We are excited to share the first screening and presentation of Dr. Samsi (Ratna Asmara, 1952) - digitization version and Merangkai Ratna Asmara (Ersya Ruswandono, 2023) documentary in Kuala Lumpur and Bangkok..
Our members Lisabona Rahman and Efi Sri Handayani - a proud film archivist will also present “Who Cares For the Forgotten” that share the carework and collaboration innitiative on Dr. Samsi (1952) and Aladin (1953), in SEAPAVAA conference at Ipoh.
Besides, together with Umi Lestari, Efi Sri Handayani, and Julita Pratiwi will present a performative lecturer: “Against Archival Amnesia: Ratna Asmara and Collective Act of Recovery” in 3rd Global Audiovisual Archiving (GAVA) in Salaya.
Stay tune for the detail info.
SEA, here we come~~
#sebutnamapuan #womenfilmhistoriography #filmpreservation #kelasliarsip #mainketetangga
HAI WARGA! Sabtu ini ngapain nih? Yuk kumpul lagi bareng FPJ! 🌸
Kali ini Komunitas Film Pendek menghadirkan Screen Kalcer edisi ke-4 sambil merayakan Hari Kartini lewat film, cerita, dan karya-karya perempuan yang layak banget buat didengerin 💐
Lewat program ini, kita coba buka lagi arsip, sejarah, dan suara perempuan dalam film yang sering luput dari perhatian. Bukan cuma nonton, tapi juga mengingat, membaca ulang, dan ngobrol bareng tentang bagaimana perempuan dinarasikan lewat karya.
Rayakan Hari Kartini bareng sambil menikmati agenda: — Pemutaran film pendek — Ngobrol santai bareng filmmaker — Mini art exhibition — Pop up market kecil-kecilan — Dramatic reading
📅 Sabtu, 25 April 2026 📍 Onkel John’s, Tebet
🎟️ RSVP 35K (udah dapet minum 😉) 🔗 bit.ly/SK4WomenInFilmmaking
Terbuka untuk umum yaa!
#ScreenKalcer4 #FilmPendekJakarta #ScreeningFilmPendek
Warga, mystery film yang kemarin kita simpen, waktunya kami spill 👀
🎬 Film opener SCREEN KALCER #4: Merangkai Ratna Asmara, (Dir. Ersya Ruswandono) dari Kelas Liarsip.
Film ini jadi pembuka yang penting untuk program Women in Filmmaking karena menyoroti hal yang sering terlewat: sejarah perempuan di perfilman Indonesia nggak cukup cuma dikenang, tapi juga perlu dibuka lagi, dibaca lagi, dan diarsipkan ulang.
🕓 Sabtu, 25 April 2026
16.00–18.00 WIB
📍 Onkel John’s Jakarta
Jl. Tebet Dalam IV No.1X, Tebet Barat, Kec. Tebet, Kota Jakarta Selatan
Dateng dari awal ya warga!
🎟️ HTM 35K (termasuk minuman)
🔗 bit.ly/SK4WomenInFilmmaking
Mari nonton, diskusi, dan seru-seruan warga. ✨
Minggu ini, #SekolahPemikiranPerempuan 2026 memasuki Modul 2 dengan topik-topik bahasan Politik Gender dalam Seni dan Budaya. Modul ini mengajak peserta melihat praktik kerja seni budaya secara kritis. Peserta akan memasuki ruang-ruang pembelajaran yang mempertanyakan mengapa banyak nama perempuan terhapus dari sejarah, mempersoalkan kerja-kerja seni budaya yang bias gender, dan menajamkan karya melalui perangkat kerja feminisme interseksional.
Pada pertemuan 1 ini, @liarsip akan mengajak peserta menelusuri jejak Ratna Asmara, sutradara perempuan pertama dalam sejarah sinema Indonesia. Kelas kali ini membuka ruang untuk membaca ulang sejarah yang dipenuhi relasi kuasa, seleksi, dan penghapusan.
#pemikiranperempuan #belajardaripuan #ruangbelajarperempuan #ruangbelajarnonbiner
Setelah 3 tahun penelusuran bersama, kami datang ke kediamannya pada 22 November 2024. Kali ini kami berangkat satu tim yang beranggotakan Julita Pratiwi, Umi Lestari, Efi Sri Handayani, dan Ersya Ruswandono. Saat ditemui di kediamannya di area Jakarta Barat, Pak IT telah menginjak usia 93 tahun. Ia tampak begitu hangat dan antusias bercerita dengan kami. Ia yang sebelumnya santai duduk di sofa, mencoba duduk tegak saat hendak bercerita. Pak IT menceritakan banyak hal berdasarkan ingatannya yang masih baik untuk melihat kembali situasi umum perfilman Indonesia kala itu.
Dari pertemuan tersebut, kami mengetahui bahwa Pak IT berkolega dengan Ratna Asmara. Pada awal tahun 1950-an, Pat IT dan Ratna bekerja di perusahaan film, Djakarta Films. Perusahaan ini tak lain milik The Theng Chun atau Idris Tahyar, ayah Irwan. The Teng Chun sendiri merupakan pionir studio film di Indonesia yang memulai karir di tahun 1930-an dengan pembuatan Java Industrial Film. Ia-lah produser untuk film yang dibintangi Ratna Asmara seperti Kartinah (1940) dan Ratna Moetoe Manikam (1941). Lalu pada tahun 1954, Irwan Tahyar dan Ratna Asmara berangkat ke Italia untuk belajar pembuatan film di Centro Sperimentale di Cinematografia, sekolah film bergengsi tempat para sineas Neorealisme Italia menjadi alumninya.
Pak IT adalah juru kamera untuk film Dr. Samsi. Film yang disutradarai Ratna Asmara ini merupakan kolaborasi dua perusahaan yakni Djakarta Films dan Asmara Film. Irwan Tahyar dalam wawancara menekankan bahwa ia menggunakan pseudonym Sofyan, meminjam nama pamannya, di kredit titel Dr. Samsi. Pernyataan ini membuat kami bahagia. Sekian lama kami mencari ahli waris Dr. Samsi, berjumpa dengan beragam kegagalan - dari gagal mengetahui kuburan Ratna dan ketinggalan momen untuk mengontak salah satu aktor Dr. Samsi - kami malah berjumpa dengan sinematografer filmnya. Setelah menjalankan penelusuran selama empat tahun ini, kami akhirnya bertemu dengan satu-satunya sosok yang bersinggungan langsung dengan Ratna Asmara dalam hidupnya.
Detail dapat dicek di artikel kami di web. Ditulis bersama Julita Pratiwi & Umi Lestari.
Kredit Foto Slide 1 - 3: Sinematek Indonesia, Aneka, dan Vincent.
Pada Sabtu, 20 Desember lalu “I Saw Her in Motion” karya perdana film panjang personal kawan kami Umi Lestari rilis. Karya komisi merespon 20 tahun konvensi UNESCO ini mengajak kita menyelami perjalanan penelusuran Umi dalam mencari benang merah koneksi para kreator puan di masa lalu.. kita diajak melihat lebih dekat Roekiah, Ratna Asmara, Kay Mander.. menjelajahi artefak surat kabar masa lalu.. merasakan membaca langsung film dengan steenback ataupun proyektor.. pertanyaan” yang menyelinap di benaknya antara yang terjawab atau tak pernah terjawab..
Umi Lestari merupakan salah satu dari 4 seniman ataupun kolektif, bersama dengan Irama Nusantara (Dari Ngak Ngik Ngok ke Dheg Dheg Ples), Gegerboyo (Segoro Gunung), dan MIVUBI kolektif (RAMpogan Arena) yang dipilih untuk pameran yang dikuratori Farah Wardani & Ignatia Nilu.
I Saw Her in Motion kredit. Penata Kamera Efi Sri Handayani & Star Jessalyn. Editor Mahardhika Yudha.
#sebutnamapuan #isawherinmotion #konvensiunesco
Pada Minggu 23 November lalu, dengan berbahagia kami hadirkan program pemutaran dan presentasi “A Closer Looks on Post War Women Filmmakers: Reminiscence the Works of Ratna and Kinuyo”.
Program ini didesain sebagai bentuk upaya mengangkat dan membicarakan kembali sutradara perempuan Asia yang berkiprah membuat karya film pasca perang, baik Ratna Asmara (l.1913) dan Kinuyo Tanaka (l.1909) mengawali karirnya sebagai seniwati pertunjukan dan aktor film sebelum duduk di bangku sutradara. Mereka sedikit dari perempuan pada zamannya yang cukup disegani dan konsisten dalam membuat film fiksi panjang yang beredar secara komersil. Sadar betul akan dunia balik layar yang kerap didominasi laki-laki, menarik melihat bagaimana keduanya beraliansi maupun berjarak dengan skena orang film di zamannya.
Melalui presentasi singkat, padat dan instens dari Yuka Kanno mengenai Kinuyo Tanaka dan Umi Lestari mengenai Ratna Asmara - kita dapat melihat linimasa hidup kedua sutradara perempuan ini dan tawaran estetika yang dihadirkan melalui film-filmnya. Bagaimana keduanya tampak tidak serta merta ingin melanggengkan stereotipe tertentu.. mengeksplorasi bahasa dan estetika film tertentu yang tidak terperangkap pada tradisi dominan..
Presentasi dan diskusi dipandu oleh Rainda Cuaca. Diantara presentasi diputar film Forever a Woman (Kinuyo Tanaka, 1955) dan Dr. Samsi (Ratna Asmara, 1952).
Terimakasih untuk segenap kawan-kawan yang hadir untuk menyaksikan film, presentasi, dan aktif terlibat diskusi.
Dokumentasi foto oleh Amalia Sekarjati
Kegiatan ini didukung oleh Japan Foundation, Dewan Kesenian Jakarta Komite Film, dan Rubanah Underground Hub.
#throwback #sebutnamapuan #womenfilmhistory
Dear friends and colleagues,
Greetings!
We would like to invite you to come to Ratna x Kinuyo Film Screenings & Talks.
We will get to know the life, film career, directorial works of the early women film directors of post war Asia - Kinuyo Tanaka (b.1909) and Ratna Asmara (b. 1913). The event will be held in:
Rubanah Underground Hub
Sunday, 23rd November 2025
1 PM to 6.30 PM.
Here are our breakdown for the event:
Forever a Woman (Kinuyo Tanaka, 1955)
Presentation from Yuka Kanno and Umi Lestari about the life and works of Kinuyo Tanaka and Ratna Asmara, moderated by Rain Cuaca
Dr. Samsi (Ratna Asmara, 1952)
We are hoping for your attendance!
Registation Open 12.30 PM.
Check our bio for registration~
See you in Rubanah!
Designed by Amarawati Ayuningtyas
#sebutnamapuan #ratnaasmara #kinuyotanaka #drsamsi #foreverawoman #dewankesenianjakarta #dinaskebudayaan #kineforum #japanfoundation
Teruntuk kawan-kawan terkasih,
Kita ingin mengajak kalian untuk hadir di kegiatan Pemutaran Film dan Bincang-bincang Ratna x Kinuyo (A Closer Looks of Post War Women Filmmakers: Reminiscene on the Works of Ratna and Kinuyo). Di sini kita akan diajak untuk kenalan dengan kehidupan, karir, dan kerja penyutradaraan dari sutradara perempuan awal di Asia - Kinuyo Tanaka (l. 1909) dan Ratna Asmara (l.1913) yang sama-sama aktif di dekade pasca perang 1950-an. Kegiatan ini akan berlangsung di
Rubanah Underground Hub
Minggu, 23 November
13.00 - 19.00 WIB.
Berikut rincian kegiatan nanti:
Forever a Woman (Kinuyo Tanaka, 1955)
—-
Presentasi dari Yuka Kanno & Umi Lestari tentang Kinuyo Tanaka and Ratna Asmara, dimoderasi oleh Rain Cuaca
—-
Dr. Samsi (Ratna Asmara, 1952)
Acara ini tak dikenakan biaya dan bisa RSVP di link bio kami “Daftar Ratna x Kinuyo”.
Kita tunggu kehadiran kawan-kawan semua!
Sampai jumpa di Rubanah!
Salam hangat,
Kelas Liarsip
Designed poster by: Amarawati Ayuningtyas
#ratnaxkinuyo #sebutnamapuan #ratnaasmara #drsamsi #kinuyotanaka #foreverawoman #womencinema #jakartaartcouncil #dinaskebudayaanjakarta #dkj #kineforum #japanfoundation #rubanahundergroundhub
Di @jakartafilmweek setelah pemutaran program Herstory, Diajeng sempat ngobrol bareng Julia Pratiwi, peneliti film yang tergabung dalam @liarsip . Kami tanya siapa dua sutradara film perempuan Indonesia yang mesti kamu ketahui.
Menurut Julia, mengenal kembali Ratna Asmara dan Sofia W.D. berarti menggali ulang sosok penting yang telah lama hilang, agar generasi hari ini dapat memahami perannya dalam sejarah sinema Indonesia.
Dalam sejarah film kanon, misalnya, nama Ratna Asmara lebih sering disebut sebagai aktor daripada sutradara.
Kondisi ini nggak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di banyak sinema dunia yang perlahan menghapus jejak perempuan di balik layar.
Dari sekian banyak film klasik yang didigitalkan pemerintah, tercatat baru dua karya sutradara perempuan, milik Ratna Asmara dan Sofia W.D.
Julita Pratiwi, Lisabona Rahman, dan Umi Lestari menghadiri FIAT/IFTA World Conference 2025 pada 30 Oktober di Roma, Italia, dengan tema ‘Everything is possible and nothing is true?’. Konferensi ini antara lain menyoroti pengarsipan feminis, termasuk reinterpretasi sejarah dan visi masa depan.
Kelas Liarsip membawakan presentasi berjudul ‘Routing the Pilgrimage: Devising Ratna Asmara’, yang dimoderatori oleh Lisa Kerrigan (Kurator Senior Televisi di British Film Institute). Presentasi ini mengupas kerja riset sejarah kehidupan dan karya sutradara Ratna Asmara (1913-1968) dengan dukungan ‘Indonesiana TV’, platform penyiaran untuk seni dan budaya.
Proyek ini bertujuan memperluas pengakuan terhadap kontribusi perempuan dalam industri film, yang selama periode 2014-2021 hanya mendigitisasi satu karya sutradara perempuan, ‘Halimun’ oleh Sofia WD (1982). ‘Dr. Samsi’ (1952) karya Ratna menjadi film kedua yang didigitisasi dengan dana publik.
Jumlah sutradara perempuan pra 1998 yang tercatat hanya di bawah 2%. Kelangkaan ini tercermin dalam keheningan dan ketidakhadiran dalam arsip. Karya mereka memperoleh perhatian dan perawatan minimal, yang mengakibatkan pelapukan kimiawi tingkat lanjut. Penghapusan jejak mereka berkembang perlahan tapi pasti selama berdekade pembatasan ruang sipil untuk meneliti sejarah - di bawah sensor rezim militer yang kini sepertinya hidup kembali.
Kelas Liarsip membagikan refleksi dari proyek kolaboratif yang melihat ke pinggiran arsip yang sudah mapan. Proyek ini berjalan dengan menciptakan alur kerja digitisasi dan restorasi lokal, mengakui karakter teknologi yang tersedia di Jakarta. Prosesnya didokumentasikan dalam serial ‘Merangkai Ratna Asmara’, produksi bersama Indonesiana TV, memfasilitasi pembentukan tim kreatif yang mayoritas adalah perempuan. Proses yang berjalan merupakan perpanjangan ziarah jejak kerja perempuan yang dilakukan secara kolektif dan lintas disiplin, melibatkan generasi baru pembuat film perempuan serta institusi publik. Sayangnya, nasib Indonesiana TV di dalam pemerintahan baru belum dapat dipastikan keberlanjutannya. Akankah karya bersama ini dapat selalu diakses oleh generasi mendatang?
#sebutnamapuan
Kelas Liarsip di tahun ini senang sekali menjadi community partner dan mengisi talks dari program Herstory. Dari Liarsip ada Julita Pratiwi, bersama Hannah Al Rashid aktor dan pendiri kolektif Kawan Puan, M. Kanz Daffa - sutradara Will Today e a Happy Day? dan dipantik oleh Raslene - programmer JFW. Program khusus untuk merayakan dan mensirkulasi pengetahuan akan film perempuan - baik dari sutradara puan atau tentang isu-isu perempuan, gender dan interseksi lainnya.
Herstory tahun ini diisi dengan kompilasi film yang menarik dari Will Today be a Happy Day? (M. Kanz Daffa, 2025), Bitter Chocolate (Sahar Satoodeh, 2024), The First Time (Giulia Cosentino & Perla Sadella, 2025), Five Ways to Get Rid of Hickey (Colectivo Ninita Perversa, 2024), dan Razeh-Del (Maryam Tafakory, 2024).
Bagi kawan” yang terlewat film” pendek dan lainnya dapat dikejar melalui platform OTT Vidio, kamu bisa mengakses beragam film terpilih yang telah tayang selama Jakarta Film Week 2025.
Ada film animasi keren, film untuk anak-anak, hingga film Jakarta Film Fund, termasuk Salon Gue Aje yang telah meraih Jakarta Film Fund Award 2025!
🍿 Jadi bagi kamu yang terlewat festival offline tahun ini, kamu bisa streaming film dan nonton dengan teman, keluarga, ataupun sendiri dari manapun kamu berada di Indonesia — hingga 31 Desember 2025❗
Jangan lewatkan, klik langsung https://bit.ly/JFW25FestivalFilmOnline 🔗
Kredit Foto: Jakarta Film Week Team #JakartaFilmWeek #JakartaFilmWeek2025 #herstory #sebutnamapuan