Home pdjuliPosts

Djuli Pamungkas

@pdjuli

Exploring the Connection between Writing and Photography for Sesama Project & Saujana Doc. __ 📝 @projectsesama 📷 @saujana.doc
Followers
11.8k
Following
991
Account Insight
Score
55.26%
Index
Health Rate
%
Users Ratio
12:1
Weeks posts
Akhirnya, Centang Biru! Jumat, 17 November akun saya akhirnya terverifikasi. 10 tahun lalu saya mulai menggunakan platform ini untuk membagikan karya foto. Walaupun ya begitu-begitu saja, mengunggah sekenanya. Jumlah follower pun ya segitu-gitu saja, tidak pernah bertambah secara signifikan. Saya ingat betul, pernah mengajukan permohonan verifikasi ini sebanyak dua kali. Pertama saat 2018 lalu kedua di tahun 2020. Dari beberapa artikel, proses verifikasi ini atas permintaan pemilik akun, tidak terjadi secara otomatis karena inisiatif Instagram. Dua kali mengajukan dan selalu ditolak. Lantas mendapat notifikasi jika tidak memenuhi kriteria dan bisa mencobanya lagi 30 hari mendatang. Bagi saya, ah sudah lupakan saja. Toh niatnya juga iseng, haha. Eh belakangan Instagram malah memfasilitasi untuk berbayar, tiba-tiba saja timeline media sosial ini dipenuhi teman-teman centang biru baru. Usut punya usut beberapa pengguna mencoba langganan. Tidak jadi soal sebetulnya, namun saat verifikasi ini didapat melalui rangkaian proses organik bisa jadi berbeda kepuasannya. Kali ketiga saya coba di tahun ini, masih dengan keisengan yang sama. Cara verifikasi ini relatif mudah, langkahnya sederhana. Di pengaturan akun terdapat layanannya dan data serta informasi yang mesti disertakan. Seperti KTP atau paspor sebagai dokumen identitas, kategori yang dipilih, informasi negara asal dan audiens yang beririsan dengan kita. Ini tidak wajib diisi tapi saya rass penting untuk menyertakannya. Saya mengisikan 5 tautan berita yaitu pengalaman menjadi jurnalis foto saat KAA 2015, cerita mengenai aktivitas saya di salah satu rumah singgah bagi ODHA, berkesempatan menggelar pameran foto di kawasan penggusuran, terlibat dalam Bandung Triennale hingga dipercaya menjadi kurator. Mesti diperhatikan jika artikel yang disertakan adalah tulisan yang memuat nama kita sebagai narasumber. (Terima kasih rekan-rekan media yang sudi mengulas saya). Setelah mengisi, tinggal submit dan lupakan. Tidak ada jaminan namun tidak ada salahnya dicoba. Satu yang paling penting, ada satu cuitan di X (dulu Twitter) jika jumlah follower tidak menjadi faktor yang mempengaruhi proses verifikasi. Selamat mencoba!
671 179
2 years ago
Beberapa waktu lalu dapet kesempatan langka, ikut kelas scrapbook "super intensif" bersama mbak @dew.anggriani / @miss.dewdew beruntung sekali bisa difasilitasi oleh @expeditionary.joey di kediamannya. Meski terbilang singkat, namun banyak masukan baru untuk urusan seni menempel foto di media kertas ini. Tidak hanya soal menggunting dan menempel, namun bu mentor juga ngasih tips-tips menghias setiap potongannya dalam bingkai menjadi karya kreatif. Bagi pehobinya ini bukan hanya sekedar seni menghias foto, hanya untuk kepuasan mata. Namun juga bisa memiliki cerita, dan ada kenangan di dalamnya. Bagi saya yang hobi gunting dan tempel, rasanya senang dapet kertas-kertas dengan bahan bagus dan motif menarik yang jarang dilihat. Apalagi bu mentor berbaik hati membekali banyak oleh-oleh buat dikerjakan di rumah. Terima kasih banyak! __ Catatan : Jika berkenan, silakan mampir di @paperasesama beberapa karya scrapbook dalam bingkai akan saya simpan disitu, tentunya bisa dipesan juga. #scrapbook #diy #diycrafts #papèrasesama #scrapbookideas #scrapbookbandung #scrapbookinframe
0 4
2 years ago
Sejak 3 bulan terakhir, mang Ade "Gondrong" (45) melakoni profesi baru. Semula mengenal Mang Ade sebagai petugas kebersihan @masagi_tjibogo di kawasan Cibogo, Kota Bandung. Di kawasan yang sama Mang Ade kerap terlibat berkegiatan bersama teman-teman di Sedekah Benih. Beberapa hari lalu secara tidak sengaja bertemu kembali dengan Mang Ade di kebun Urban Organic Farm sekaligus studio @sedekahbenih yang dikelola oleh @mang_dian_77 di Sukawarna. Jika biasanya sehari-hari Mang Ade berkutat dengan sampah, sekarang dia punya kesibukan lain. "Ayeuna mah jadi distributor cai, mang. Naek jabatan," Mang Ade berseloroh. Saat bertemu kali ini Mang Ade sibuk mengisikan air bersih ke dalam galon-galon kosong. Usut punya usut, ternyata di Cibogo mengalami kesulitan air bersih. Di tengah kemarau berkepanjangan ini, Mang Ade dan beberapa warga di sekitar rumahnya harus menghadapi kenyataan jika sumurnya mengalami kekeringan. Guna menjaga ketersediaan air untuk keperluan Mandi Cuci Kakus (MCK) Mang Ade mengandalkan pasokan air bersih dari sumur di studio Sedekah Benih. Mang Ade mengaku jika air bersih yang ia tampung dalam galon kemasan sekali pakai dari merk salah satu air mineral ini hanya mampu digunakan untuk 8 kepala keluarga seja. Satu kali tampung Mang Ade bisa memenuhi sekitar 80 hingga 100 galon air. Secara bertahap ia angkut selama 3 kali bolak-balik dari kebun ke pemukiman menggunakan motor bak tiga roda. Sebetulnya permintaan untuk air bersih ini sangat tinggi dari warga lain juga, namun Mang Ade tidak menyanggupinya dengan alasan ada aktivitas lain disamping jadi "Distributor Cai" ini. Menariknya, Mang Ade sama sekali tidak memungut biaya atas layanan air bersih ini. Semua dilakukannya secara cuma-cuma dan gratis. Bisa dibayangkan jika layanan air bersih ini ia komersialisasi. Mang Ade menuturkan, di depot air isi ulang saja harga satu galon isi 19 liter dihargai Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu. Itu pun belum termasuk ongkos kirimnya. Namun Mang Ade tidak sampai hati jika harus menarik tarif atas apa yang ia lakukan. "Mun aya nu ngepeulan, nya ditampi. Henteu ge teu nanaon," pungkasnya. __ Nantikan videonya di @projectsesama 🍀 #bandung #kekeringan #climatechange
0 6
2 years ago
Seekor merpati atau dalam bahasa Latin disebut Columba livia domestica sesaat sebelum mendarat di Lapangan Kampung Saroja, Cimenyan, Kabupaten Bandung. Di Indonesia, merpati lebih dikenal dengan sebutan burung dara, di Prancis dijuluki Pigeon Biset sementara orang Spanyol memanggilnya Paloma Bravia. Merpati balap atau merpati batu merupakan jenis burung yang dekat dengan manusia. Mudah ditemukan, baik di sekitar lingkungan, wilayah publik, atau pusat keramaian, bahkan pehobi mengenalnya dalam ketangkasan merpati. Dalam bahasa Sunda, ketangkasan merpati ini disebut Ngeper atau Ngelepek. Lazimnya merpati jantan akan dilepaskan dari jarak ratusan meter hingga mencapai belasan kilometer untuk saling beradu kecepatan satu sama lain mencapai garis finish dengan dipancing oleh merpati betinanya. Untuk melatih kemampuan terbang jarak jauhnya, seekor merpati akan terbang bertahap dengan pancingan keberadaan betina di sisi tujuannya. Penerbang merpati akan membawa beberapa ekor dalam satu sangkar untuk dilepaskan secara bersamaan. Untuk mengontrol aba-aba dan instruksi terbang, seorang penerbang akan berkomunikasi lewat handy talkie dengan penerima merpati di garis finish. Semakin cepat merpati tiba di garis finish apalagi tepat pada betina tujuannya, merpati itulah yang mendapat predikat merpati juara. Apalagai jika sering memenangi perlombaan harga jual merpati akan semakin meroket. Pacu Dara, Adu Gengsi Ketangkasan Merpati. Segera selengkapnya di @projectsesama semoga berkenan, terima kasih. ✨
215 21
2 months ago
"Sampah di rumah itu dibuang kemana sih?" Bagi orang tua yang kerap menghadapi pertanyaan-pertanyaan "ajaib" dari sang buah hati, simak penjelasan singkat mengenai perjalanan sampah yang dikelola oleh ibu-ibu kelompok @masagi_tjibogo dengan gerakan Perelek Sampahnya yang dimotori oleh @mang_dian_77 ini. Gerakan sosial ini bukan sekadar pengelolaan sampah, tapi tentang kolaborasi, keberlanjutan dan upaya saling mendukung sesama warga. Tonton videonya sampai selesai dan bagikan ke orang terdekat kalian, pilah sampah dari rumah dan bijak kelola sampah rumahmu. #Everyoneachangemaker #ClimateCommunicationWorkshop
158 61
2 months ago
Tujuh Ereveld. Tujuh lanskap sunyi. Tujuh cara berbeda untuk berbicara tentang kehilangan. Saat mengerjakan pemotretan ini, tugasnya terdengar sederhana: memotret lanskap, merekam aktivitas pekerja, mendokumentasikan tata letak. Tetapi begitu mulai mengerjakannya, saya sadar ini bukan sekadar tentang geometri nisan dan komposisi simetris. Di Ereveld Pandu, Bandung lebih dari 4.000 korban perang disemayamkan, warga sipil dari kamp interniran dan anggota KNIL yang gugur di masa pendudukan Jepang dan pasca 1945. Di Leuwigajah, Cimahi komplek yang terbanyak dengan lebih dari 5.200 korban barisan nisan terasa tak berujung. Keduanya sama, hawa sejuk dengan Tangkuban Parahu di kejauhan. Di Ereveld Ancol, Jakarta Utara, suasananya berbeda. Tanah itu pernah menjadi lokasi eksekusi, sekitar 2.000 korban dimakamkan di sini. Desir angin membawa aroma laut yang tipis. Di Menteng Pulo, Jakarta Selatan dengan Gereja Simultan dan kolumbariumnya, saya melihat bagaimana ruang ini menjadi tempat berkumpul setiap 4 Mei dan 15 Agustus sebagai Hari Berkabung dan Hari Berakhirnya Perang Dunia Kedua di Asia. Di Kalibanteng, Semarang banyak makam perempuan dan anak berdampingan seperti kisah tentang ketangguhan yang luput dari sejarah. Sisi lain Semarang, di Ereveld Candi hampir 1.100 prajurit muda dimakamkan di antara lanskap perbukitan yang tenang, kontras antara alam yang indah dan perang yang getir. Di Kembang Kuning, Surabaya, lebih dari 5.000 kisah terikat pada Pertempuran Laut Jawa. Sebagai fotografer, saya tahu dokumentasi itu penting. Tapi, saya juga ingin menemukan sesuatu yang tidak tertulis di papan informasi. Sesuatu yang hidup. Dan di salah satu momen itulah, merpati itu datang. Ia terbang melintas di antara nisan bertuliskan “Onbekend” yang artinya tak dikenal. Sayapnya terbuka di tengah barisan nisan, ia menjadi satu-satunya gerak. Satu-satunya napas. Bagi saya, foto ini bukan sekadar momen unik. Ia seperti metafora kecil tentang harapan yang tetap bergerak di tengah ingatan kolektif. Tentang jiwa-jiwa yang mungkin tak lagi dikenali namanya, tetapi tetap memiliki martabat. Tentang damai yang tidak datang dengan sendirinya, ia harus dijaga, dipelihara dan diingat.
0 0
2 months ago
Tujuh Ereveld. Tujuh lanskap sunyi. Tujuh cara berbeda untuk berbicara tentang kehilangan. Saat mengerjakan pemotretan ini, tugasnya terdengar sederhana: memotret lanskap, merekam aktivitas pekerja, mendokumentasikan tata letak. Tetapi begitu mulai mengerjakannya, saya sadar ini bukan sekadar tentang geometri nisan dan komposisi simetris. Di Ereveld Pandu, Bandung lebih dari 4.000 korban perang disemayamkan, warga sipil dari kamp interniran dan anggota KNIL yang gugur di masa pendudukan Jepang dan pasca 1945. Di Leuwigajah, Cimahi komplek yang terbanyak dengan lebih dari 5.200 korban barisan nisan terasa tak berujung. Keduanya sama, hawa sejuk dengan Tangkuban Parahu di kejauhan. Di Ereveld Ancol, Jakarta Utara, suasananya berbeda. Tanah itu pernah menjadi lokasi eksekusi, sekitar 2.000 korban dimakamkan di sini. Desir angin membawa aroma laut yang tipis. Di Menteng Pulo, Jakarta Selatan dengan Gereja Simultan dan kolumbariumnya, saya melihat bagaimana ruang ini menjadi tempat berkumpul setiap 4 Mei dan 15 Agustus sebagai Hari Berkabung dan Hari Berakhirnya Perang Dunia Kedua di Asia. Di Kalibanteng, Semarang banyak makam perempuan dan anak berdampingan seperti kisah tentang ketangguhan yang luput dari sejarah. Sisi lain Semarang, di Ereveld Candi hampir 1.100 prajurit muda dimakamkan di antara lanskap perbukitan yang tenang, kontras antara alam yang indah dan perang yang getir. Di Kembang Kuning, Surabaya, lebih dari 5.000 kisah terikat pada Pertempuran Laut Jawa. Sebagai fotografer, saya tahu dokumentasi itu penting. Tapi, saya juga ingin menemukan sesuatu yang tidak tertulis di papan informasi. Sesuatu yang hidup. Dan di salah satu momen itulah, merpati itu datang. Ia terbang melintas di antara nisan bertuliskan “Onbekend” yang artinya tak dikenal. Sayapnya terbuka di tengah barisan nisan, ia menjadi satu-satunya gerak. Satu-satunya napas. Bagi saya, foto ini bukan sekadar momen unik. Ia seperti metafora kecil tentang harapan yang tetap bergerak di tengah ingatan kolektif. Tentang jiwa-jiwa yang mungkin tak lagi dikenali namanya, tetapi tetap memiliki martabat. Tentang damai yang tidak datang dengan sendirinya, ia harus dijaga, dipelihara dan diingat.
0 5
3 months ago
"Sayur-sayuran ini asalnya dari mana sih?" "Kalo sayuran ini ditanamnya sama siapa?" Bagi orang tua yang kerap menghadapi pertanyaan-pertanyaan "ajaib" dari sang buah hati, simak penjelasan singkat mengenai perjalanan sayuran dari @vaniavanya Penggerak Kawasan Gaharu Jawa Barat dengan inisiatif @kamisenitani sebuah gerakan kolektif yang menghubungkan petani dan konsumen melalui model Community Supported Agriculture bernama "Tani Sauyunan". Perjalanan ini bukan sekadar distribusi pangan, tapi tentang kolaborasi, keberlanjutan dan upaya saling mendukung antara petani dan pembeli. Tonton videonya sampai selesai dan bagikan ke orang terdekat kalian, dukung terus petani sekitarmu dengan memilih produk pangan lokal. #Everyoneachangemaker #ClimateCommunicationWorkshop
158 52
3 months ago
Studio Rosid, ruang sunyi yang menyimpan begitu banyak cerita. Suasananya serupa gerbang menuju masa lalu, di dinding dan sudut ruangan tersusun artefak pertanian dan perabot rumah tangga tempo dulu. Cangkul, tampah, alat dapur yang bagi sebagian orang mungkin usang, tetapi bagi Rosid adalah potongan memori yang hidup. Konsep “memori masa lalu” bukan sekadar gagasan artistik baginya. Ia tumbuh sebagai anak seorang petani dan ibu penjaga warung. Wangi tanah, bajak dan alat tani, serta kesederhanaan hidup kampung bukanlah nostalgia yang dibuat-buat, melainkan pengalaman yang membentuk dirinya. Tak heran jika studio itu terasa personal seolah setiap benda punya cerita yang disampaikan. Di satu ruang, terdapat perpustakaan pribadi yang intim. Deretan buku fotografi memenuhi rak. Rosid memang tak hanya menekuni seni lukis, tetapi juga mencintai fotografi. Ia menyimpan cetakan foto-foto kenangan, terutama kebersamaannya dengan keluarga di Parigi, Pangandaran. Bagi Rosid, foto itu bukan sekadar dokumentasi, melainkan cara lain merawat ingatan agar tak sepenuhnya hilang. Di sudut lain, terpajang karya berupa potongan pensil yang nyaris habis. Sisa-sisa itu ia kumpulkan dan susun di atas papan. Meski mungil namun jadi saksi perjalanan kreatifnya, setiap potongan adalah jejak dari satu lukisan, satu gagasan, satu emosi yang pernah ia tuangkan. Dari serpihan itulah lahir puluhan, mungkin ratusan karya. Namun, di antara semua yang tersimpan ada satu karya yang paling menggetarkan yaitu lukisan “Tulang Punggung”. Berukuran 2,5 x 2,5 meter lukisan itu menggambarkan sosok seorang bapak, figur pencari nafkah, penopang keluarga, simbol kekuatan sekaligus pengorbanan. Saat Rosid menceritakan karya tersebut, suaranya tak sekadar menjelaskan teknik atau konsep. Ada getar rindu yang terasa. Lukisan itu bukan hanya karya seni, melainkan penawar kerinduan kepada sang ayah yang telah berpulang. Di Studio Rosid, seni bukan sekadar estetika. Ia adalah cara mengingat, cara merawat tutur cerita dan cara mencintai masa lalu tanpa harus terjebak di dalamnya. Setiap sudut ruangan adalah pengakuan bahwa kenangan tak pernah benar-benar pergi, ia hanya menunggu untuk diceritakan kembali.
0 14
3 months ago
Surat untuk Anakku, Jenaka.
531 101
3 months ago
"Gempa itu apa sih?" "Kalo ada gempa, kita mesti ngapain?" Bagi orang tua yang kerap menghadapi pertanyaan-pertanyaan "ajaib" dari sang buah hati, simak tips singkat kesiapsiagaan bencana saat gempa dari @rzahra26 Ashoka Young Changemaker 2025 dengan inisiatif @jabartapa sebuah gerakan pelatihan bencana gempa bumi bagi anak dan remaja. Tonton videonya sampai selesai dan bagikan ke orang terdekat kalian. Dengan persiapan yang tepat, kita dapat melindungi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar saat situasi darurat terjadi. #Everyoneachangemaker #ClimateCommunicationWorkshop
180 110
3 months ago
100 Hari Perjalanan Studio Jenaka❤ Teman-teman, ijinkan saya dan istri berbagi sedikit cerita perjalanan mengenai ide usaha layanan Self Photo Studio ini. Kami namakan Studio Jenaka, sesuai dengan nama anak kami berdua. Sebetulnya ide usaha ini tak lantas datang begitu saja. Kami berdua pernah berencana menjual pakaian bayi, perabot rumah tangga hingga makanan camilan. Namun, kadang kemujuran tak selalu menyertai kami. Pasca insiden scamming yang menimpa pada empat tahun lalu rasanya kehidupan kami serba melambat. Cita-cita punya usaha mesti kandas begitu saja, kami menyalahkan keadaan. Untungnya ada Jenaka, anak kami yang menjadi asupan penyemangat baru. Kami mengumpulkan sisa-sisa energi yang mungkin saja bisa menggantikan harap yang sempat pupus kala itu. Medio 2021 sampai saat ini saya dan istri, berpikir untuk kembali membuka usaha. Survey tempat sana-sini, tempatnya cocok harga sewanya tidak, haha. Begitu pun sebaliknya. Bahkan pernah sekali waktu, kami berencana membuka toko perabot rumah tangga, tempatnya kami anggap representatif. Selang beberapa hari kami survey kembali, tempatnya sudah ada yang sewa, toko perabot juga. Saya dan istri cuma bisa tersenyum kecut. Sebetulnya istri yang pandai membaca peluang, saya tim laden saja, ahaha. Hingga pada satu hari istri mengusulkan buat buka layanan studio foto mandiri, bahasa kerennya Self Photo Studio. Paparan alasannya detail, ini itu segalanya ia ungkapkan. Saya kagum, ini yang buat saya jatuh hati padanya. Kami segerakan eksekusinya, saya anggap besok akan terlalu terlambat hari ini atau tidak sama sekali. Persiapan membuka studio ini kami garap berdua, dengan energi sebisanya. Untungnya kami punya teman-teman yang baik-baik. Hari ini tepat 100 hari studio kecil ini buka dan melayani "bestie-bestienya" @dearshabrinas ahaha, beruntung istri yang dulu aktif di pendidikan anak bak menemukan kembali dunianya. ❤ Teman-teman kalo kebetulan sedang mengarah ke timur Kota Bandung, mampir ke studio kecil kami yaa, senang rasanya jika teman-teman juga follow @studiojenaka mohon doanya juga biar bisa jadi UKM, Usaha Kecil Mendunia. Salam, Djuli, Shabrina & Jenaka. 🙆🏻‍♀️
0 34
11 months ago