buah pikiran secangkir kopi.
terkadang hati bisa merubah logika. merelakan dianggap melepas, memperjuangkan dianggap memaksa, ikhlas dianggap menyerah, memberi sayap dianggap merantai.
kita adalah orang tua yang punya anak bernama logika dan hati.
seumur. berbeda gender. berbeda sifat
saat mereka ingin dipangku bersama, sedangkan kaki hanya cukup memangku 1 diantara mereka.
disitulah mereka saling berkonspirasi untuk mendapatkan pangkuan kita.
yang paling sedih tangisannya akan kita pangku dahulu
bukannya aku meng anak haramkan logika. tapi ingat, hati selalu manja. dia akan selalu ingin dipangku, sedangkan logika? logika selalu melihat hati dipangku olehku dengan mata penuh harap "bagaimanakah rasanya di pangku ayah terus menerus, aku ingin" dan saat aku menurunkan hati dari pangkuan ku. ia berkata "tidak usah, ayah lelah sudah memangku hati" sambil tersenyum dan memijiti kaki ini dengan sabar dan giatnya. disitu kita sadar, betapa kita sudah merasa bodoh menjauhkan si logika
yang dewasa (sifat) akan selalu mengalah dengan ke kanak-kanakan. seperti itu lah konspirasi antara hati dan logika. 2 saudara saling menyayangi tapi saling berpaling pandangan satu sama lain (maap caption bawel) -bar
ego namanya. ego yang berubah jadi gengsi. berharap mereka ingin selalu di ketok dahulu oleh kita lalu dia buka dengan wajah pura-pura bangun tidur. padahal dia menunggu. sampai kapan?