Seandainya aja, …
Aku punya kesempatan untuk diagnosa pakai tools yang aku punya ke orang-orang di balik keputusan yang cukup memuakkan & gaib belakangan ini, kira-kira apa ya traits yang muncul di mereka-mereka ini? Sampe bisa buat keputusan seperti itu. Apalagi rasanya makin ke sini, situasinya makin ke sana.
Tapi, aku disadarkan kalau kapasitasku hanya untuk diagnosa perilaku makhluk yang disebut manusia (kategori di luar ini belum bisa), akhirnya aku batal lanjutkan berandai-andai.
Semoga yang sedang diuji, diberi kekuatan untuk menjalaninya walaupun pastinya sangat nggak mudah buat mereka yang di posisi itu, juga orang-orang di sekelilingnya.
#riplogic #sureal #heran
Bersyukur dikasih kesempatan beberapa waktu belakangan ini buat mengalami langsung tentang pentingnya SHOWING UP. Buat kita sendiri, juga buat orang-orang yang berarti buat kita.
Keluar sebentar dari rutinitas, habisin waktu sama keluarga di tempat baru, buat support graduation adik ipar, sampai ketemu teman-teman baru. Dengerin cerita dan POV mereka, sangat membuka mata kalau setiap orang punya POV dan struggle yang beda-beda, walaupun kadang nggak keliatan dari luar.
Yang keliatannya baik-baik aja, ternyata sedang berusaha untuk menata ulang setelah melewati masa-masa berat.
Yang keliatannya baik-baik aja, ternyata sedang berusaha supaya tidak merepotkan orang lain lagi walaupun sebenarnya sedang merasa sendirian & bingung.
Yang keliatannya baik-baik aja, ternyata sedang menyimpan luka yang besar di hati.
Yang terlihat di luar, kadang hanya ilusi utk menutupi apa yg sebenernya sedang terjadi di dalam, apapun alasannya.
Dan kadang kita datang dengan niat buat support orang lain, ternyata momen itu juga pelan-pelan ngasih sesuatu balik ke kita.
Walaupun kita nggak selalu bisa bantu menyelesaikan masalah mereka, kadang kehadiran kita aja sudah cukup buat bikin seseorang merasa nggak sendirian, membuat mereka merasa “terlihat”, membuat mereka merasa “worthed”. Dan ternyata, rasa itu juga ikut nyentuh dan ngobatin sebagian diri kita sendiri.
I feel so blessed, I think I am one of the luckiest person in the world, and super grateful for the whole experience.
Bisa jadi, ini pertanda supaya abis ini lebih sering traveling lagi… Yah, diamini aja.
#reflection
Percaya gak, kalau seseorang itu baru kelihatan aslinya, waktu dia punya power dan pengaruh?
Waktu pengaruh masih kecil, dia bisa bertahan, kompromi, atau pegang prinsip, dan dampaknya belum terasa besar. Tapi begitu pengaruhnya membesar, pilihan yang sama, jadi punya konsekuensi. Apalagi, setiap keputusannya ikut membentuk orang lain.
Ada yang tetap berprinsip, dan jadi berkarisma. Ada juga yang mulai membenarkan cara, bukan karena tidak tahu benar atau salah, tapi karena merasa punya justifikasi dan alasan untuk membenarkan tindakannya.
Jadi, pertanyaan yang penting untuk kita tanyakan ke diri sendiri, adalah saat pengaruh kita membesar, kita mau jadi orang yang seperti apa?
“You either die a hero, or you live long enough to see yourself become the villain.”
- Harvey Dent
——
Akun ini adalah ruang journaling saya, untuk merangkum dan memperjelas pola-pola seperti ini. Pola yang selama ini membantu saya memperjelas bagaimana cara mengatasi hambatan & tantangan hidup yang saya alami. Pola yang mungkin sudah kita semuanya lakukan, tapi jarang kita sadari.
Ada pola yang saya dengan jelas tahu sumbernya, ada yang merupakan gabungan dari berbagai sumber yang saya refleksikan sendiri berdasarkan pemahaman & pengalaman pribadi. Semoga rangkuman journaling ini membantu mengarahkan pengembangan diri, mindset, karier, dan bisnis kalian (kalau konten ini mampir di beranda kalian). Karena, hidup sering terasa rumit hanya karena kita belum melihat polanya.
Padahal, semua ada polanya.
#Mindset
#SelfReflection
#Transformation
#Pola
GITAR, LAGU “UNKNOWN”, 2023, & “LET IT BE”.
Mumpung liburan, sempetin backup file lama dari HP ke GDrive. Sambil sortir, nemu 1 recording di 2023 yang somehow brings back memories. Banyak elemen personal jadi satu: gitar, lagu “misterius”, 2023, dan “Let It Be”.
Ini gitar serius pertama yang aku punya, dibeliin Papa sekitar 1999/2000 waktu kelas 3 SMP. Sebelumnya sempet beli gitar 50rb di pasar (niatnya cuma iseng) tapi seminggu udah jebol. Papa akhirnya ngajak ke toko musik dan bilang, kalau mau belajar, pakai yang beneran aja. Aku pilih gitar nylon PRINCE ini.
Buat aku, gitar ini gak ada duanya. Bukan karena merek, tapi karena memory & meaning-nya. Lewat gitar ini, aku belajar kunci dasar, dan mulai eksplor lagu dengan cara sendiri. Termasuk satu lagu instrumental random yang aku temuin di komputerku waktu itu yang habis diservice: gak ada judul, gak tau siapa yang bikin, sampai sekarang pun gak ketemu (walau udah dicari pakai Shazam).
Lagu itu bikin aku ke-challenge buat cari petikannya. Berminggu-minggu coba, akhirnya bisa mainin full. Buat aku waktu itu, itu jadi bukti kalau aku bisa eksplor sesuatu kalau aku mau dan commit.
Gitar ini intens dipakai 2000–2004, lalu idle lama. Baru pegang lagi di 2021–2023, di masa yang cukup berat secara personal. Momen dimana aku ngerasa lost, questioning my own presence, dan gak sinkron sama diri sendiri. Dari luar mungkin gak keliatan, tapi di dalam cukup chaos. Dan gitar ini jadi teman buat berdialog sama diri sendiri. Yang bikin asik, petikannya masih keinget: pure muscle memory, walaupun ada mlesetnya :)
Selain lagu unknown ini, ada satu lagi yang nemenin fase itu: “Let It Be”. Lirik dan spirit-nya somehow jadi theme—antara melawan, pasrah, dan menerima.
Ternyata, bersih-bersih file HP bisa jadi cara buat ketemu lagi sama bagian diri kita yang sempet ke-skip. Because it was there. Part of the journey. Part of us. Jadi aku taruh disini, buat ingetin diri sendiri juga: tentang 2023, gitar ini, dan dua lagu ini.
Let it be as raw as it is. Because somehow, it brought the memories back… and a bit of peace too, regardless the bitterness of that moment :)
[Career Compass: Potential Test & Professional Insight💫]
Kamu masih bingung menentukan karir yang cocok untuk kamu? Atau masih belum tau potensi diri kamu yang sebenarnya? Sini sini coba kenalin diri kamu lebih dalam yuk!
PARADIGM Connection mempersembahkan Event Webinar “Career Compass: Potential Test & Professional Insight”💡
BENEFITS:
• Test & Report Pengembangan Diri (Worth Rp 200.000)
• Profil Berbasis Perilaku (Worth Rp 200.000)*
• Training Pengembangan Potensi (Worth Rp 1.000.000)
TOTAL Benefits Worth Rp 1.400.000
NOW! Only Rp 150.000⚠️
Berikut info detailnya:
📆 : 20 Maret 2025
⏰ : 15.30 - 17.30 WIB
📍 : Zoom Meeting
🗣️ :
• Jay Adinata (Co-Founder and CMO Cavlent)
• Peggy Putri (Professional Development Coach, PARADIGM)
🔒LIMITED 80 SEATS🔒
Buruan Daftar!
bit.ly/TestPotensiPengembanganKarir
bit.ly/TestPotensiPengembanganKarir
bit.ly/TestPotensiPengembanganKarir
Link Panduan Pendaftaran:
bit.ly/CaraPendaftaranWebinar
*Hanya didapatkan bagi peserta yang join Zoom Meeting.
PARADIGM,
We Don’t Teach, We Educate!
Secara teori, kita tahu kalau kita punya kendali penuh atas bagaimana merespons sesuatu. Kita bisa memilih untuk tetap tenang, berpikir jernih, dan mengambil keputusan dengan sadar.
Tapi kenyataannya? Sering kali emosi lebih cepat mengambil alih. Saat ada situasi yang nggak sesuai ekspektasi, rasanya refleks pertama adalah reaktif—kesal, defensif, atau buru-buru menyimpulkan sesuatu. Bukan karena kita nggak tahu cara mengontrol diri, tapi karena mengontrol diri itu nggak mudah.
Self control itu nggak gampang, soalnya emosi selalu lebih cepat daripada logika. Sebelum otak sempat berpikir panjang, perasaan sudah lebih dulu mendominasi.
Kita tahu seharusnya sabar, tapi mulut udah keburu nyeletuk. Kita tahu harusnya lihat situasi dulu, tapi pikiran udah keburu nge-judge. Kita tahu bisa memilih diam dan observasi dulu, tapi kadang lebih gampang ikut arus reaksi spontan.
Self control itu bukan soal tahu teorinya, tapi soal melatihnya. Punya kendali atas respon itu satu hal, tapi bisa menerapkannya di situasi nyata itu hal lain. Dan mungkin, latihan paling sederhana bukan dengan berharap bisa mengontrol semuanya langsung. Tapi dengan menyadari pola—di situasi seperti apa kita paling gampang kehilangan kendali?
Kalau tahu polanya, mungkin kita bisa kasih jeda beberapa detik sebelum bereaksi. Karena di antara stimulus dan reaksi, selalu ada ruang untuk memilih. Dan mungkin, latihan self-control itu dimulai dari situ.
#selfreflection #berproses
Ada hari di mana semuanya terasa lancar—produktif, fokus, dan bisa menyelesaikan banyak hal. Tapi ada juga hari di mana semuanya berjalan lambat. Bukan karena kurang usaha, tapi karena ada banyak hal yang harus tertunda. Rencana sudah dibuat, tugas sudah siap dikerjakan, tapi masih harus menunggu feedback lanjutan. Bukan kita yang berhenti, tapi ada faktor di luar kendali yang membuat semuanya melambat.
Lucunya, kalau teman kita mengeluh soal ini, kita mungkin akan bilang, "Wajar kok, emang ada hari yang gitu." Tapi kalau diri sendiri yang mengalami, apa iya kita bisa ngomong seperti itu ke kita sendiri? Atau malah yang muncul adalah perasaan bersalah?
Mungkin ada yang pernah juga merasa terlalu keras pada diri sendiri karena melakukan kesalahan kecil? Kadang, kita sampai begitu sibuk memperbaiki diri sampai lupa bahwa orang lain mungkin bahkan nggak terlalu memperhatikan kesalahan yang kita pikirin terus-menerus itu.
Mereka sibuk dengan hidup dan urusannya sendiri. Malahan, hal yang kita takutkan akan jadi masalah besar, bagi mereka mungkin cuma momen kecil yang cepat berlalu.
Yah, mungkin memang nggak semuanya harus selalu berjalan sesuai rencana. Kita nggak harus selalu produktif, nggak harus juga selalu sempurna. Dengan ada ketidaksempurnaan itu, kita jadi diingetin untuk terus belajar dan berkembang. Dan ketidaksempurnaan itu, bisa jadi pengingat kalau kita ini masih manusia.
#selfreflection #berproses
Tough Discussion: Hadapi atau Hindari?
Ada momen ketika kita tahu sebuah percakapan sulit perlu terjadi, baik di pekerjaan, maupun kehidupan pribadi. Mungkin itu soal memberi feedback yang jujur, mendiskusikan keputusan yang nggak populer, atau menyampaikan sesuatu yang bisa menimbulkan ketegangan namun bertujuan untuk mendapatkan kejelasan. Kita tahu ini penting untuk jangka panjang, tapi tetap saja, ada dorongan untuk menunda atau menghindarinya.
Kenapa? Karena tough discussion itu nggak nyaman. Ada risiko konflik, ada ketidakpastian bagaimana orang lain akan bereaksi, dan ada perasaan nggak enak yang membuat kita lebih memilih diam. Pernah di situasi ini?.
Tapi, apakah menghindari selalu jadi pilihan yang lebih baik? Ada kalanya kita berpikir, “Nggak usah dibahas sekarang, biar nggak ribet.” Tapi sering kali, menghindari hanya menunda masalah. Yang terjadi malah masalah nggak benar-benar hilang (cuma tertunda), kesalahpahaman bertambah karena asumsi, dan hubungan jadi penuh unspoken tension.
Aku sendiri masih belajar untuk bersikap ketika akan menghadapi tough discussion. Ada saat di mana aku memilih menunda, atau bahkan menghindari karena nggak mau bikin situasi jadi canggung. Padahal, tough discussion itu bisa dipastikan akan ada perdebatan (kalau berharap nggak ada perdebatan, rasanya itu lebih pas disebut ngobrol biasa saja). Tapi hari ini aku belajar dan ditunjukkan lewat sebuah kejadian bahwa percakapan sulit itu bukan tentang menang atau kalah, tapi tentang kejelasan, menyamakan ekspektasi, membuka komunikasi yang lebih jujur, atau mencari solusi sebelum masalah jadi lebih besar. Juga, percakapan sulit justru adalah bentuk kepedulian ke diri kita, juga orang lain.
Terima kasih untuk pengalaman hari ini, semoga ini bisa membantu aku dalam bersikap lebih baik lagi ketika akan menghadapi “tough discussion”.
#selfreflection #berproses
Hari ini, di hari pertama Tahun Ular. Jadi teringat konsep Day One vs One Day yang dibahas waktu aku undang Ardie @ardie.beta dan Airine @airinelukito dari @beta.design.studio sebagai narasumber di acara @cavlent_ beberapa bulan yang lalu. Mereka sharing bahwa salah satu perbedaan besar antara orang yang terus maju dan yang hanya berandai-andai ada di keputusan sederhana: menjadikan sesuatu sebagai DAY ONE, bukan sekadar ONE DAY yang terus ditunda.
Sering kali kita punya banyak rencana dan keinginan, tapi menundanya karena menunggu waktu yang lebih pas, lebih siap, lebih ideal. Padahal, yang membedakan mereka yang benar-benar melangkah bukan seberapa sempurna persiapannya, tapi keputusan untuk mulai.
One day itu nggak punya batas waktu—bisa besok, bulan depan, tahun depan, atau nggak pernah terjadi. Tapi day one selalu punya momentum. Nggak harus besar, yang penting ada langkah yang diambil.
Tahun Ular ini, mungkin ini waktunya lebih banyak mengambil langkah dengan perhitungan yang bijak, tapi juga dengan kesadaran bahwa setiap langkah kecil tetap berarti.
Jadi, apakah tahun ini akan kita mulai dengan "day one" yang nyata, atau masih akan tetap menjadi "one day" yang terus tertunda? Pertanyaan ini juga berlaku buat aku.
Gong Xi Fa Cai bagi semua yang merayakan! Semoga tahun ini membawa kebijaksanaan, ketekunan, keberanian untuk melangkah, dan semuanya bisa berproses menjadi lebih baik lagi.
#SelfReflection #Berproses
Wrong action for the right reason?
Ada salah satu adegan di The Night Agent season 2, dimana tokoh utamanya, Peter, ditegur atasannya karena mengambil langkah yang salah (melepaskan kriminal), untuk menyelamatkan ribuan orang. Niatnya baik dan terbukti banyak orang selamat, tapi tindakannya yang melanggar hukum tetap ada konsekuensinya.
Untungnya, dia sadar sepenuhnya kalau tindakannya salah meskipun niatnya benar. Dia bertanggung jawab dan menyerahkan diri di akhir cerita (kalau nggak, filmnya mungkin nggak bakal selesai. Haha).
Tapi ini bikin aku coba refleksi ke kejadian sehari-hari. Langkah yang salah dengan niat baik sering terjadi. Contohnya, mengabaikan prosedur karena merasa situasinya mendesak, atau membenarkan pelanggaran aturan karena alasan darurat. Tapi tetap saja, wrong action itu salah. Kalau dibiarkan, toleransi seperti ini bisa berubah jadi kebiasaan dan berujung pada complacency.
Sebaliknya, langkah yang benar tapi dengan niat yang salah juga nggak kalah bermasalah. Misalnya, membantu orang lain hanya untuk mendapatkan timbal balik, atau membuat keputusan strategis untuk pencitraan pribadi. Tindakannya benar, tapi niat yang salah bisa membuat dampaknya kurang bermakna. Orang lain juga akan kehilangan kepercayaan begitu menyadari motif aslinya.
Menurutku, keseimbangan sempurna antara niat dan tindakan itu sulit dicapai. Kadang niat perlu lebih dominan, kadang proses yang lebih jadi penentu. Rasanya yang lebih penting adalah keselarasan keduanya dan relevansi tujuannya. Niat baik tanpa langkah yang tepat tetap punya konsekuensi, dan langkah yang benar tanpa niat baik akan kehilangan arti.
Yang aku pelajari dari cerita itu, kesadaran diri adalah kuncinya. Peter tahu dia salah, dan dia memilih untuk tetap bertanggung jawab, bukan menyalahkan keadaan, walaupun keputusannya terbukti benar. Dalam perjalanan hidup kita, apapun keputusan yang kita ambil, yang penting adalah kesadaran penuh untuk menerima segala konsekuensi yang akan muncul. Ini rasanya akan bisa membuat kita lebih legowo menjalankannya.
Statement "There is No Right Price for the Wrong Product", bisa jadi pengingat yang tepat untuk aku, dari cerita ini.
#selfreflection #berproses
Di salah satu bagian dari buku Decisive (karya Chip Heath & Dan Heath) yang lagi aku baca, ada satu bagian yang bahas tentang "opportunity cost". Ketika kita memilih satu pilihan, secara otomatis kita melepaskan peluang dari pilihan lainnya.
Ini terdengar simple, tapi sebenarnya ini bisa jadi pengingat yang penting, dimana setiap keputusan, sekecil apa pun, ada konsekuensi dan harga yang harus dibayar—termasuk apa yang harus kita relakan. Kadang, kita terlalu fokus pada apa yang kita pilih, sampai lupa mempertimbangkan apa yang kita tinggalkan. Setiap pilihan punya harga—baik itu waktu, energi, atau kesempatan lain yang kita lewatkan.
Di bagian ini, aku seperti diingatkan kalau nggak ada pilihan yang sempurna. Yang penting, bagaimana kita memastikan keputusan yang kita pilih adalah yang terbaik saat itu, dengan semua informasi yang ada, dengan segala konsekuensi & "harga" yang perlu ditukar. Dan setelah memilih, kita perlu belajar bertanggung jawab atas pilihan itu, menerima semua konsekuensinya, dan memaksimalkan apa yang sudah kita pilih.
Karena perjalanan diri kita sampai sekarang ini, adalah serangkaian keputusan trade-off yang sudah kita pilih, baik disadari maupun tidak.
#selfreflection #berproses