LIFEGUARDS.ACEH

@lifeguards.aceh

Relawan Peduli Aceh Sumatra yang ingin berdonasi 👇👇👇👇 BSI. 7336890505 a.n Lifeguards Aceh
Followers
2,753
Following
137
Account Insight
Score
29.51%
Index
Health Rate
%
Users Ratio
20:1
Weeks posts
Recap dokumentasi kegiatan di bukit tempurung bersama relawan gabungan dari @penabulu.id @floweraceh @lifeguards.aceh
48 0
17 days ago
Banjir yang Tak Kunjung Surut, Tapi Hati Relawan Tak Pernah Padam Catatan dari Garis Depan: Enam Bulan Lifeguard Aceh & Flower Aceh Menyusuri Duka di Tamiang hingga Aceh Utara --- Bab 1: Saat Air Mulai Bicara Lebih Keras dari Takdir Akhir November 2025. Biasanya, penghujung tahun di Aceh Tamiang dihiasi hujan rintik yang menenangkan. Namun tahun itu beda. Hujan turun tanpa jeda—siang, malam, bahkan saat azan Subuh berkumandang. Air dari hulu Gunung Leuser mengalir deras, melompati tanggul-tanggul darurat, lalu merendam ribuan rumah dalam sekejap malam. Itulah kali pertama Lifeguard Aceh dan Flower Aceh menginjakkan kaki di lumpur yang dingin dan dalam. Mereka datang bukan dengan gembor-gembor, melainkan dengan koper kecil dan hati besar. Sebagai relawan, mereka tahu: tak ada waktu untuk bersiap. Yang ada hanyalah waktu untuk bertindak. "Awalnya kami hanya berpikir untuk bertahan seminggu. Eh, enam bulan kemudian kami masih di sini," ujar salah satu relawan sambil tersenyum lelah, matanya sayu tapi tetap bercahaya. --- Bab 2: Dapur Umum Pertama—Asap yang Menghangatkan Harapan Di hari-hari pertama, yang paling mendesak adalah perut. Anak-anak menangis karena lapar, ibu-ibu menggenggam tangan suami dengan tangan kosong. Maka, di tengah genangan setinggi lutut, para relawan mendirikan dapur umum darurat. Kompor besar, panci raksasa, dan sembako terbatas menjadi senjata utama. Bau bawang tumis, rempah, dan nasi hangat mulai menyebar. Perlahan, korban yang sempat tercerai-berai mulai berkumpul. Mereka duduk lesehan di atas tikar darurat, memegang piring berisi nasi dan lauk sederhana. Beberapa menangis sambil menyuap. Bukan karena makanan mewah, tapi karena ada yang masih peduli. Alhamdulillah, kami masih diberi kekuatan, kesehatan, dan kemampuan untuk terus membantu. Kalimat itu diulang-ulang setiap selesai shalat berjamaah di tenda pengungsian. --- Bab 3: Perjalanan Puluhan Kilometer Melintasi Luka Seiring waktu, kebutuhan korban bergeser. Tak hanya makanan siap saji. Mereka butuh peralatan untuk bangkit kembali—setidaknya untuk memasak sendiri, mencuci diri sendiri, dan merasakan sedikit kenyamanan di tengah nestapa.
23 0
19 days ago
Distribusi yang tak sekadar logistik—ini tentang harapan yang dijaga bersama. Bukit Tempurung bukan hanya titik di peta bencana, tapi rumah bagi 1.500 kepala keluarga yang hari ini sedang berjuang bangkit. Dari Dusun Mawar, Melati, Kenanga, Tanjung hingga Melur—luka yang sama, harapan yang sama. Kami hadir, membawa lebih dari sekadar bantuan. Kami membawa kepedulian, solidaritas, dan keyakinan bahwa mereka tidak sendiri. Setiap dus, setiap tetes air, setiap uluran tangan—adalah pesan: Kita tidak akan membiarkan mereka berjuang sendirian. Karena di tengah derasnya banjir bandang, kemanusiaan harus lebih deras mengalir. #DistribusiKemanusiaan #BukitTempurung #PeduliSesama #RelawanBergerak #1500KK AcehBangkit
44 2
23 days ago
Bencana tidak datang untuk ditakuti… tapi untuk dipahami dan dihadapi. Di Desa Babo Simpang Kiri dan Bukit Tempurung, Aceh Tamiang, langkah kecil hari ini sedang disusun untuk menyelamatkan masa depan. Karena ketangguhan bukan soal seberapa kuat kita saat bencana datang, tetapi seberapa siap kita sebelum itu terjadi. Edukasi dibangun. Kesadaran ditumbuhkan. Rencana disusun. Dan masyarakat bergerak bersama. Inilah wajah desa tangguh: bukan hanya bertahan, tapi bangkit lebih kuat. Satu langkah kecil hari ini, bisa menyelamatkan banyak nyawa esok hari. Mari kenali risiko, kurangi dampak, dan jaga satu sama lain. Karena keselamatan bukan urusan individu, tapi tanggung jawab bersama. #SiagaBencana #DesaTangguh #AcehTamiang #MitigasiBencana #BersamaKitaSelamat RelawanBergerak PerempuanBerdaya AksiNyata
48 1
25 days ago
Kumpulan kabar dari lapangan— tentang bencana, dan kepedulian yang tetap berjalan.
45 0
27 days ago
Pak @prabowo gimana ne Dana JADUB apakah sudah tersalurkan semua ke korban banjir ? Mereka masih ingin menunggu sampai hari ini.
35 0
29 days ago
Dulu, harapan di Simpang Kiri hampir padam. Bukan karena mereka lemah, tapi karena terlalu sering dibiarkan menunggu—menunggu janji yang datang dan pergi, menunggu kabar yang selalu sama: “Aceh baik-baik saja.” Padahal, di sudut-sudut kampung itu, luka belum benar-benar sembuh. Air pernah datang, membawa kehilangan. Dan setelahnya, yang tersisa adalah sepi… tanpa kepedulian. Namun hari ini, cerita itu berubah. Bantuan bukan lagi sekadar janji. Ia datang dalam langkah nyata. Dalam peluh para relawan. Dalam tangan-tangan yang memilih hadir, bukan sekadar bicara. Dari teman-teman luar biasa: @floweraceh @infopenabulu @lifeguards.aceh Mereka bukan sekadar relawan. Mereka adalah bukti bahwa harapan tidak pernah benar-benar mati—ia hanya menunggu untuk dijemput. Simpang Kiri hari ini punya cerita. Tentang luka yang perlahan dipeluk. Tentang harapan yang kembali dinyalakan. Dan tentang manusia-manusia yang memilih untuk tidak menutup mata. Karena sejatinya, kemanusiaan tidak pernah butuh janji. Ia hanya butuh keberanian untuk hadir.
29 2
29 days ago
Hari ini kami tidak sekadar datang—kami menyusuri, mendengar, dan belajar. Bersama tim Lifeguards Aceh dan Flower Aceh, kami menelusuri sudut-sudut kampung yang mungkin tak pernah masuk peta perhatian. Dipandu oleh akamsi, Chibby—anak kampung yang hafal setiap jalan, setiap cerita, setiap luka di tanah ini. Dan di sana, kami bertemu kekuatan yang tak bisa diukur dengan logika bantuan. Seorang ibu, mewakili suara perempuan-perempuan di sini, berkata dengan tenang: “Kami kehilangan segalanya… tapi kami masih bisa tertawa.” Kalimat itu sederhana. Tapi menghantam keras. Di tengah rumah yang hilang, di tengah hidup yang porak-poranda, mereka tidak memilih menyerah. Mereka memilih tertawa. Bukan karena tak sedih—tapi karena mereka lebih kuat dari kesedihan itu. Itu bukan tawa biasa. Itu adalah bentuk paling jujur dari keteguhan. Itu bukan sekadar ikhlas. Itu perlawanan. Jujur… ini gila sih. Keren banget. Di saat banyak dari kita runtuh hanya karena hal kecil, mereka berdiri di atas kehilangan yang nyata—dan tetap punya alasan untuk tersenyum. Aceh hari ini bukan cuma tentang bencana. Tapi tentang perempuan-perempuan hebat yang mengajarkan kita arti bertahan, arti kuat, dan arti menerima tanpa kehilangan harapan.
47 0
1 month ago
Di sudut-sudut terpencil Sawang, Aceh Utara, waktu seolah berhenti bagi mereka yang terdampak banjir. Berbulan-bulan telah berlalu, namun luka itu belum juga sembuh. Hari ini, tim dar Flower Aceh, Lifeguards Aceh, Penabulu-Oxfam kembali turun langsung melakukan pemantauan. Yang kami temukan bukan sekadar sisa bencana—melainkan potret panjang tentang ketertinggalan. Masih ada keluarga yang bertahan di tenda pengungsian. Masih ada ibu-ibu yang memasak di atas tanah basah. Masih ada anak-anak yang tumbuh tanpa kepastian, tanpa ruang aman yang layak disebut rumah. Di tengah segala keterbatasan itu, mereka bertahan—bukan karena kuat, tapi karena tidak punya pilihan lain. Pertanyaannya sederhana, tapi mengguncang: di mana negara ketika rakyatnya masih hidup di bawah terpal? Pemulihan bukan sekadar angka dalam laporan. Ia seharusnya hadir dalam bentuk rumah yang kembali berdiri, kehidupan yang kembali pulih, dan rasa aman yang kembali dirasakan. Namun realitas di Sawang berkata lain. Yang bergerak justru relawan, yang datang justru mereka yang tak punya kuasa, tapi punya kepedulian. Sudah saatnya kita berhenti bicara tentang “Aceh sudah pulih” jika di pelosok-pelosoknya masih tersisa penderitaan yang tak terlihat. Karena bagi mereka yang masih menunggu, pemulihan itu belum pernah benar-benar datang.
36 1
1 month ago
7 April 2026. Hampir empat bulan pascabanjir… tapi di Desa Babo, waktu seakan berhenti. Saya, Reza Maulana—bersama Kak Yanti—kembali turun ke lapangan. Bukan sekadar melihat, tapi menyaksikan langsung: rumah-rumah yang masih dipenuhi lumpur, sudut-sudut yang belum tersentuh, dan kehidupan yang masih berjuang bangkit sendiri. Rumah yang kami datangi ini menjadi saksi—bahwa pemulihan belum merata. Di balik narasi “Aceh sudah pulih”, masih ada realitas yang belum selesai. Lalu pertanyaannya: di mana letak keadilan pemulihan itu? Apakah pembangunan benar-benar menyentuh semua… atau hanya terlihat di permukaan? Bencana tidak selesai saat air surut. Pemulihan adalah tentang kehadiran—nyata, merata, dan berkelanjutan. Dari Desa Babo, kita diingatkan: bahwa suara dari pelosok tidak boleh diabaikan. Dan kemanusiaan… tidak boleh berhenti pada pencitraan. #AcehTamiang #DesaBabo #PascaBanjir #SuaraDariPelosok #KeadilanSosial PemulihanNyata
50 2
1 month ago
Cerita dari nisa tentanf desa yang hilang. Dengan kegigihan masyarakatnya yang tetap ceria meski kehilangan rumah.
79 4
1 month ago
Langkah kami terhenti di Lhok Pungki, Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Dulu, desa ini adalah potret keindahan: hijau yang menenangkan, air yang jernih, dan kehidupan yang damai. Hari ini, yang tersisa hanya sunyi—tanpa penghuni, tanpa tawa, tanpa kehidupan. Tak ada lagi suara anak-anak. Tak ada lagi asap dapur yang mengepul. Hanya serpihan batu dan kayu yang menjadi saksi: pernah ada kehidupan di sini. Konten kreator reza maulana datang bukan sekadar merekam, tapi mengingatkan—bahwa di balik angka-angka bencana, ada desa yang benar-benar hilang dari peta kehidupan. Lhok Pungki kini bukan hanya desa yang kosong, tapi luka yang belum selesai. Thanks for cameramen 🎥 @chyrunnisaa #AcehUtara #Sawang #LhokPungki #DesaHantu #JejakBencana Kemanusiaan
164 114
1 month ago