Pada tahun 1970, Jean-Luc Godard dan Anne-Marie Miéville pergi ke Yordania untuk merekam cuplikan militan Palestina yang awalnya ditujukan sebagai film pro-Palestina bagi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Tak lama kemudian, para militan tersebut gugur dalam perang saudara Yordania dan proyek tersebut ditinggalkan. Empat tahun kemudian, kedua pembuat film tersebut meninjau kembali cuplikan tersebut dalam karya berjudul Ici et ailleurs (1976).
Dengan menggabungkan gambar yang diambil di Yordania (ailleurs/di sana) dan gambar keluarga Prancis yang sedang menonton televisi (ici/di sini), Godard dan Miéville menciptakan sebuah film kritis-diri yang memaparkan bagaimana gambar bekerja dan bagaimana kamera seringkali menyembunyikan realitas, alih-alih mengungkapkannya.
________________________________________________________
Manifesto ini ditulis Jean-Luc Godard dengan judul asli "Jusqu'à la victoire" di jurnal El Fatah (Paris, Juli-1970). Diterjemahkan pada 2024 oleh @nayamullah (@gracesamboh ) dari learningpalestine.net
Selamat membaca senirupa.id
Terjemahan perdana ini mengawali rubrik "Saduran" @senirupaid yang dikelola oleh @hyphendotwebdotid
Nayamullah Station akan menerbitkan sepilihan naskah hasil terjemahan mereka dari learningpalestine.net setiap bulan sekali, pada hari Rabu terakhir.
Simak pengantarnya: https://senirupa.id/saduran/naystaxlpdotnet-pengantar/
HINGGA KEJAYAAN TIBA
_______________________________________________________
Penulis: Jean-Luc Godard
Saduran: Nayamullah (Grace Samboh)
Penyelaras: Hyphen— dan Adhi Pandoyo
Desain: Zubaid Hasan
#senirupaid #jeanlucgodard #hyphendotwebdotid #nayamullah #learningpalestine
[Listening session]
Alkisah… (Once upon a time…)
7 Feb 2026
2–5pm
Level 1, Gallery 1, SAM at Tanjung Pagar Distripark, Singapore
Join us for the Alkisah… (Once upon a time…) listening session, where we will feature a special guest storyteller, Presiden Tidore, alongside a showcase of podcasts created by workshop participants and storytellers:
Euginia Tan
Muhammad Masuri Bin Mazlan
Nicole Bruma
Sofia Marliini Heikkonen
Tricia Sin Sze En
ulfah irdina binte affandi
Valentina Conchie
Wee Yi Li Grace
This session invites attendees to explore new ways of experiencing and interpreting art through personal narratives that reflect the storytellers’ unique encounters with the Singapore Biennale exhibition at the Singapore Art Museum. It is a unique opportunity to discover how storytelling captures the essence of an exhibition, practice new methods of reflective listening, and engage in a vibrant conversation with the creators about their diverse artistic viewpoints and creative processes.
Register here:
#Tokohtokohpengabdiandanperadaban #Figuresdedicationsandcivilisations #PresidenTidore #Alkisah
#singaporebiennale2025
Berangkat dari percakapan antara penabuh-drum-sekaligus perupa Togar dengan Oni, penyanyi-serta-pegiat-kemanusiaan dari Aceh, yang membawa suara, ingatan, dan pengalamannya ke dalam BIOSPOKE garapan Togar, karya ini berupaya mengubah galeri menjadi persilangan antara studio dan layar, tempat kerja, pemutaran, dan percakapan berkelindan.
Di atas denyut tetap pukulan Togar—sebagian detak, sebagian panggilan untuk bersaksi—Oni menenun kisah tentang keberanian dan keberulangan: para janda-prajurit dari armada Inong Balee di bawah Laksamana Keumalahayati, maklumat perang Aceh tahun 1873 yang tak pernah dicabut, jejak para sultanah Aceh yang terhapus, dan ratusan tahun pendiaman aksi kekerasan terhadap tubuh perempuan—sebagai senjata perang.
Sesuatu yang nyata, sesuatu yang diabaikan (2025) karya Julian Abraham ‘Togar’ dan Oni Imelva akan ditayangkan pada 18 Januari 2026 pukul 19.00 WIB di Kiniko Art Space,
Yogyakarta. Pemutaran akan diikuti dengan sesi diskusi bersama Mirisa Hasfaria dan Nya Ina Raseuki (Ubiet).
Mirisa Hasfaria, peneliti dan aktif dalam kerja advokasi kesetaraan gender dan keadilan sosial. Penerima Fulbright Tsunami Relief Initiative Scholarship ini meraih gelar Master dari University of Arkansas. Mirisa pernah terlibat di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias (2006-2009). Saat ini ia juga aktif menjadi kontributor di platform media alternatif seperti Konde.co dan Magdalene.
Nya Ina Raseuki akrab dipanggil Ubiet, adalah pesuara, improviser, komposer, dan etnomusikolog dengan fokus pada eksplorasi suara dan nyanyian Nusantara. Ia menempuh
pendidikan di University of Wisconsin–Madison, Amerika Serikat, dan meraih gelar Master of Music serta Ph.D. dalam Etnomusikologi. Ubiet kini mengajar di Sekolah Pascasarjana
Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Acara ini diselenggarakan bersama oleh Forum Film Dokumenter, Kiniko Art Space, SaRanG Art + Books, dan Hyphen—
▶︎ •၊၊||၊||။ • Sonic Shaman 2026: Borderless •၊၊||၊||။ •◀
🌔 Julian Abraham “Togar” (Yogyakarta) + Oni Imelva (Banda Aceh) 🌖
Like WAYANG(Indonesian shadow puppetry)some stories only appear when light hits them just right.✨
Drummer-artist Julian Abraham “Togar” and vocalist–human rights advocate Oni Imelva meet in a live improvisation that brings rhythm, voice, and memory into the same space. Drawing from the spirit of hikayat (epic storytelling) and the cultural lineage of wayang, the performance listens where things have been overlooked, and gives sound to places long held in silence.
Alongside drums and voice, a self-built automated drumming machine created by Togar joins the performance. Rhythms are played, repeated, and interrupted—responding to the movement of bodies and voices, blurring the boundary between human and machine.
Part ritual, part assembly.
Sound here is not only heard, but felt—and remembered.
📍 Singapore Art Museum, Tanjong Pagar Distripark
🗓 23–25 January 2026
🎟 Free admission
More info: https://sonicshaman.live/
▶︎ ─•────
#JulianAbrahamTogar #OniImelva #SonicShaman #聲波薩滿
#ArtFestival #LiveArt #ExperimentalMusic #Wayang #Hikayat
#LivePerformance #ArtAndMusic
#SingaporeArtWeek #SingaporeArtMuseum
▶︎ •၊၊||၊|။||||။၊|• ❚❚ •၊၊||၊|။||||။၊|•◀
🌔 Julian Abraham “Togar”(日惹)+ Oni Imelva(亞齊)🌖
就像印尼皮影戲(wayang)——
有些故事,只有在光照下才會浮現 。✨
鼓手兼藝術家Togar與人權行動者、吟唱者Oni Imelva的現場即興,把節奏、聲音與記憶拉進同一個空間。透過傳說史詩敘事(hikayat)的敘事精神與印尼皮影戲(wayang)的文化脈絡,這場演出在被遺忘之處傾聽,在歷史失語之處發聲。
現場除了鼓與人聲,還有Togar打造的一組自動打鼓機械裝置加入演出。節奏被播放、重複、打斷,像是在回應人聲與身體的律動,讓人與機器之間的界線變得模糊。
既是儀式,也是集結。
聲音不只是被聽見,而是被感受到、被記住。
📍 新加坡美術館(丹戎巴葛貨物轉運園區)
🗓 2026.01.23–01.25
🎟 免費入場
更多資訊: https://sonicshaman.live/
Tokoh-tokoh, pengabdian, dan peradaban
[Figures, dedications, and civilisations]
Griya Seni Hj. Kustiyah Edhi Sunarso
Jl. Melati No. 72, Nganthi, Sleman, Yogyakarta
STORAGE DISPLAY OPEN UNTIL 29 March 2026
By appointment via @kus.griyaseni
Sesudah banjir itu (When the flood is over) begins with a question of conservation: How to care for the vast cycle of dioramas at Museum Sejarah Nasional (National History Museum), located beneath Monumen Nasional? Produced under the supervision of sculptor Edhi Sunarso during the political upheavals of the mid-1960s–1970s, these dioramas narrate the formation of the Indonesian nation-state.
In 2007, a collective of historians proposed revisiting and revising the dioramas, but nothing came of this proposal. In 2018, the Jakarta City Government selected an architect through an open call to renew the museum as an “immersive experience.” The chosen design would have completely erased the dioramas. This idea was shelved, but this decision could be revoked at any time—a latent threat hanging over the museum. By 2025, the new regime has made clear its intent to rewrite national history. In this climate, Sesudah banjir itu takes shape as a pre-emptive, citizen-led act of conservation: Refusing erasure by remaking—rather than replacing—the figures on our own terms.
Sesudah banjir itu is initiated and carried out by a group of civilians working through a principle of conviviality. Conservation here is recognized as a long-term, perhaps endless, process: Copying the diorama figures by hand, one at a time, to slowly generate sets to be stored in Edhi Sunarso’s former studio, where they were first made. The first set is painted and circulated in exhibitions as a provocation, a campaign, and a call. The second set—still in their molds, left unpainted—is held in perpetuity at Griya Seni Hj. Kustiyah Edhi Sunarso, awaiting the moment they may need to stand in the place of the originals.
#Tokohtokohpengabdiandanperadaban #Figuresdedicationsandcivilisations AryJimgedSendy
Anusapati AufaAriaputra JulianAbrahamTogar Nasikin OmarAryarindra TomNicholson GriyaSeniHjKustiyahEdhiSunarso Hyphen
Tokoh-tokoh, pengabdian, dan peradaban
[Figures, dedications, and civilisations]
RUBANAH Underground Hub
Wisma Geha — basement
Jl. Timor No.25 Menteng, Jakarta
EXHIBITION OPENS UNTIL 12 December 2025
Tue-Sun, noon – 7pm (closed on Monday)
We figure that dedication is an intriguing quality. Here, at RUBANAH, we turn to what lies beneath form—the patient attention that allows things to exist. Can we pause to honour the quiet labour behind every act of making? The hands that touch clay, the ears that listen, the eyes that adjust to darkness, the breath that steadies repetition. Here, devotion replaces monumentality. Dedication is not about grand gestures, but about returning—again and again—to the work.
Dedication is therefore about practice as persistence: the eagerness to learn, to unlearn, to begin again. The refusal to stop at mastery. The willingness to stay with what is unfinished. In this devotion to process, making becomes a form of prayer—wordless yet attentive, humble yet enduring.
In the underground quiet of RUBANAH, these devotions find resonance. Not as spectacle, but as pulse: small, continuous, alive. To dedicate, here, is to keep working—not toward perfection, but toward connection.
#Tokohtokohpengabdiandanperadaban #Figuresdedicationsandcivilisations #AryJimgedSendy
#Anusapati #JulianAbrahamTogar #JuliaSarisetiati #Nasikin #PresidenTidore #Titarubi #GriyaSeniHjKustiyahEdhiSunarso #Hyphen #OniImelva #KinezRiza #RiksaAfiaty
#RUBANAH #RUBANAHUndergroundHub
(Freedom of the sentient beings)
Pameran bertiga Sriyani, Siti Ruliyati, dan Kustiyah
“Lahirnya kesadaran kebangsaan pada permulaan abad sekarang ini, menghidupkan pula kesadaran kemanusiaan Indonesia. Dan ini menjadi hak-hak kebebasannya sebagai manusia perasa.” —Oei Sian Yok, 1960
Bagi Sriyani, Siti Ruliyati, dan Kustiyah, potret, binatang, maupun benda sehari-hari adalah ruang perasaan yang diolah dengan tangan, bukan sekadar citra untuk dikenali. Mereka menafsir ulang kedekatan dan jarak: Manusia dan binatang, hidup dan benda, diri dan lingkungan. Bentuk tubuh, sorot mata, hingga irama garis menjadi tempat bersemayamnya jiwa rupa—suatu kebebasan dalam mewujud rasa.
Di tengah keseharian yang memuja kecepatan dan kesempurnaan, karya-karya ini mengingatkan kita bahwa kebebasan justru ada dalam kelembutan—dalam cara garis mencari bentuknya, warna menunggu keringnya, dan tangan memahami ritme bahan. “Kebebasan manusia perasa” mengajak kita untuk berhenti sejenak, memperhatikan, dan merasakan bagaimana seni, seperti kehidupan, menjadi indah justru ketika ia berguna, hidup, dan penuh rasa.
ACKNOWLEDGEMENTS/TERIMA KASIH PADA
Griya Seni Hj. Kustiyah Edhi Sunarso @kus.griyaseni
The estate of Siti Ruliyati
Museum Universitas Pelita Harapan @museum_uph
and
Amir Sidharta @senirupa
Annie Hendrotomo
Ardhi Iswansyah @ardhiswansyah
Ari Wisnuwardana
Batara Yudistira
Ditya Sarasiastuti @dityasarasiastutikustiyah
Gie Sanjaya @giesanjaya
Joga Gunadharma & Yuni Insiyah
Krisno Dewanto
Satya Rasa Sunarso
Titiana Irawani @titianairawani
#Koestijah #kustijah #Kustiyah #pelukiskustiyah #srijani #srijanihoedjonoto #sriyani #sriyanihudyonoto #SitiRoelijati #SitiRuliyati #SitiRulijati #hyphendotwebdotid #gajahgallery
Apa arti demokrasi hari ini? Buatmu, buat kami, buat saya, buat mereka, buat kita? Dimanakah kita dalam laku demokrasi hari ini? Apa peran seni dalam laku demokrasi? Kenapa membaca buku dalam keadaan genting, was-was, atau, bahkan, lapar?
[GALUR] adalah sebuah pelantar tatap muka untuk saling berbagi bacaan, bercakap-cakap mengenai buku, kerja, kinerja, dan praktik artistik kiwari. Secara harfiah, [GALUR] berarti suatu lekuk yang memanjang (biasanya di sawah): suatu alur yang dapat disusuri. Kata ini kami gunakan untuk memayungi kegiatan silaturahmi ke ruang-ruang yang menyimpan rak-rak buku yang memantik rasa penasaran kami.
Dalam edisi [GALUR] awal September lalu, kami bertandang ke perpustakaan Melek Huruf, membaca buku dan katalog pameran:
● Palestine oleh Joe Sacco (Bandung: Mizan, 2003)
● Yang tercinta (Jakarta: Yayasan Oktagon, 2005)
● Para sekutu yang tidak bisa berkata tidak (Jakarta: Goethe-Institut, 2022)
● Catatan kaki dari Gaza oleh Joe Sacco (Jakarta: Gramedia, 2024)
Diskusi yang berlangsung hangat pada siang hari itu, memperlihatkan satu benang merah: bahwa seni, baik dalam bentuk komik maupun pameran, dapat menjadi sarana untuk memahami, mengingat, dan menegosiasikan nilai-nilai kemanusiaan. Terima kasih @melek.huruf yang telah berbaik hati mengizinkan kami meminjam dan membaca koleksi bukunya!
Dokumentasi foto oleh @hyphendotwebdotid & @melek.huruf
#galur #melekhuruf #melekhurufmagelang #silaturahmi #rakbukutetangga #hyphendotwebdotid
Come and watch with us on Sunday! Togar & Oni will be present, and Grace will moderate our conversation after the screening!
///
The film unfolds as a conversation between artist-cum-drummer Togar and human rights advocate-cum-vocalist Oni, who brings her voice, memory, and experience from Aceh into Togar’s BIOSPOKE—an attempt at space-making, converting the gallery into a hybrid of studio and cinema, where production, distribution, and conversation converge. Between percussion and voice, hikayat becomes both method and resistance: a way to listen where the state forgets, and to remember where history falters.
The automated percussion system AADC #16 (Acoustic Analogue Digitally Composed #16)—visible behind the projection screen—extends this dialogue. It plays back, repeats, and interrupts, its rhythms automated yet responsive, blurring the lines between machine and body, echo and memory. Against the steady pulse of Togar’s drums—part heartbeat, part call to witness—Oni weaves stories of courage and recurrence: the widow-warriors of Laksamana Keumalahayati’s Inong Balee fleet, the unrevoked 1873 Aceh War declaration, the erased histories of Aceh’s sultanahs, and the long silence surrounding sexual violence as a weapon of war. Researcher-cum-producer Grace Samboh situates Oni’s words as they reclaim: this is not a story of suffering, but of endurance and courage. Through rhythm, silence, and attention, the film insists: to listen is to act; to remember, a form of justice.
#RUBANAH #RUBANAHUndergroundHub #Tokohtokohpengabdiandanperadaban #Figuresdedicationsandcivilisations #Hyphen #screening #hyphendotwebdotid
🇵🇸Kilas balik LOKA-LOKA Perhimpunan Penerjemahan bersama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 🇵🇸
Empat cerpen Danarto dari buku “Dari Yerusalem ke Armageddon” kini sudah tersedia dalam Bahasa Arab! Diterjemahkan oleh para mahasiswa dan didampingi oleh para dosen dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Juni-Juli lalu. Kegiatan ini juga dilaksanakan atas kerjasama dengan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
● Cerpen “Armageddon” yang terbit pertama kali pada Juni 1969 di Majalah Horison, diterjemahkan oleh Muhammad Zaid;
● Cerpen “Unta masuk lubang jarum” yang terbit pertama kali pada 8 Maret 2009 di Harian Jawa Pos, diterjemahkan oleh Yus Ramadhani;
● Cerpen “Bintang Betlehem” yang terbit pertama kali pada 28 Desember 2008 di Harian Jawa Pos, diterjemahkan oleh Jasmiko; dan
● Cerpen “Terowongan” yang terbit pertama kali pada Desember 1996 di Majalah Matra, diterjemahkan oleh Firyal Nafisa Nurfariha.
Penerjemahan ini adalah upaya melatih kesetiakawanan yang telah dimulai Danarto sejak ia menulis cerita-cerita seputar Palestina, lebih dari setengah abad lalu. Terima kasih banyak kepada seluruh anggota perhimpunan penerjemahan yang terlibat!
#LokaLoka #PerhimpunanPenerjemahan #BahasaArab #Danarto #Danartodkk #DYkA #FJtA #hyphendotwebdotid #DariYerusalemkeArmageddon #FromJerusalemtoArmageddon #minyarusaaliimilaarmaagiiduun # مِن يرُوشَاليِمْ إِلٰى أَرمَاغِيدُون
Tokoh-tokoh, pengabdian dan peradaban
An exhibition by
RUCI Art Space x RUBANAH Underground Hub x Griya Seni Hj. Kustiyah Edhi Sunarso x Hypen
📍RUBANAH Underground Hub
JKT ART HUB Geha, basement
Jl. Timor No.25
Central Jakarta
🗓️ Exhibition period
Oct 25 - Dec 12, 2025
Tue - Sun, 12 - 7pm
📍RUCI Art Space
Jl. Senayan 63-65
South Jakarta
🗓️ Exhibition period
Oct 25 - Nov 23, 2025
Tue - Sun, 12 - 7pm
#art #artexhibition #artgallery #pameranjakarta #indoartnow
RUCI x RUBANAH x Griya Seni Hj. Kustiyah Edhi Sunarso x Hyphen— presents
Tokoh-tokoh, pengabdian, dan peradaban
[Figures, dedications, and civilisations]
At once noun and verb, figure refers to both a person and a process—an image and an act of thinking. “Tokoh-tokoh, pengabdian, dan peradaban” unfolds across four interconnected sites—each forming part of a single body of work. Together, these sites trace an ongoing conversation around Sesudah banjir itu (When the flood is over), a citizen-led venture to conserve and contest the cycle of dioramas at the Museum Sejarah Nasional beneath Monas.
These four presentations are not separate exhibitions but chapters in a shared process. Each takes a different position toward the question of how figures—historical, political, or artistic—are made, remade, or erased. Across them, making becomes a way of thinking; conservation, a way of questioning; and collaboration, a way of remembering. The works, discussions, and gestures circulate among sites, refusing the isolation of objects and authorship, sustaining instead a practice of ongoing relation.
#RUBANAH #RUBANAHUndergroundHub #Tokohtokohpengabdiandanperadaban #Figuresdedicationsandcivilisations #Hyphen