Dalam rangka 8 tahun kegiatan Internasional loving Peace Art Competition ( ILPAC), Internasional Women Peace Group (IWPG) bekerjasama dengan lembaga-lembaga yang anggotanya di Aceh kembali mengadakan kegiatan perlombaan menggambar dengan tema:
MY Peace Story ( kisah Perdamaianku).
Perlombaan ini di tujukan bagi peserta anak- anak dan remaja mulai SD, SMP dan SMA.
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:
Tanggal/ hari : Sabtu, 20 Juni 2026
Waktu : 8.00-12.00 wib
Tempat : Madrasah Ibtidaiyah Negeri 27 Lambaro, Jl. Banda Aceh-Medan Lambaro Aceh Besar.
Pendaftaran ini dibuka bagi seluruh putri, putra dan remaja provinsi Aceh.
Mari daftarkan segera putri, putra dan remaja anda untuk mengikuti perlombaan menggambar ini. Bagi yg berdomisili di Banda Aceh dan Aceh besar bisa datang langsung ke alamat tempat perlombaan dilaksanakan, sedangkan bagi peserta yg berada di luar daerah bisa mengikuti perlombaan ini melalui via online pada tanggal 23 Juni 2026.
Dapatkan Sertifikat dalam perlomban Internasional Loving Peace Art Competition (ILPAC) dari Internasional Women Peace Group (IWPG).
Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi :
Agustina ( 085260258446)
Wulan Tursina (081376438385)
Rosma (081237384410)
Hal yang sering dianggap ābiasaā ternyata bisa jadi bentuk kekerasan.
Mulai dari sentuhan tanpa izin, candaan seksis, sampai komentar di media sosial yang merendahkan perempuan.
Karena seksisme tidak selalu datang dengan suara keras, kadang hadir lewat hal-hal yang dinormalisasi setiap hari.
#stopkekerasan #stopseksisme #ruangaman #womensupportwomenā¤ļø
Berani melangkah, bersuara, dan memimpin perubahan āØ
Mari bergabung dalam Diskusi Kritis: Kepemimpinan Perempuan Muda bersama narasumber inspiratif dan moderator yang luar biasa. Ruang ini terbuka untuk kamu yang ingin belajar, berbagi, dan tumbuh bersama dalam kepemimpinan š¬š±
š Jumat, 8 Mei 2026
ā° Pukul 14.00 WIB
š Zoom Meeting
Jangan lewatkan kesempatan untuk memperluas perspektif dan memperkuat peranmu sebagai Perempuan muda yang berdampak šŖ
#PerempuanMuda #Kepemimpinan #DiskusiKritis #PerempuanBerdaya #womenleadership
[UNDANGAN]
āDiseminasi Hasil Rapid Gender Assessment (RGA) di area terdampak Banjir Sumatera Utara dan Acehā
Koalisi Womanās Local Humanitarian Leaders (WLHL) telah mengembangkan tools dan melakukan Rapid Gender Analysis (RGA) di area terdampak banjir Sumatera pada JanuariāFebruari 2026. Kegiatan ini dilakukan melalui kolaborasi Asosiasi LBH APIK Indonesia, Kalyanamitra, Perkumpulan Lingkar, Dompet Dhuafa, LBH APIK Aceh, Flower Aceh, dan LBH APIK Medan.
RGA ini berfokus pada 3 isu utama, yaitu: (1) perlindungan, (2) kerja perawatan, dan (3) pengambilan keputusan. Selain itu, YAPPIKA-ActionAid bersama BITRA Indonesia juga melakukan RGA di Tapanuli Utara terkait kontribusi perempuan komunitas, perlindungan perempuan dan anak, serta pelokalan kerja kemanusiaan.
Hasil RGA ini diharapkan menjadi bahan masukan penting dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak banjir.
Oleh karena itu, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara untuk hadir dalam kegiatan Diseminasi Temuan RGA yang dilakukan oleh Koalisi WLHL maupun YAPPIKA-ActionAid bersama BITRA, yang akan diselenggarakan pada:
š Hari/Tanggal: Selasa, 5 Mei 2026
š Waktu: 09.00 WIB ā selesai
š Tempat: Zoom Meeting
š Link: bit.ly/Zoom_DiseminasiHasilRGA
Meeting ID: 895 7584 2091
Passcode: 171060
Mohon mengisi konfirmasi kehadiran melalui:
https://bit.ly/KonfirmasiPeserta_DiseminasiHasilRGA
atau menghubungi WhatsApp Nita: 081222790169.
Kerangka acuan kegiatan kami lampirkan, sedangkan bahan diseminasi akan disampaikan setelah konfirmasi dilakukan.
Besar harapan kami atas kehadiran Bapak/Ibu/Saudara. Atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan terima kasih š
Hari Buruh bukan hanya tentang pekerjaan.
Tapi tentang siapa yang masih harus berjuang lebih keras untuk hal yang sama.
Perempuan bekerja bukan hanya mencari nafkahā
tapi juga menghadapi ketimpangan, stereotip, dan ruang yang belum selalu aman.
Hari ini, kita tidak hanya merayakan.
Kita juga terus menyuarakan.
#hariburuh #perempuanbekerja #mayday
Banjir yang Tak Kunjung Surut, Tapi Hati Relawan Tak Pernah Padam
Catatan dari Garis Depan: Enam Bulan Lifeguard Aceh & Flower Aceh Menyusuri Duka di Tamiang hingga Aceh Utara
---
Bab 1: Saat Air Mulai Bicara Lebih Keras dari Takdir
Akhir November 2025. Biasanya, penghujung tahun di Aceh Tamiang dihiasi hujan rintik yang menenangkan. Namun tahun itu beda. Hujan turun tanpa jedaāsiang, malam, bahkan saat azan Subuh berkumandang. Air dari hulu Gunung Leuser mengalir deras, melompati tanggul-tanggul darurat, lalu merendam ribuan rumah dalam sekejap malam.
Itulah kali pertama Lifeguard Aceh dan Flower Aceh menginjakkan kaki di lumpur yang dingin dan dalam. Mereka datang bukan dengan gembor-gembor, melainkan dengan koper kecil dan hati besar. Sebagai relawan, mereka tahu: tak ada waktu untuk bersiap. Yang ada hanyalah waktu untuk bertindak.
"Awalnya kami hanya berpikir untuk bertahan seminggu. Eh, enam bulan kemudian kami masih di sini," ujar salah satu relawan sambil tersenyum lelah, matanya sayu tapi tetap bercahaya.
---
Bab 2: Dapur Umum PertamaāAsap yang Menghangatkan Harapan
Di hari-hari pertama, yang paling mendesak adalah perut. Anak-anak menangis karena lapar, ibu-ibu menggenggam tangan suami dengan tangan kosong. Maka, di tengah genangan setinggi lutut, para relawan mendirikan dapur umum darurat. Kompor besar, panci raksasa, dan sembako terbatas menjadi senjata utama.
Bau bawang tumis, rempah, dan nasi hangat mulai menyebar. Perlahan, korban yang sempat tercerai-berai mulai berkumpul. Mereka duduk lesehan di atas tikar darurat, memegang piring berisi nasi dan lauk sederhana. Beberapa menangis sambil menyuap. Bukan karena makanan mewah, tapi karena ada yang masih peduli.
Alhamdulillah, kami masih diberi kekuatan, kesehatan, dan kemampuan untuk terus membantu.
Kalimat itu diulang-ulang setiap selesai shalat berjamaah di tenda pengungsian.
---
Bab 3: Perjalanan Puluhan Kilometer Melintasi Luka
Seiring waktu, kebutuhan korban bergeser. Tak hanya makanan siap saji. Mereka butuh peralatan untuk bangkit kembaliāsetidaknya untuk memasak sendiri, mencuci diri sendiri, dan merasakan sedikit kenyamanan di tengah nestapa.
Distribusi yang tak sekadar logistikāini tentang harapan yang dijaga bersama.
Bukit Tempurung bukan hanya titik di peta bencana, tapi rumah bagi 1.500 kepala keluarga yang hari ini sedang berjuang bangkit. Dari Dusun Mawar, Melati, Kenanga, Tanjung hingga Melurāluka yang sama, harapan yang sama.
Kami hadir, membawa lebih dari sekadar bantuan. Kami membawa kepedulian, solidaritas, dan keyakinan bahwa mereka tidak sendiri.
Setiap dus, setiap tetes air, setiap uluran tanganāadalah pesan:
Kita tidak akan membiarkan mereka berjuang sendirian.
Karena di tengah derasnya banjir bandang, kemanusiaan harus lebih deras mengalir.
#DistribusiKemanusiaan #BukitTempurung #PeduliSesama #RelawanBergerak #1500KK AcehBangkit
Keuchik dan Ketua TP. PKK Gampong Alue Deah Teungoh mengikuti kegiatan FGD Hari Kartini yang di selenggarakan oleh Flower Aceh dalam rangka membahas pencegahan perkawinan usia dibawah 19 tahun, demi melindungi hak perempuan untuk tumbuh, belajar dan meraih masa depan yang lebih baik.
Jumāat, 24 April 2026
Bencana tidak datang untuk ditakuti⦠tapi untuk dipahami dan dihadapi.
Di Desa Babo Simpang Kiri dan Bukit Tempurung, Aceh Tamiang, langkah kecil hari ini sedang disusun untuk menyelamatkan masa depan.
Karena ketangguhan bukan soal seberapa kuat kita saat bencana datang,
tetapi seberapa siap kita sebelum itu terjadi.
Edukasi dibangun.
Kesadaran ditumbuhkan.
Rencana disusun.
Dan masyarakat bergerak bersama.
Inilah wajah desa tangguh:
bukan hanya bertahan, tapi bangkit lebih kuat.
Satu langkah kecil hari ini, bisa menyelamatkan banyak nyawa esok hari.
Mari kenali risiko, kurangi dampak, dan jaga satu sama lain.
Karena keselamatan bukan urusan individu, tapi tanggung jawab bersama.
#SiagaBencana #DesaTangguh #AcehTamiang #MitigasiBencana #BersamaKitaSelamat RelawanBergerak PerempuanBerdaya AksiNyata
Kartini hari ini tidak lagi diam.
Sejak dulu, perempuan sering dipertanyakan tentang mimpi, pilihan, bahkan masa depannya sendiri. Kata-kata yang meremehkan itu mungkin terdengar kecil, tapi terus diulang sampai seolah jadi batas.
Hari ini, batas itu kami sobek.
Kami bukan lagi mereka yang dipertanyakan.
Kami adalah jawaban.
Kartini masa kini tidak menunggu ruang diberikan kami menciptakannya, bersama.
#kartinimasakini #harikartini2026 #perempuanberdaya #breakthebias #womenriseup
Menjadi perempuan hari ini adalah tentang pilihanāuntuk bermimpi, berkarya, dan tetap menjadi diri sendiri.
Kartini tidak hanya dikenang, tapi hidup dalam setiap langkah kita. šø
#HariKartini #perempuanberdaya #kartinimasakini #perenpuanhebat