dicetak besar utk menghiasi dinding stasiun kereta di Jepang. Photobook ini juga bukan proyek kecil. #YOASOBI adalah salah satu band terbesar di Jepang saat ini.
Tp entah sejak kapan, saya terbiasa mengecilkan semua itu.
“Ya udah emang udah kerjaanku begitu”
“Masih banyak yang jauh lebih hebat ah”
Seolah mengakui pencapaian diri sendiri adalah sesuatu yg berbahaya;takut terdengar sombong, takut lupa diri.
Padahal mungkin itu hanya lupa memberi apresiasi ke diri sendiri. Tidak mudah juga sampai ke sini. Photobook itu akhirnya saya pahami bukan sebagai hadiah mahal, tapi sebagai arsip perjalanan. Bahwa ada lelah yang tidak sia-sia, walaupun mungkin seringkali saya hanya berjalan dalam diam saja.
Mungkin kita sering lupa untuk bangga pada diri sendiri karena terlalu terbiasa berjalan tanpa berhenti untuk menoleh ke belakang. Kita terus menuntut diri lebih jauh, tanpa sempat mengakui bahwa banyak langkah yang sudah kita tempuh sebenarnya tidak sederhana.
Mungkin kadang kita butuh orang lain untuk membantu kita melihat diri sendiri dengan lebih adil. Untuk berkata, “Ini layak kok dirayakan,” tanpa rasa bersalah.