"Mulih Dilik, Tahun Ini" is a representation of the longing for home that we all feel during the holy month of Ramadan. It’s an expression of gratitude, hope, and serenity for everyone, regardless of religion or beliefs. The zine tells the story of two brothers from the same origin. In the midst of a bustling city and endless responsibilities that weigh them down, there’s one thought that often comes to mind: “I miss home.”
Mulih Dilik, or mudik, meaning "going home for a while," is a Javanese term referring to the act of returning to one’s hometown. It is an activity closely tied to Eid al-Fitr and deeply rooted in Indonesian culture.
30 Ramadhan, 1446
"Kau datang dari mana?"
"Aku datang dari langkah di belakangmu"
Begitulah kira-kira percakapan antara aku dan buku usang ini.
Selalu di warung aceh, jelas sama Alvin, terselip aku mempertanyakan dimana buku sakral ini berada, berpindah tangan kah? atau ada yang panjang tangan? atau malah jadi buah tangan? Coba tanya habibi, ternyata tangannya yang menemukannya!
Terima kasih untuk habibi udah nyimpan buku ini dari jaman kita SMP. 2012 kali ya? 2013 kali, lebih kali? Yaudahlah, lebih sewindu, lebih sedekade, lebih selamanya.
Melihat buku ini seperti tembus portal waktu, sepi senyap buat aku senyum haru, walau usang tapi tak asing. Rasanya semangat waktu itu menggelitik kembali. Apa yaa, gatau deh aku senang, aku senang, aku penuh.
Raya! Puzzle-ku di tahun ini mulai tersusun lagi. Buku ini bukti api kecil pertamaku, aku coba pelan-pelan bawa mimpi sederhana waktu itu kembali. Jangan ekspektasi banyak ya dek Indra, tapi kita usahakan.
Ngang-ngong-ngang-ngeng mulai gajelas, tulisan ini kuketik sambil isi bensin, besok mau jumpa sanak famili, semoga kalian temukan kembali kepingan kalian itu.