Arsita Iswardhani

@pporicrazy

Part-time Actor, Performance-Maker, Performing Artist. Full-time Mom of Zirkus minion Plataran @zultan.prabu .
Followers
2,313
Following
2,382
Account Insight
Score
28.82%
Index
Health Rate
%
Users Ratio
1:1
Weeks posts
Just wanna remember the days I made a decision with me as priority. Everything I chosed to do: to travel, strolling the city, eat yummy food, entered the cute resto and cafe, watching sunrise; and yes, do the things that made me feel content and fulfilled. Will do it again, anytime I could spare the time. Hopefully soon. ❤️
63 5
2 months ago
Selamat pagi, 19 Januari 2026.
0 7
3 months ago
Tak ada yang mampu kusembunyikan dan tak ada dusta yang bisa kuupayakan, pada dan dari diri, ketika berhadapan dengan kebesaran Tuhan ini. Aku takluk, sebagai bagian kecil yang turut berarti membangun semesta ini. Eyang gunung, maturnuwun. Maafkan aku. Ampuni aku. Ampuni kami. Lindungi kami. Kuatkan kami. Semoga tahun ini diberikan ketenangan dan kejernihan berpikir, melihat, dan mendengarkan. Mari menempuh tahun 2026.
47 0
4 months ago
✨🌿 Let’s be part of B-PART | Mari menjadi bagian dari B-PART ✨🎭 KOPI PAGI MAJELIS DRAMATURGI Arsita Iswardhani (Yogyakarta) · Shohifur Ridho'i (Madura/Yogyakarta) Forum Semi-Terbuka Pasca Pertunjukan ini adalah ruang kolektif terbuka untuk menelaah kembali karya-karya yang telah dibincangkan bersama penonton publik. Dalam B-PART 2025, Kopi Pagi Majelis Dramaturgi hadir secara semi-terbuka bersama peserta undangan untuk membahas pertunjukan dari program Panggung Tumbuh pada 4 & 5 November 2025. This Post-Performance Focused Forum is a semi-open collective space revisiting works previously discussed with public audiences. At B-PART 2025, the forum reflects on performances from the Nurturing Stage program on 4 & 5 November 2025. 🗓 5 & 6 November 2025 | 10.30–14.30 WITA 📍 Masa Masa — Jl. Subak Telaga I No.9, Ketewel, Sukawati, Gianyar, Bali 🔗 Daftar di sini / Register: linktr.ee/b.part 📞 Kontak / Contact: Rita (+62 858-4759-1506) ✨🎭 B-PART — RAGA, RUANG, RAGAM Living Bodies · Shared Spaces · Plural Lifeways The Last Movement of Three Years Sesi diskusi ini didukung oleh Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya dalam skema MTN Lab. Sebagai program prioritas nasional, MTN Seni Budaya bertujuan untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan, serta menghubungkan talenta dengan berbagai peluang pengembangan kapasitas dan akses pasar, baik nasional maupun global. MTN Lab adalah ruang penciptaan dan pengembangan karya melalui residensi, inkubasi, lokakarya, dan masterclass yang mendukung proses kreatif secara menyeluruh. @ekosistem.budaya @kemenkebud #BPART #BPART2025 #BaliPerformingArtsMeeting #LetsBePartofBPART #MulawaliInstitute #antarragam #antarragamgpi #MTNSeniBudaya #MTNLab #MTNPresentasi #MTNMarket #TalentaIndonesiaInspirasiDunia #KementerianKebudayaan
192 0
6 months ago
40 hari wafatnya Prabu. Am still crying and in pain. Losing you is the biggest pain in these recent years, put me in the big imbalance, since you are the one who balance my life these last 6 years. I love you beyond anything, Prabu. My love, my darling, mom's dadar guling.. Sungguh berat menerima kenyataan Prabu ga akan nemenin hari-hari Ibu lagi di dimensi dunia ini. Hug me please, before your spirit really leave this dimension of life. Cintaku. Hidupku. Ibu akan segera baik-baik sembari membawa rasa sakit ini, karna, niscaya, rasa sakit kehilanganmu akan selamanya. Merindukanmu adalah keegoisanku. Selamanya. Mencintaimu, Nak. Alfatihah. Allahu Robbi... Prabu #CeritaPrabu, hadir sejak awal tengah 2019. Wafat: Jumat, 12 September 2025 Dimakamkan: Sabtu, 13 September 2025 dini hari.
0 0
6 months ago
(Selasa dan)Jumat masih terasa seperti hari yang keparat meski ini adalah Jumat ketiga yang harus kulewati dengan ingatan yang selalu berputar di Jumat sore yang seperti terus berulang menarikmu masuk dalam pusaran. Mual. Tangis histeria yang masih sama. ...Ibu harus gimana. Ibu nggak kuat, Nak. Anakku... Maafkan aku, merindukanmu adalah keegoisanku sebagai manusia, sebagai Ibu. Menanggung pedih dan sakit ini sepertinya akan lama, mungkin selamanya, dan nanti mungkin akan kuat, suatu hari. Tapi tak sekarang. Meski 3 minggu lamanya sudah lewat. Belum. Aku belum kuat.. Aku belum mampu buat kuat. Aku mendiami pesanmu, yang meski bukan pertanda, tapi jadi yang terakhir. "Ibu nggak harus selalu kuat," begitu kan katamu. BAGAIMANA MUNGKIN AKU KUAT SETELAH PESANMU ITU AKU KEHILANGANMU, SELAMANYA? Aku masih ingin memaki Tuhan, tapi aku takut makianku akan membawa kutukan untuk kakak dan adik-adikmu.. Maafkan Ibu, Prabu.. Betapa aku mencintaimu. Betapa hidupku tak seimbang tanpamu. Setiap sudut rumah, setiap nafasku sejak bangun dan menuju tidur, bahkan dalam tidurku; tak pernah tak ada kamu di dalamnya; setiap hari selama 6 tahun jatuh bangun hidupku yang selalu kau topang. Betapa aku telah begitu bergantung pada cinta tanpa syarat yang kamu berikan selama ini. Dengan seluruh cintaku, aku mengikhlaskanmu dijemput Kashmir di kaki bukit itu. Aku meminta Kashmir, Mika dan Dusty menemanimu supaya tak terlalu memikirkanku yang sepertinya masih butuh waktu lama untuk bisa berjalan lagi tanpa limbung dan terseok.; begitu patahnya jiwaku.
0 0
7 months ago
Infinitely precious face on my belly. Thank you for choosing me, Zultan. In any life I incarnate, I will always choose you to become my precious one. 26 Agustus 2025. 7 years with you.
6 0
8 months ago
Berapa lamakah duka akan tuntas, terurai dan terburai? 8 bulan setelah kepergian Mika, baru hari-hari ini aku menyadari bahwa dukaku atas kepergian dan kehilangan Mika masih mengendap di dalam diriku. Tepatnya, proses kepergian Mika, ternyata tak hanya membuatku merasa nelangsa saat itu, tapi juga menyimpan marah dan luka (selain tentu saja penyesalan. Ah....) Di sesi terapi kemarin siang, endapan itu lagi-lagi menyembur keluar, entah sudah seluruhnya atau belum. Mengingat apa yang memicu sensitivitasku, momen apa yang bikin aku nangis tanpa henti akhir-akhir ini. Alih-alih menulis apa yang membuatku terganggu, aku berakhir menulis sebuah surat untuk Mika, Dusty dan Kashmir; sebuah permintaan maaf dan rinduku pada mereka, juga cerita-cerita kecil yang terjadi di rumah selepas kepergian Mika dan Dusty. Maaf, Ibu rindu, ttg Hattori-kun, Brun Brun, Zultan, Prabu, dan lainnya; kutumpahkan dalam surat itu. Selama 8 bulan ini bukannya aku nggak pernah sedih kalo inget Mika. Tapi tak pernah sebesar hari-hari ini. Desakan kerinduan dan penyesalan, berharap masih bisa menggendongnya terakhir kali dan mengantarnya dengan doa, seperti saat kepergian Dusty. Berharap kali itu akulah yang menggendong Mika dalam nafas terakhirnya, berharap ia tak sepanik itu dalam proses perpindahan ke mobil untuk pulang dan dirawat di rumah. Ah, maafkan Ibu, Mika. Maafkan Ibu masih begitu terluka dan menangisi proses kepergianmu, setelah berbulan-bulan lamanya. Mungkin ini adalah proses berduka yang tertunda. Kepergian Mika dan Dusty selalu di tengah persiapan kerja besar dan kepergian jauh. Dan kini, dalam persiapan kerja besarku, ingatan dukaku terpanggil begitu saja. Berkali-kali jiwa Mika selalu datang dalam tangisku, menenangkanku, bahwa Ia baik-baik saja, bahkan sejak sehari setelah kepergiannya. Siang kemarin, Ia datang bersama Dusty, mereka bilang mereka akan segera bertemu Kashmir dan akan saling menemani satu sama lain. Sore kemarin, dalam perjalanan pulang ke rumah, aku melihat pelangi di dekat rumah, seolah-olah ia berpangkal di rumah, dari makam Mika, Dusty, Kashmir. Pelangi itu seperti sedang menjembatani perjalanan mereka menemui Kashmir di bukit di atas pelangi.
0 0
10 months ago
Orang-orang dalam situasi prekariatnya, sedang memperjuangkan hak hidupnya.
30 0
1 year ago
Dua kali Lebaran, saya tak bersama keluarga, terpisah jauh ribuan kilometer. 2023 saya Lebaran di Ahmedabad, India. Th 2024 saya Lebaran dalam kesunyian di Solitude, Jerman. Tahun ini, akhirnya kami berkumpul satu keluarga. Dari agak jauh hari saya sudah meminta @tikabanget buat pulang ke Jogja, sebisa mungkin, entah sebelum atau pas hari H lebaran, kumpul sekeluarga. Akhirnya dia datang beberapa hari sebelum Lebaran, dengan rencana di hari H, Tika akan pulang ke Jakarta; sementara saya, bapak ibu dan adik sekeluarga akan ke Madura, bertemu keluarga Bapak di sana. Lebaran hari pertama, setelah Sholat Ied, makan dan istirahat, kami siap-siap berangkat. Tika dateng ke rumah Gebang kesiangan, tapi syukurlah saya ngotot nungguin, sehingga kami punya foto keluarga di slide 1&2. Tika nganterin Ibu ke stasiun; saya, bapak dan adik sekeluarga berangkat ke Surabaya dengan 2 mobil. Kami tiba di Surabaya jam 5 sore. Kami berencana berangkat pagi-pagi ke Madura besoknya. Gusti Allah punya rencana lain. Pagi-pagi kami mendapat kabar berpulangnya Adik Bapak satu-satunya dan saudara tersisa satu-satunya, Om Nawari, yg sedang dirawat di rumah sakit di Jogja. Bapak terpukul hebat dan menyesal dalam karena tak sempat berpamitan sebelumnya. 😭😭😭 Dalam waktu singkat, kurang dari setengah jam, Bapak berhasil naik kereta Sancaka jam 7 pagi, kembali ke Jogja. Alhamdulillah kok ya Tika belum berangkat ke Jakarta, bisa menjemput Bapak di Stasiun lalu ke rumah duka. Kami yang tertinggal di Surabaya segera siap beberes barang dan check out hotel, kembali menempuh perjalanan tol ke Jogja. Begitulah, saya ingat betul tangis bapak di mobil menuju stasiun. Tangis penyesalannya, meski beliau mengikhlaskan kepulangan adiknya ke Rahmatullah. Saya tak akan pernah melupakannya. Kami ternyata diminta berkumpul sekeluarga untuk menemani Bapak yang berduka. Syukurlah kami diberi kesempatan ini. Kami tetap berkumpul dengan keluarga Madura, bahkan lebih lengkap. Di Jogja. Di rumah duka. Dengan berusaha saling menguatkan dari rasa kehilangan Om Nawari. Kini, dari 7 bersaudara, hanya Bapak yang masih hidup dan InsyaAllah sehat. Sungguh, Lebaran kali ini,......
0 5
1 year ago
Hujan deras sore hingga malam tadi. Jalanan banjir. Mobil hampir mogok di perempatan jalan besar; bis dan truk memberikan kedipan lampu dimnya padaku dari belakang. Pagi sebelum sore, aku beranjak ke ruang ICCU, tak berani memasukinya.. Yang terbaring sakit tak sadarkan diri di dalam sana adalah adik ayahku. Tubuhnya penuh selang, entah apa yang akan terjadi tanpa alat-alat itu. Kudengar, ibuku pun akan memakainya nanti, selang-selang itu, paska lebaran. Perang berebut tiket menuju ibukota di arus balik lebaran, setiap saat mengecek aplikasi. Padahal katanya pemudik tahun ini turun hampir 25 persen. Ah, doamu mujarab, sayang, tiba-tiba ada kereta tambahan masih kosong. Pagi ini kulihat sudah tak bersisa. Untung semalam ingat untuk benar-benar membayarnya. Hujan lebat dengan petir. Anak sakit. Mulutnya sudah berliur penuh dengan erangan tak tertahankan. Tiba-tiba ia menghilang, sementara aku harus pergi. Kupacu pulang cepat, ia tak kunjung tampak. Tetap tak terdengar nafasnya meski kucari di segala sudut dan kolong. Kupaksa diri utk bekerja saja, dan tiba-tiba si bocah nongol. Duduk manis seperti biasa, tanpa basah apapun di tubuhnya, seperti sulap. Petir dan guntur tak berhenti. Menakutkan; tapi tak lebih menyeramkan dari kekerasan aparat yang tak pernah berhenti pada yang seharusnya menjadi ayomannya dan penguasa utama, rakyat. Kekerasan aparat dan pejabat itu, yang terus rakus, sejak dulu sesungguhnya. Hanya kini tabir telah diangkat hampir seluruh semesta, hingga kita lihat segala rupa dunianya. Lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim. Konon katanya setelah kegelapan ini, maka masa yang lebih baik akan tiba. Haruskah kita hanya menunggu dan percaya begitu saja tanpa berbuat apa-apa?
84 4
1 year ago
Diskusi Pseudo-Entertainment #1: “Apa yang Tersisa dari Masa Depan” Seluruh kerangka proyek Pseudo-Entertainment menempatkan Bandung sebagai ruang (space) dan gagasan (idea). Sebagai ruang, Bandung adalah medan pascakolonial yang dinamis. Ia adalah juga lanskap-lanskap ingatan (memoryscapes) yang menyimpan luka-luka sejarah (wounded space). Sebagai gagasan, ia mewarisi marwah dan legasi Konferensi Asia Afrika, sebuah gestur dekolonial ketika negara-negara pascakolonial berupaya menentukan pilihan politiknya sendiri (delinking), yang kelak dibaca sebagai upaya memutus epistemologi kolonial-modern-kapitalistik. Hari-hari ini, menempatkan Bandung sebagai upaya merefleksikan diri sendiri (self-reflexivity) rasa-rasanya adalah juga sebuah pilihan politis. Selama residensi, para partisipan berdialog dengan kartografi kota dan membangun kartografi sosial mereka masing-masing lewat identifikasi isu, modal, dan potensi, penglihatan yang mendetail dan amatan menyeluruh, penggalian cerita dan perumusan wacana. Kartografi sosial kota disampaikan dalam pertanyaan-pertanyaan gugatan, refleksi kritis, pernyataan perlawanan, hingga ironi-ironi paradoksal. Spektrum kartografi sosial yang luas tersebut disajikan dalam keragaman artistik: permainan, tur sensorik, pertunjukan tari, instalasi audio, pseudo workshop, dan laboratorium terbuka. Ekspresi artistik yang modular tersebut menyoal ragam tema: sejarah kolonial, developmentalisme kapitalistik, kerentanan komunal, ekologi, perawatan radikal, hingga perlawanan warga. Partitur-partitur kartografi sosial ini meski dikerjakan secara individual, terhubung dalam satu dan lain cara, sebagaimana ekspresi-ekspresi artistiknya, lewat riset bersama, kerja kelompok, majelis ide, proses silang damping, dan laboratorium terbuka yang saling merawat dan menumbuhkan secara kritis, dialektis, dan reparatif. Mari hadir dan berdiskusi bersama! #PseudoEntertainment #ApayangTersisadariMasaDepan #ResidensiPenelitianArtistik
173 0
1 year ago