“Kurre sumanga.
Salama’ sitammu sule”
Rasa itu datang malam ini, lewat aroma kabut yang seolah masih menempel di telapak kenangan.
Seakan kulihat lagi lembah-lembah hijau itu, tempat ku berhenti hanya untuk mendengarkan angin yang menyentuh daun-daun dengan lembut sekali, seolah tau bahwa aku memikirkan sesuatu.
Di antara tongkonan yang berdiri kokoh seperti penjaga waktu, mereka pernah tertawa tanpa alasan yang penting, lalu hangatnya kini pelan-pelan sekali kembali sebagai bayangan, seperti seseorang yang rindu tetapi tak berani mengetuk.
Semuanya berlalu, namun tenangnya kota itu masih memanggilku tanpa suara, tanpa tanda, hanya lewat rasa yang tiba-tiba muncul di dada ketika sore menghilang.
Dan aku mengerti, beberapa kenangan tidak benar-benar hilang, mereka hanya memilih tinggal, menungguku pulang dalam cara yang lain.
Dua bulan di bandung ko ga berasa ya?
“Iya sutingnya sehat, manusianya juga sehat”
“Yah gabisa liat robot lagi gue”
“Aiiiihh sikat”
“Nama kamu tagor ya?”
“Gabisa gitu men”
“Hamdan hamdan hamdan”
“Di amuk marugul”
Angin berhembus membisikkan sebuah harapan,
saling beriringan di bawah langit tanpa beban.
Tertawa bersama hingga senja tiba menyapa,
menjahit sebuah mimpi dalam serangkai kata.
Lelah yang bercampur rindu tak pernah terbayang,
Rasa syukur datang lalu waktu pergi menghilang.
Kini jejak itu hanya tinggal bayang,
Terbungkus rapi di dalam sebuah kenang.
Langkah yang dulu pernah sejajar erat,
perlahan menjauh, dan tak lagi terlihat dekat.
Tak bisa lagi kita ulang kisah dimasa itu,
seperti ombak yang berderu pergi berlalu.
Namun di hati, ia akan tetap ada,
bersinar lembut, meski jauh berbeda.
Perjalanan usai, namun tak akan menghilang,
Semua hal indah, tertinggal di hati yang tenang.
Terimakasi Rombongan Sirkus🤡
Kita tetap serius, meskipun hanya makan jagung rebus.🤡