✨️Tradução indonésia de 'A hora da estrela' chegou✨️
(Esse texto é para meus amigos brasileiros ler. Untuk tulisan Bahasa Indonesia, bisa geser dan klik link di bio)
Tradução de A hora da estrela para indonésios lançando nessa semana. É uma honra para mim, traduzi essa obra maravilhosa. Este é a primeira tradução indonésio de obra da Clarice Lispector, e diretamente de português também. Agora, eu sou ainda a única tradutora literatura brasileira diretamente de português para os indonésios. Tenho orgulho para esse fato, sim, mas é um trabalho pesado para apresento os contextos culturais do livro brasileiro para meus povos, sozinha. Tipo isso, eu ainda preciso explicar sobre o que é "nordeste" e vida cotidiana no Rio.
Por causa de tradução inglês, muitas coisas culturais entre Brasil e Indonésia parece muito distante. É verdade que nossos países são outro lado do mundo, MAS eu já entendi a vida nos dóis. A vida trágica de Macabéa é uma vida comum das mulheres aqui na Indonésia também. A gente conhece: machismo cotidiano, padrão da beleza, romantização de trabalho em cidade, até xamanismo. Nessa obra de Clarice tão importante, é uma porta para os indonésios conhecer MAIS sobre nossos semelhantes. Espero que é um bom começo, para publicar outras obras clássicas brasileiras em o horizonte da literatura traduzida na Indonésia.
Me deseje sorte, gente.
Com muita saudade.
A primeira tradução do livro inteiro, finalmente, é publicado. Traduzi com meu próprio sangue e minhas lagrimas. Também, traduzi isso quando eu comecei estudar português brasileiro profundamente. Não foi um livro facil, pois é uma narrativa de muita ação e tortura (não sou moça com força 🥲), mas honestamente, Setenta tem uma história sólida, com personagem simpaticos, e é uma obra muito importante para entender mais sobre as similiaridades entre as ditaduras que occorream no Brasil e Indonésia. Sinto-me abençoada por esta oportunidade.
Obrigada @marjinkiri@sastra.alibi por acredita em mim (e pela paciencia, eu sei que a minha primeira tradução ainda estava ruim), obrigada também @escritorhenriqueschneider e @dublinense , vocês são maravilhoso.
Untuk teman-teman pembaca Indonesia bisa beli langsung di toko buku kesayangan ya. Semoga berkenan.
(Terima kasih @cassiobahasa untuk editan caption-nya.)
BESI BERANI
zine surat puisi dan foto-foto kiriman jarak jauh antara Bung di Ambon dan Nona di Yogyakarta. Penerbitan artistik kolaborasi antara Remzky Nikijuluw (@wild.ears ) dan Gladhys Elliona (@gladhys ) di bawah @senewenzine , pionir zinemaking di Ambon.
(Shout out to @toskecil dan @barorkaa yang membantu dan konsultasi produksi zine ini).
Hanya ada sedikit sekali copy di Open Table @ykartbookfair .
Apakah kami harus cetak batch baru? 🥹
Spec: 21 × 13,5 cm; buffalo paper, tracing paper, and bookpaper cream; full color.
#zine #poetry #artbook
Pertunjukan Rempah Gunung selalu berupaya merespons tempat dan alam, menciptakan pengalaman yang tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan oleh setiap orang yang hadir. Musik tidak hadir sebagai bunyi semata, melainkan sebagai peristiwa yang menghubungkan ruang, tubuh, dan suasana.
Pada Rempah Gunung VOL.6, kami akan berkolaborasi dengan sejumlah seniman, salah satunya Gladhys Elliona. Ia adalah seorang penulis interdisiplin dan aktris yang sementara hiatus. Ia pernah terlibat dengan pementasan teater di berbagai tempat. Ia akan berkolaborasi dengan satu musisi di panggung Rempah Gunung VOL.6. Kira-kira seperti apa kolaborasinya, nantikan, ya!
#RempahGunung #AromaDendangSahaja
Klab Buku Jazirah dihadirkan sebagai ruang baca yang intim dan reflektif—sebuah tempat untuk mempraktikkan membaca secara pelan dan mendalam. Pada edisi bulan April ini, kita masih membaca satu cerpen dari Mariana Enriquez dari buku “Bahaya Merokok di Ranjang”. Ia adalah penulis, jurnalis, dan novelis asal Buenos Aires, Argentina, yang dikenal sebagai salah satu suara penting dalam gelombang baru sastra Amerika Latin.
Dalam karya-karyanya, ia memadukan horor, realisme sosial, dan atmosfer urban yang gelap. Ia menulis tentang kemiskinan, kekerasan, trauma sejarah, serta pengalaman perempuan dalam ruang kota yang keras dan tidak ramah—menjadikan horor bukan sekadar efek estetis, tetapi juga kritik sosial yang intim dan politis.
Klab Buku Jazirah Edisi April
📚 Selasa, 7 April 2026
⏰ pukul 18.00 WIT
🏡 Rumah Sajange
🍁 ditemani fasilitator @gladhys
🍄 sila reservasi kehadiranmu melalui @a.tsyagbrlaa
#KlabBukuJazirah #MarianaEnriquez
Pakai sisir Brush N' Go
sendiri ✅️
disisirin pacar 😘
di kapal ⛴️
dengan gelombang Laut Banda 🌊
and with style ✨️
#curlyhair #sisir #rambutkeriting #curlyhairstyle #curlyhaircare
Tote bag yang kamu tunggu-tunggu akhirnya PRE-ORDER kembali! 👜✨
Particular design and limited edition, nyaman dipakai ke mana saja — dari kampus sampai coffee shop. Macbook-friendly, tumbler pouch, dan kompartemennya lega sekali~
🗓 PO ditutup: [31 Maret 2026]
📦 Pengiriman setelah masa produksi (bulan April)
💰 Harga: [135.000]
Kalau PO ditutup, belum tentu restock!
Amankan tote bag eksklusifmu sekarang — DM / chat untuk order.🔥
📚 PRIMEIRO LANÇAMENTO DA COLEÇÃO BANDUNG 📚
"O Fluxo Reverso da Cultura: História Como Crítica", de Hilmar Farid (@hilmarfarid ), chega ao português pela primeira vez nesta edição da Zazie, em tradução de Gladhys Elliona em colaboração com Laura Erber, e com prefácio de Adrian Perkasa.
O ponto de partida é um discurso proferido em dezembro de 2014, que se tornaria marco no debate sobre identidade nacional e política cultural na Indonésia. O argumento de Farid é ao mesmo tempo histórico e político: a Indonésia, um dos maiores arquipélagos do mundo, abandonou sua vocação marítima e se voltou para uma identidade predominantemente agrária. Esse "fluxo reverso" — que alude ao romance Arus Balik, de Pramoedya Ananta Toer — tem raízes no século XVI e foi aprofundado pelo colonialismo holandês. As consequências persistem: mesmo após a declaração do Estado arquipelágico em 1957, a mentalidade dominante continua a ver o mar como obstáculo, não como ponte.
Mais do que um estudo sobre a Indonésia, o ensaio propõe uma reflexão sobre como as sociedades constroem suas identidades e sobre o papel da história como ferramenta crítica para imaginar futuros possíveis. O texto antecipa muitas das políticas que Farid implementaria como diretor-geral de Cultura da Indonésia (2015–2024), incluindo o projeto Jalur Rempah (Rota das Especiarias), que articulou pesquisa acadêmica, diplomacia cultural e saberes tradicionais.
O livro já está disponível para download em nosso site e através do link na bio.
Kami kembali dengan nama baru! Kini, KamiSinema bertransformasi menjadi #LayarTaksu 🎦
Di #LayarTaksu Vol. 03, kita akan menonton “Mãe Menjaga Masjid”, film dokumenter tentang kehidupan seorang ibu migran asal Indonesia yang telah 28 tahun tinggal di Brasil—menjaga keluarga, komunitas, dan peran-peran perawatan di tengah keseharian perantauan.
Film ini disutradarai oleh Gladhys Elliona, penulis interdisipliner dan penerjemah sastra Brasil–Indonesia. Mãe Menjaga Masjid (2024) merupakan debut penyutradaraannya, dengan fokus pada narasi femininitas, kerja-kerja perawatan, dan praktik seni berbasis komunitas lintas budaya.
🗓 Jumat, 23 Januari 2026
⏰ Mulai pukul 19.00 WIB
📍 Taksu Book Cafe
Gang Alit II No. 51, Cilandak, Jakarta Selatan
🎟 Free entry. Limited seat!
📎 RSVP: bit.ly/LayarTaksuVol3
Sampai bertemu di layar 💚
#LayarTaksu
Pre-order Kaos dan Totebag Sacred Stone (2026)
Di tahun 2024, saya dipercaya untuk menjadi penanggungjawab artistik pada festival sastra dan seni @jazirah_id . Jazirah mengambil tema Silolone yang merupakan interpretasi dari cerita rakyat Maluku berjudul Atuf Sang Penakluk Matahari.
Alih wahana penanda festival menjadi kaos ini adalah bentuk keluaran residensi di MAY GANK! Print Club Studio @maygank2025 , di mana saya belajar media seni cetak sablon dan manajemen produksi.
***
Tautan dan info pembelian kaos dan tote bag_
Sacred Stone: bit.ly/SacredStone2026
Link di bio.
Periode Pre-order diperpanjang :
7 februari 2026
Mulai pengiriman:
14 Februari 2026
Danke.