survival mode never felt this soft, fun, exciting, and flowerfuly.
Menghabiskan waktu ke waktu, menuntaskan hariankuâkuliah dan kerja dan pilihan bjirmoment lainnyaâdengan menutupnya hari berzama nonton @seonho__kim . Sesederhana nonton, lalu yang sedang berat akan terasa berlalu ketika hobi-hobi lainnya sudah tidak lagi sederhana untukku. Bagiku rutinitas ini adalah survival mode compact untuk tetap menikmati pilihan yang sedang kujalani.
25 April kemudian, aku âmenghadapiâ rasa senang itu dengan tambahan emosi-emosi lain. Setelahnya aku tetap setuju bahwa:
survival mode never felt this soft, fun, exciting, and flowerfulyââand savedđ¸đźđ
I ran and rent for living better, too.
Selama menyelami kehidupan tokoh Ah Jeong dalam 195 halaman, aku menangkap similaritas perspektif yang kusadari dalam menentukan hunian: murah. Banyak aspek yang kemudian terabaikan untuk sampai memandang ruang tersebut layak menjadi tempatku hidup. Salah satunya toilet.
Aku baru menyadari bahwa toilet seringkali bukan prioritasku. Aku tidak pernah benar-benar mempertanyakannya detailnya, tidak menyadari bahwa ruang ini sama privatnya dengan kamar. Lalu kusadari bahwa toilet menjadi standar penting kualitas hunian: yang jongkok atau yang duduk, di kamar mandi luar atau di kamar mandi dalam. Jenis toilet kemudian sangat mengontrol definisi hunian: harganya, kenyamanannya, bahkan mampu menjadi alat klasifikasi âyang elitâ dan âyang biasa ajaâ.
Tapi toh, aku pun seperti Ah Jeong. Bagi kami, apapun kondisinya, kami akan tetap kabur dari rumah dan membangun ârumahâ lainnya. Bersama dengan apapun kondisi toilet di dalamnya, Ah Jeong tetap hidup dengan keputusan kabur. Rasanya seperti membayar untuk hidup yang lepas kekang dengan kondisi toilet yang carut marut. Makna âkehidupan nyamanâ bebas dibentuk sendiri.
Salah satu bentuk paling ideal kehidupan nyaman bisa berupa kebebasan menentukan pilihan. Kabur dari rumah tidak cukup, hidup dengan layak tetap harus. Cukup uang dan kemapanan masih menyangkut dalam bayangan Ah Jeong. Hidup harus benar-benar lebih baik sembari menutup rapat-rapat carut marutnya toilet yang selama ini sebagai mahar yang mahal untuk segalanya.
Toilet menjadi makin privat: membungkam banyak rahasia, kepenyakitan, dan segala yang paling tidak manusiawi. Di toilet Ah Jeong, setiap hening adalah berisik yang paling lantang. Hidupnya begitu bergantung pada setiap waktunya di toilet, memohon agar flush bisa menyiram habis segala misteri untuk masuk ke dalam lubang gelap. Begitupun di toiletku, di toiletmu, dan di toilet siapapunâselalu ada yang berkecamuk, kemudian luruh bersama setiap suara air sebagai makna tuntasnya urusan di ruangan ini.
Rahasia demi rahasia. Yang ditutup semakin terkubur.
I ran, so did Ah Jeong.
but what kind of better live we rent from this life?
Aku begitu marah dengan situasi-situasi belakangan, tapi karena emosi buta itu, aku jadi mencari jalan mengenai alasan-alasan aku ingin dan harus tetap marah.
Selama 4 hari perjalanan ke Bogor dan Gunung Tilu, aku mengalami langsung apa dan siapa yang terlibat dalam satu ekositem utuh hutan dan lahan hijau. Biodiversitas dan pengetahuan tubuh, yang selalu kudengar dan kubahas ulang, menjadi begitu nyata dan membuatku luar biasa kecil. Aku menjadi merasa inferior, seolah-olah segala yang tidak kutahu menodongku tepat di depan mata: kenapa baru tau sekarang? Kenapa begitu⌠telat?
Bentuknya begitu hangat sampai padaku: pertemuan, obrolan ini dan itu, uluran tangan, pengalaman untuk mengamati dan mengalami. Dari semua itu, pengetahuan hadir di antaranya. Segala yang kuterima seperti menjelaskan bahwa aku bukan apa-apa. Hakku tidak pernah lebih dari. Hidupku setara dengan pentingnya hidup mereka dalam jagad sebesar ini.
Lalu pada setiap jalan yang membuatku ingin mundur, atau pohon yang begitu BESAR, atau mereka yang tidak familiar, membuatku majuâperlahan sekali. Sembari berkenalan dengan mereka, sembari aku berkenalan ulang dengan diriku sendiri.
bgr, jkt, cbn, kngâ2026
Nanti aku akan mampir lagi.
Demikianlah beberapa Kota âberbicaraâ padaku seolah aku seorang teman baru dalam sebuah ruang transit. Begitu sebentar, begitu pada lapisan terluar, tapi kami terus âsaling bicaraâ.
Pada percakapan itu, aku menyoroti beberapa ruang dalam dirinya, melihat peristiwa dalam sekelebat sehingga aku turut mencoba mengerti dan menjadi seperti apa yang Kota mau.
Melihat Kota memiliki ruang.
Melihat ruang-ruang berpenghuni.
Melihat penghuni membentuk fungsi.
bgr, jkt, cbn, kngâ2026
Nanti aku akan mampir lagi.
5594 yang diisi dengan perpindahan, bertemu, belajar, melepas, transit, bangga, berpisah, kehilangan, bungah, terluka, antusias, marah, dan hal-hal lainnya yang menjadikanku terbentuk.
setiap tahunnya adalah aku yang kuncup, mekar, dan layu, tapi selalu mencari cara menjalar untuk tetap hidup subur. rahayuđ¸đ