Putar balik perjalanan EP Terminal 7—setelah meninggalkan Yogyakarta, langkah kami berlanjut ke timur.
Kupang jadi titik transit yang bukan sekadar persinggahan, tapi rumah yang hangat.
Di momen spesial 1 Dekade @timoreartgraffiti (TAG), kami disambut dengan energi yang sama: penuh warna, penuh rasa, penuh saudara.
@silatuparty_ jadi tempat singgah rombongan “bis kayu” Cru Father Said yang datang jauh dari Maumere, Flores.
Kami tidak datang dengan tangan kosong—kami bawa oleh-oleh EP Terminal 7.
Sebuah album dari proses panjang, dari perenungan, dari perjalanan batin yang terinspirasi oleh sosok legenda Maumere, J.E Papache.
Lewat karya ini, kami mengajak siapa saja untuk mengenal lebih dalam tradisi, cerita, dan denyut kehidupan masyarakat Maumere.
Malam itu bukan hanya tentang tampil.
Tapi tentang bertemu, bertukar, dan merayakan perjalanan bersama.
Terima kasih untuk ruang dan hangatnya sambutan:
TAG x Silatuparty.
Perjalanan masih terus berjalan.
Terminal 7 belum sampai tujuan. 🔥🎶
📸 @jevangeorge@arthasasta_@arthasasta_@bryan.malelak@taikambing_bulat_bulat
#crufathersaid #TourTerminal7 #silatuparty #timoreartgraffiti
Putar balik perjalanan Tour EP Terminal 7 milik Cru Father Said—kali ini berhenti di Jalan Wijilan, dalam hangatnya event Tuesday Louder. ( @tuesday.louder )
Seperti biasa, Cru Father Said datang membawa satu hal yang tak pernah ditinggalkan:
bahasa, budaya, dan rasa dari Flores—Maumere, yang hidup di setiap bagian dari EP Terminal 7.
Di gang kecil Wijilan itu, kami tidak merasa seperti tamu.
Sambutan hangat, energi yang tulus, dan pelukan dari hip hop Jogja membuat semuanya terasa seperti pulang—meski ini rumah orang.
Malam itu bukan hanya tentang musik.
Tapi tentang kebersamaan, tentang bagaimana kultur bisa menyatukan tanpa banyak kata.
Dan di panggung sederhana itu, kami juga pamit.
Menjadikannya sebagai malam perpisahan kami di Yogyakarta, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kupang, NTT.
Terima kasih Jogja, untuk ruang dan rasa yang tak tergantikan.
Sampai jumpa lagi—di waktu dan bars berikutnya. 🎤🔥
#crufathersaid #terminal7 #tourep
Putar balik ke titik ketiga perjalanan Tour EP Terminal 7 milik Cru Father Said — singgah di Cherrypop Fest, Yogyakarta.
Petualangan bis kayu Cru Father Said ternyata belum berhenti.
Kali ini, Chill Stage jadi tempat singgah—yang bahkan tak pernah direncanakan, tak pernah masuk daftar.
Semuanya berawal dari satu malam di sebuah villa di daerah Cangkringan.
Sebuah telepon masuk dari Yossi, membawa tawaran mendadak untuk tampil di salah satu festival musik terbesar di Yogyakarta.
Tanpa banyak pikir, dengan semangat yang sama seperti saat memulai perjalanan ini—kami bilang: iya.
Di Chill Stage, kami kembali berbagi cerita.
Tentang kota Maumere.
Tentang pesta-pesta yang hidup.
Tentang budaya, dan tentang jalan-jalan berlubang yang kami bawa dalam kemasan Terminal 7.
Malam itu bukan sekadar panggung.
Tapi persinggahan yang jadi cerita besar.
Sebuah pengalaman yang tak direncanakan,
namun akan selalu dikenang.
Perjalanan terus berjalan.
Sampai bertemu di titik berikutnya. 🎶🔥
@cherrypopfest
#crufathersaid #terminal7
Putar balik ke titik kedua perjalanan Tour EP Terminal 7 dari Cru Father Said — ARTJOG, Yogyakarta.
Di ruang seni yang penuh gagasan ini, Cru Father Said tidak hanya mengajak orang berpesta. CFS mengajak berjalan lebih jauh—menyusuri lekuk jalanan Maumere, kota yang penuh perayaan kehidupan. Sebuah ruang yang tidak lagi sepenuhnya kampung, namun juga belum sepenuhnya urban. Di situlah cerita-cerita lahir.
Lewat karya “Jalan, Jalan Berlubang!”, Cru Father Said melakukan eksplorasi artistik dari arsip lagu pop-pesta Maumere milik J.E Papache—seorang musisi dan komposer yang turut menghidupkan tradisi musik serta rekaman digital di Maumere.
Lebih dari sekadar lagu, karya ini adalah perjalanan, ingatan, sekaligus penghormatan.
Sebagai bagian dari album Terminal 7, “Jalan, Jalan Berlubang!” menjadi tanda hormat bagi jejak yang telah beliau tinggalkan—sebuah suara dari timur yang terus bergema hingga ke ruang-ruang baru.
Dari Maumere, ke Yogyakarta.
Perjalanan masih panjang.
#crufathersaid #terminal7
#putarbalik sejenak ke titik awal perjalanan Tour EP Terminal 7 milik Cru Father Said.
Semua dimulai di Festival Benang Merah, di panggung Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Dengan berbekal bahasa, cerita, dan budaya dari Maumere – Flores, Cru Father Said membawa sepotong rasa timur ke tengah hiruk pikuk ibukota. Musik bukan hanya dimainkan, tapi dibagikan sebagai pengalaman. Lirik-lirik timur mengalun, dan perlahan suasana berubah seperti pesta besar khas Indonesia Timur.
Malam itu, Terminal 7 benar-benar memutus batas.
Batas kota, batas bahasa, bahkan batas antara panggung dan penonton.
Panggung terasa “bocor”.
Karena semua orang tenggelam dalam satu euforia yang sama: Terminal 7.
Perjalanan baru saja dimulai.
Sampai bertemu di titik berikutnya. 🔥🎶
#crufathersaid #tourterminal7 #terminal7
“KILAS BALIK
Buka Bukaan
Edisi Spesial 10 Tahun Komunitas KAHE
REGANG: BERTEMU, MERAWAT, BERTUMBUH
𝗦𝗲𝗺𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗱𝗶 𝗟𝗼𝗸𝗮𝗿𝗶𝗮
Tika x Dixxxie
Rocket Queen
Pon Daisy
Ini adalah malam perayaan kecil kami di bawah pohon mangga yang sedang berbuah lebat, saat musim hujan baru saja tumbuh. Perayaan-perayaan kecil bersama komposisi bunyi Tika dan Dixxxie yang diolah dari cerita mama-mama penenun, bersama Rocket Queen dan Pon Daisy yang berbagi lewat lagu-lagu tentang cerita teman dekat dan kisah kota ini.
Seluruh perayaan kecil ini barangkali bukan jadi ingatan. Ia hanya sedang ingin dirayakan.
___
Terima kasih kepada teman-teman sekalian yang selama 10 tahun ini telah berjalan bersama kami, Komunitas KAHE. Tidak ada tunas baru yang tumbuh segar, tangkai yang kuat menjalar, dan bunga yang harum mekar tanpa ada bagian-bagian yang gugur dan jadi humus. Kami percaya, bersama rekan-rekan sekalian, di lingkungan yang paling dekat, keluarga, sahabat, handai tolan, rekan kerja, jejaring kolaborasi dan siapa pun yang datang dan pergi; pikiran, gagasan, praktik, menemui rumahnya; kita letakannya di tengah, lalu kita melingkar, gelas demi gelas, bersama dentum bas dan suara nyanyian kita, terus kita rambah jadi percakapan dan kerja bersama di rumah kita, tempat seluruh sebermula ini berawal.
___
Kami merayakannya lewat tema BERTEMU, MERAWAT, BERTUMBUH — sebuah perjalanan bersama teman-teman yang sejak 2015 ikut memberi bentuk pada kerja-kerja kolektif KAHE.
Selama 13–23 Oktober 2025, kami menyiapkan rangkaian program publik seru yang dirancang untuk merayakan, membaca ulang, dan merefleksikan peristiwa-peristiwa yang dekat dengan kita: dari rumah, tetangga, lingkungan, sampai kota hingga yang jauh panggang dari dapur kita masing-masing.”
Epang gawan.
“Sounds of Tidal Weavers” … In celebration of the closing of Tidal Weavers: Islands Exchange @mill6chat , Hong Kong artist Mandy Ma @mawingmandy collaborates with Tika and DIXXXIE @dixie.vtrm of Indonesian art collective Komunitas KAHE @komunitas.kahe to create an intercultural and immersive performance.
✨️Semalam di Lokaria — Bersama TixDix, Rocket Queen, dan Pondaisy
Bagian dari rangkaian perayaan 10 Tahun Komunitas KAHE, Semalam di Lokaria menghadirkan malam musik yang menjadi ruang temu antara karya, komunitas, dan perjalanan kreatif anak muda Maumere.
Tiga penampil — TixDix, Rocket Queen, dan Pondaisy — akan berbagi energi dan gagasan melalui musik yang lahir dari pengalaman personal, ruang lokal, dan semangat bereksperimen. Acara ini menjadi bentuk apresiasi terhadap tumbuhnya ekosistem seni sekaligus pengingat bahwa kreativitas selalu menemukan jalannya ketika ada ruang untuk berbagi.
📅 Sabtu, 18 Oktober 2025
🕢 19.30–21.00 WITA
📍 Studio Komunitas KAHE, Jalan Nairoa, Desa Habi, Kecamatan Kangae, Lokaria
🎙️ MC: Qikan, El & Keryn
Datang dan nikmati suasana Semalam di Lokaria dengan reservasi melalui link di bio!
#SatuDekadeKAHE
#SemalamdiLokaria
Selamat untuk @crufathersaid sedang dalam Tournya, yang penasaran langsung ke Blog :
/cru-father-said-rilis-album-terminal-7-terinspirasi-dari-musisi-legendaris-papache/