Dulu, museum identik dengan kata “membosankan” atau “topiknya terlalu berat”. Tapi belakangan, tren mulai berubah. Masyarakat mulai melirik museum sebagai destinasi edukatif bagi keluarga. Museum-museum pun mulai berbenah, dari fasilitas hingga tata pamer yang makin estetik.
Namun, masih ada satu hal yang sering luput diperhatikan, yaitu NARASI-nya.
Seringkali saat anak-anak datang ke museum dan melihat benda asing yang sedang dipamerkan, mereka memiliki banyak pertanyaan yang sangat menarik untuk didiskusikan. Sayangnya, label penjelasan di dinding seringkali tidak mudah dicerna oleh anak-anak, alias ”not children friendly". Bahasanya terlalu berat, penuh istilah teknis, yang akhirnya membuat anak-anak pulang hanya membawa pengalaman visual tanpa pemahaman mendalam.
Itulah mengapa kami di
@catara.id hadir. Kami ingin mengisi kekosongan tersebut. Melalui berbagai program menarik bagi anak-anak, kami mencoba mengemas sejarah dan budaya lewat dongeng wayang kertas, permainan interaktif, lokakarya, hingga percobaan sederhana seperti meracik jamu tradisional. Kami percaya, dengan pengalaman langsung yang menyenangkan, anak-anak akan lebih mudah mengingat suatu pengetahuan daripada hanya sekadar membaca teks singkat di papan pengumuman yang seringkali tidak ada konteks kelanjutannya.
Karena bagi kami, belajar sejarah bukan soal menghafal tanggal dan tempat kejadian. Kita belajar sejarah untuk memahami siapa diri kita hari ini. ✨
Mari buat museum jadi tempat yang tak hanya estetik untuk berfoto, tapi juga ruang tumbuh yang kaya makna, terutama bagi anak-anak dan keluarga❤️
📸
@omen___
#kisahsahabatnatgeoindonesia #ksngmaret2026 #ceritaanaknusantara #edukasianak #museumjakarta