Kata si Bapak itu “Orang desa nggak pakai dolar!” Sayangnya, efek naiknya nilai tukar rupiah terhadap USD ini bisa bikin bisnis UMKM pelan-pelan mati lemas. Mari kita bongkar “Efek Domino” dari nilai tukar yang diremehkan ini. 👇
Orang desa mungkin nggak pegang dolar, tapi rantai pasok (Supply Chain) yang menopang hidup mereka kan bergantung sama Dolar. Coba kita lihat data fundamentalnya:
1️⃣ Gandum (Mie Instan/Roti): 100% kebutuhan gandum Indonesia adalah hasil impor.
2️⃣ Kedelai (Tahu/Tempe): Sekitar 85-90% kedelai yang dikonsumsi industri rumahan berasal dari USA.
3️⃣ Pakan Ternak (Ayam/Telur): Bahan baku utama seperti bungkil kedelai (Soybean Meal) untuk pakan ayam di desa mayoritas adalah barang impor.
Semua dibayar pake dolar dong?!
Ketika Dolar naik, HPP pengrajin tempe dan peternak di desa ikut naik. Harga kebutuhan pokok melambung. Akibatnya, masyarakat desa terkena “The Invisible Dollar Tax”. Sisa uang lebih yang biasanya mereka pake buat belanja produk sekunder (produk jualan UMKM) ludes hanya untuk bertahan hidup dan makan sehari-hari.
Daya beli masyarakat di pedesaan hancur.
Dan karena konsumsi rumah tangga adalah penopang lebih dr 50% PDB Indonesia, saat desa berhenti belanja, ekonomi nasional melambat, dan cashflow UMKM akan berdarah-darah.
Di era rantai pasok global, desa bukan entitas yang kebal. Mereka justru fondasi pasar yang paling rentan sama guncangan internasional.
Buat para business owner, UMKM, atau praktisi supply chain, seberapa berasa “Pajak Dolar Tak Kasat Mata” ini ke angka sales akhir2 ini? Coba drop cerita atau kalo ada tips strategi survival boleh di share di kolom komentar dong biar sesama UMKM saling bantu menguatkan.
SHARE video ini ke partner bisnis atau tim di kantor biar makin melek literasi ekonomi dan nggak salah ngambil keputusan strategis bulan ini!
Buat Bapak, tolong narasinya lebih dijaga dan empati sedikit sama rakyatnya.
Abang @faisalrental8 bilang tuntutan JPU udah bener buat Nadiem karena Nadiem Makarim tega potong 20% penghasilan driver gojek.
Yuk kita bahas!
Jadi, mulai Mei ini, potongan 20% itu resmi dipangkas Jadi 8%! Apakah Perpres No. 27/2026 ini benar-benar kemenangan untuk driver Ojol, atau malah jadi bumerang buat ekosistem? Mari kita bedah 👇
Pemerintah memangkas habis Take Rate atau potongan aplikasi yang awalnya di kisaran 20% menjadi maksimal 8%. Artinya, mitra driver kini berhak mendapatkan minimal 92% dari tarif perjalanan.
Banyak yang menyalahkan standar lama (20%) sebagai bentuk keserakahan founder atau aplikator. Tapi, kalo kita membedahnya lewat kacamata Platform Economics, angka 20% (bahkan hingga 30%) adalah batas standar industri global seperti Uber, Grab, hingga Apple App Store.
Ke mana uang dari 20% itu mengalir?
Membangun aplikasi itu gak gratis. Aplikator harus menanggung biaya operasional raksasa:
1️⃣ Server Cloud yang mampu menampung jutaan transaksi per detik.
2️⃣ Tagihan Google Maps API yang dihitung per request.
3️⃣ Subsidi Promo & Diskon (Ini komponen terbesar)
Dengan margin aplikator yang dipaksa turun hingga 8%, model bisnis gojek akan sangat tertekan. Solusi bisnis paling masuk akal bagi aplikator untuk bertahan hidup adalah dengan mencabut subsidi promo ke pelanggan.
Saat promo hilang, biaya yang harus dibayar customer akan terasa melonjak drastis. Hukum ekonomi dasar (Hukum Permintaan) akan berlaku: Permintaan akan turun. Customer mungkin beralih ke kendaraan pribadi atau bawa bekal makanan sendiri. Kalo customer sepi, maka pendapatan 92% yang didapatkan driver berisiko menjadi tidak berarti, karena jumlah orderan menurun drastis.
In the world of business, when you artificially cap the margin of a platform ecosystem, the end consumer usually absorbs the shock.
Sebagai customer atau mungkin praktisi bisnis, menurut kamu aturan Perpres terbaru ini dampaknya bakal condong ke arah mana? Bikin driver makin sejahtera, atau malah bikin ojol jadi sepi orderan?
Coba drop opini objektif kamu di kolom komentar, let’s discuss! 👇
SHARE konten ini ke grup atau partner bisnis kamu biar mereka melek soal fundamental bisnis dar
Sadar nggak, banyak bisnis jasa yang stagnan bukan karena kurang leads baru, tapi karena ‘bocor halus’ di klien lama?
Sebagai business owner atau leader di industri jasa, aset termahal kamu bukan pitch deck yang keren, tapi TRUST dari existing clients.
3 tips ini alan membantu kamu naikin sales tanpa buang waktu dan energi untuk approach klien baru:
1️⃣ Lakukan “Value-First Check-In” (Bukan Hard Selling)
Bongkar lagi database klien 1-3 tahun terakhir. Jangan cumq hubungi mereka pas pagi butuh omset aja. Kirim pesan personal yang nawarin value. Misalnya: “Hi [Nama Klien], kami baru saja membuat riset/insight terbaru tentang industri Anda, mungkin ini bisa bantu efisiensi operasional di Q3...”
2️⃣ Ciptakan Client Success System.
Di bisnis jasa, pekerjaan kita gak selesai saat invoice lunas. Buat sistem kalender follow-up rutin (misal: per kuartal) pasca-proyek. Tawarkan free audit/assesment/trial/check up ringan atau sesi konsultasi 30 menit. Klien yang ngerasa terus didampingi bakal punya barrier yang tinggi buat pindah ke kompetitor.
3️⃣ Bangun Ekosistem Referral yang Terstruktur.
Satu klien loyal bisa bawa 3-5 klien baru dengan tingkat closing yang jauh lebih cepat tanpa harus pitching berdarah-darah. Bikin program VIP atau kasih extra service eksklusif untuk klien lama yang mereferensikan kolega bisnisnya buat kita.
Pertumbuhan bisnis yang eksponensial dibangun di atas fondasi retensi, bukan sekedar akuisisi. Scale your business by nurturing those who already believe in you.
Coba cek CRM atau database kamu Senin nanti. Siapa 3 klien lama yang bisa disapa lagi minggu depan?
SAVE postingan ini biar gak hilang, dan SHARE ke grup WhatsApp tim Sales & Business Development kamu buat jadi materi briefing Senin nanti!
Nadiem Makarim sedang menghadapi siklus yang sama dengan Mikhail Khodorkovsky di tahun 2003.
Secara finansial dan status, Nadiem tentunya udah nyaman. Lewat ekosistem Gojek dan GoFood, dia membuktikan dedikasinya dengan menyelamatkan jutaan perut keluarga dan membantu bisnis UMKM di Indonesia (khususnya kuliner). Kalo dipikir2, dia gak butuh kursi menteri buat menambah kekayaan.
Tapi, seorang true entrepreneur selalu memiliki panggilan Legacy. Nadiem sadar, mengenyangkan perut rakyat aja gak cukup buat masa depan, bangsa ini butuh akses pendidikan.
Teori Penolakan Sistem (System Rejection) Tragedi terbesar dari seorang inovator yang masuk ke pemerintahan adalah: Mereka mengira sistem tersebut ingin diperbaiki.
Membawa mindset disrupsi yang transparan dan agile ke dalam birokrasi politik yang sarat kepentingan ibarat memasang organ yang sangat sehat ke dalam tubuh yang sakit parah. Boro-boro sembuh, antibodi tubuh yang sakit itu justru nyerang si organ yang sehat dan berusaha mematikannya.
Kasus hukum ini seolah jadi alarm peringatan dari sistem buat seluruh profesional dan anak muda jenius di luar sana: “Jangan coba-coba memperbaiki sistem ini, atau sistem ini yang bakal hancurin kamu.”
Ini bukan lagi sekadar kasus hukum, ini soal masa depan inovasi di Indonesia. Apakah kita akan membiarkan orang-orang tulus yang ingin memperbaiki negara justru dihukum oleh sistem?
Drop opini objektif dan bentuk support kamu buat Nadiem di kolom komentar! 👇
SHARE video ini untuk membuka mata lebih banyak orang. Mari kita kawal ketidakadilan ini bareng-bareng #StandwithNadiem
BERHENTI ngejar klien yang tiba-tiba ghosting setelah dikasih harga!
Pernah ngerasa bersalah atau overthinking saat prospek hilang abis lihat pricelist? Banyak toxic advice di luar sana yang menyuruh kita buat terus kejar dan “edukasi” mereka soal value kita. Padahal, secara data... itu cuma buang-buang waktu.
Faktanya, riset Hubspot membuktikan bahwa 50% prospek yang datang secara organik itu memang NOT A GOOD FIT. Mereka bukan target pasar kamu.
Kalau dipaksa closing, ujung-ujungnya cuma dua:
1️⃣ Mereka makin menjauh.
2️⃣ Minta diskon gila-gilaan yang merusak standar dan margin profit perusahaan kamu.
Sebagai pemilik bisnis jasa atau B2B, menjaga kewarasan (peace of mind) dan mempertahankan value tim adalah prioritas. Just let them go. Waktu dan energi kamu terlalu berharga untuk dihabiskan pada prospek yang tidak mampu menghargai karya dan keahlianmu.
Coba cerita di kolom komentar: Pengalaman terburuk apa yang pernah kamu alami waktu maksa closing klien yang dari awal udah kelihatan red flag?
SAVE video ini sebagai pengingat harian buat kamu (dan tim sales kamu) supaya nggak gampang baper kalau ada prospek yang ghosting.
SHARE ke teman sesama business owner atau freelancer yang lagi capek ngadepin klien tawar-menawar nggak masuk akal
Ada yang ngerasa kalau masuk ZARA sekarang, bajunya makin “nggak bisa dipake” dan harganya makin mahal?
Belakangan ini viral banget netizen komplain soal desain ZARA yang dianggap makin tasteless, absurd, dan styling fotonya yang aneh. Tapi, di balik keanehan itu, ada pergerakan strategi bisnis raksasa yang sedang terjadi.
Sejak kepemimpinan beralih ke Marta Ortega di 2022, ZARA sedang berusaha mati2an “Mencuci Nama”. Mereka pengen lepas dari stigma Fast Fashion murahan, dan mau transform jadi Premium/Affordable Designer Brand.
Mereka mulai merekrut fotografer high-end, bikin desain avant-garde ala runway show, dan menaikkan harga. Tujuannya? Biar jadi brand mewah.
TAPI… (my personal opinion as a creative director & Brand Communication practitioner)
Menurut keyakinan saya…
ZARA lupa kalo core audience mereka selama puluhan tahun adalah orang-orang yang nyari pakaian kasual trendi yang bisa dipake sehari-hari, bukan baju runway yang asimetris dan ribet.
Akibatnya? Terjadi benturan ekspektasi. Desain yang menurut eksekutif ZARA adalah “Seni & High Fashion”, di mata konsumen setianya justru terlihat “Jelek & Aneh”.
Apa yang bisa kita pelajari?
Rebranding dan menaikkan kelas itu butuh lebih dari sekedar ganti desain. Rebranding tuh perjalanan panjang, butuh shifting behavior dari market.
Jadi, gimana menurut kamu? Tetep bakal rajin cek barang baru di ZARA atau udah punya brand lain yang lebih relevan? Komen dong!
Jangan lupa SAVE post ini untuk studi kasus bisnis kamu, dan SHARE ke temen2yang juga bingung lihat koleksi ZARA sekarang
Lepas monopoli bisnis demi nyawa jutaan manusia? Keputusan bisnis brand mobil VOLVO di tahun 1959 bikin mereka jadi legenda.
Sebagai business owner atau pengusaha, ini jadi tamparan keras. Visi bisnis kita sudah sejauh mana? Apakah brand yang kita bangun setiap hari ini sekadar untuk mengejar target profit dan mengalahkan kompetisi, atau kita sedang menciptakan sebuah legacy yang akan terus diingat oleh market?
PRODUK BAGUS TAPI NGGAK LAKU? MUNGKIN KAMU JUALAN KE ORANG YANG SALAH!
Di @paradecreative saya dan tim sering menemukan masalah dari produk yang susah terjual bukan ada pada kualitasnya, tapi pada creative direction dan brand image yang mungkin sudah kurang relevan dengan market saat ini. Kasus legendaris dari Old Spice ini buktinya!
Hasil dari rebranding komunikasi yang dilakukan Old Spice ini sangat luar biasa:
✅ Penjualan meroket 107% hanya dalam 30 hari!
✅ Kembali menjadi market leader tanpa mengubah formula produk sama sekali.
Sebagai business owner, ini saatnya kita evaluasi. Jangan-jangan produk kita stuck bukan karena jelek, tapi karena kita sibuk mengedukasi target audiens yang salah. Menemukan siapa pengambil keputusan (decision maker) yang sebenarnya adalah kunci dari brand communication yang sukses.
Luangkan waktu untuk melakukan riset pasar. Jangan pelit melakukan product sampling, A/B test strategi konten di socmed. Jika perlu konsultasi atau hire agency profesional untuk merombak brand communication bisnis kamu.
Budaya kerja 9-5 mungkin sudah waktunya dievaluasi (?). Yvon Chouinard (founder Patagonia) punya filosofi unik: “Let My People Go Surfing.”
Dia udah nggak micromanage jam absen karyawan, dia justru ngasih trust dan flexibility penuh. Selama deadline aman dan tanggung jawab beres, karyawan bebas menikmati hidup.
Hasilnya?
- Tingkat turnover (karyawan resign) salah satu yang terendah di industri.
- Profit perusahaan konsisten tembus miliaran dolar.
- Bebas dari budaya kerja yang toxic.
Saya jadi mikir, mungkin leadership itu bukan lagi soal “jagain absen” karyawan aja, tapi udah saatnya membangun kepercayaan. When we treat them like responsible adults, they will deliver adult-level results.
Tapi di Indonesia kayaknya sih jarang banget ya kantor yang nerapin aturan begini. Kira-kira kenapa ya? Karena perusahaan gak mau rugi atau emang SDM kita belum bisa dikasih kepercayaan se-level ini?
Makin ke sini makin banyak bisnis/brand yang FOMO sama AI. Langganan puluhan tools AI premium, minta timnya nulis prompt asal-asalan, dan berharap sales otomatis meroket.
Hasilnya? Feed sosmed jadi kaku, copywriting ‘aneh’, dan brand pelan-pelan kehilangan soul.
Faktanya, riset dari McKinsey & Company nyebutin kalau Generative AI emang bisa naikin produktivitas marketing sampe 40%. TAPI, bisnis yang berhasil dapet Return on Investment (ROI) tertinggi dari AI adalah mereka yang pakai sistem “Human in the Loop”.
Artinya apa? Manusia tetap jadi nahkodanya, AI cuma mesin aja. Kalo fondasi Brand Communication kamu dari awal udah berantakan, AI cuma bakal bikin “sampah” dari brand kamu diproduksi lebih cepat.
Biar nggak bakar duit bayar subscription AI tapi hasilnya nihil, ini cheat sheet cara pakai AI buat scale up bisnis di 2026:
1️⃣ AI itu Co-Pilot, bukan CEO: pake AI buat brainstorming, bedah kompetitor, atau nyusun draft awal. BUKAN buat nentuin Core Belief atau narasi utama brand kamu.
2️⃣ Context is king: Jangan cuma ketik “Buatkan caption untuk produk kopi”. Hasilnya pasti template. Masukin Brand Voice dulu, siapa target audiens yang paling spesifik, dan apa pain points mereka ke dalam prompt.
3️⃣ The Human Touch: Ini wajib. Setelah AI ngasih hasil, rombak lagi! Hapus kata-kata cringe (sering banget terjadi) dan ubah pake bahasa casual yang align sama tone of voice brand kamu.
AI won’t replace your business. But a business that uses AI strategically will replace you. Jangan malas mikir cuma gara-gara udah punya ChatGPT atau tools AI lainnya.
Jadi, selama ini kamu pake AI buat bantuin riset strategi, atau kamu suruh AI ngerjain semuanya dari nol sampai jadi?
Tahun 1997, Apple lagi sekarat. Komputer lama numpuk di gudang dan nggak laku. Di situasi krisis ginj, biasanya brand itu akan banting harga atau bikin iklan yang pamer fitur (hard-selling).
Tapi, Steve Jobs ngambil Creative Direction yang super radikal.
Lewat campaign legendaris “Think Different”, dia merombak total Brand Communication Apple. Di iklannya, sama sekali nggak ada gambar komputer! Mereka malah nampilin tokoh-tokoh rebel jenius kayak Einstein dan Muhammad Ali.
Fokus mereka digeser drastis dari “What We Sell” (jualan spek komputer) jadi “What We Believe In” (menjual identitas dan core value).
Pelajaran buat kita para business owner dan pelaku usaha:
Kalau strategi marketing kita cuma mentok di perang harga atau adu fitur, brand kita bakal gampang banget digantiin sama kompetitor yang lebih murah.
Tapi, kalau kita berhasil mengkomunikasikan Core Belief perusahaan kita, customer nggak cuma beli produknya, mereka membeli identitasnya.
Features tell, but identity sells.
Coba, apa core belief dari brand/perusahaan yang sedang kamu rintis?
Bos ini nawarin pesangon Rp 30 Juta buat karyawan baru yang mau RESIGN hari itu juga! Gila? Wait until you see the full story.
Tony Hsieh, CEO Zappos, punya prinsip ekstrem soal Company Culture dan Customer Service. Buat dia, 2 hal ini adalah urat nadi sebuah perusahaan.
Dia nggak mau bisnisnya diisi oleh orang-orang yang kerja just for the paycheck. Jadi, dia ngambil langkah yang mind-blowing: Setelah masa training awal kelar, setiap karyawan ditawari $2,000 (sekitar Rp 30 jutaan) dengan satu syarat: mereka harus resign saat itu juga.
Tujuannya? Untuk memfilter orang-orang yang nggak bener-bener passionate. Hasilnya keren sih, kurang dari 1% yang ngambil uang tersebut. Sisanya milih stay, dan Zappos berhasil membangun Super Team dengan loyalitas yang nggak ada lawan.
Buat para business owner, UMKM, dan leader, ada pelajaran krusial di sini: Leadership sejati adalah soal keberanian menjaga culture tim dari orang-orang yang salah.
Jangan pernah kompromi menahan the wrong person di dalam tim hanya karena mereka pintar. In the long-term, satu orang yang salah hanya akan merusak vibes dan menghancurkan fondasi perusahaan yang sudah dibangun susah payah. Protect your culture at all costs.
💡 SAVE video ini sebagai pengingat leadership buat kamu dan tim, serta SHARE ke sesama business owner yang butuh insight ini!