Gusti, lagi bikin apa sekarang? Gimana kehidupan di sana? Gimana obrolan spiritual kita? Banyak ngawurnya ya? Gus, ga gelap hampa nan abadi kan? Kamu ada kan? Huhu…
Gus, aku belum sempet cerita: setahun belakangan kadang aku sering membayangkan kalo setelah kehidupan ini, jangan-jangan hanya ada kehampaan gelap, seperti segala sesuatu yang belum dilahirkan. Dan kalo emang begitu, aku sempet merasa berdamai dengan skema itu.
Tapi sejak kamu pergi, aku ga mau bayangin itu lagi. Hanya karena aku percaya kamu tetep ada, Gusti. Walau ga masuk akal, aku sangat berharap kamu membawa semua kenanganmu di sini, dan dari sana, entah di mana pun kamu kini berada, semoga kamu semakin menjadi pelita serta pelipur lara bagi dunia yang penuh luka ini, Gus. Aku yakin, Tuhan memanggilmu untuk tugas itu: karena kejujuranmu, keluguanmu, kecerdasanmu, keindahanmu, dan kelucuanmu yang tumbuh apa adanya tapi membawa keajaiban bagi banyak orang.
Gugus, kalo kamu bisa baca tulisan ini, aku muohooon banget… mampir-mampirlah ke dalam mimpi tidurku, ya. Aku posting di sini biar bisa dibaca banyak orang ya, Gus. Siapa tau permohonanku jadi makin kuat untuk mendobrak semesta hingga sampai kepadamu.
Juni 2023. Kala itu saya diminta membuat Pergelaran Swara Gembira untuk merayakan HUT Jakarta, tentu saja saya sudah menyiapkan “hadiah”. Kebetchulan akuh tuch pernah menciptakan lagu berjudul “Berkacalah Jakarta” yang niat-nya sich mau menjadi keterbalikan dari lagu “Halo Jakarta”-nya Mas Guruh xixixi dan sebenernya judul lagu itu kucomot dari lagunya Om Iwan Fals dengan judul serupa. Musyiknya diproduseri oleh @eriksonjayanto yg sekarang lagi patah hati mulu di satu dan dua hari.
Syering aja nich, penggalan syair pada tayangan di atas, saya terilhami dari kutipan Bung Karno: “Kalau kita tidak bisa menyelenggarakan sandang, pangan di tanah air yang kaya ini, maka sebenarnya kita sendiri yang tolol, kita sendiri yang maha tolol.” #takut
Agustus-September 2019. Kala itu pertama kalinya Indonesia Raya 3 stanza berkumandang dalam acara hiburan publik oleh Swara Gembira. Tentunya keputusan saya ini didorong sekali oleh Mas Guruh Sukarno Putra. Saya mencoba mengembangkan ide tentang pengaba-nya (dirigen) supaya tidak hanya tampil seperti pengaba biasa. Maka lahirlah sebuah fantasi “Sri Sang Hyang Saka Merah-Putih” yang kala itu pertama kali-nya diperankan oleh kakak @louisemoniques . Akhirnya hingga sekarang Sri Sang Hyang Saka Merah-Putih menjadi sesosok tokoh wajib dalam setiap pergelaran Swara Gembira.