Home gehittoPosts

Ge

@gehitto

Followers
2,338
Following
4,628
Account Insight
Score
28.86%
Index
Health Rate
%
Users Ratio
1:1
Weeks posts
I was recently gifted The Years by Annie Ernaux by @bl.e.u and by recently I mean about 3/4 years ago (?) but I’ve finally managed to get through some other books on my tbr pile and The Years was up next. The memoir spans from 1941 to 2006 and could easily be read as the story of a country rather than simply a personal records.  It’s a detailed portrait of French post-war society, as the country rebuilds, mentally and literally, after the trauma of conflict and occupation. It’s also a reflection of the country at a family level, starting in a conservative society where premarital sex is unthinkable.  The first-person-plural point of view really kept me at the distance at all times and because the author didn’t actually write a lot about her personal life apart from the fact that she (like everybody else) has always wanted loads of sex, I basically read this like the piece of historical writing that I think it is. The whole book played out like an old black and white documentary rather than the colorful life story I had hoped for. I was amazed at how engaging her photo album story telling is. When she examines her selection of photos, she doesn’t say, this is me on a day trip to the seaside in 1948 aged eight. Instead she talks about the girl in the photo in the third person, but refers to the girl’s generation as ‘we’. The ‘we’ gets much more focus than the ‘she’ (Ernaux) seems driven to merge her personal past with that of her entire generation, and she succeeds very well. Ernaux’s style of memoir-as-social-history is such an enjoyable form of writing. This book also presented so simply without chapters dividers, only a small breaks between paragraphs which makes me feel so flowing and intertwined, yet it ends only with book credits as basic information this book was created, translator, and original release. Every morning and before bed I read to relax and and enjoy the experience. Amid my difficulties narrating for my own life lately, Ernaux through his memoirs in The Years continues to force me to tell stories in my head, religiously, on paper or digital notes. And yet Bleu was true, what a delightful piece to read. #ghtreads #TheYears #AnnieErnaux
99 4
1 month ago
87 2
3 months ago
Sudah lama saya bertanya pada angin soal bagaimana sebenarnya kritik itu bisa dilemparkan dan ditempatkan? kebingungan saya menemui titik persimpangannya ketika 2023 lalu berada dalam sebuah diskusi buku yang juga mengundang penulis dari buku yang didiskusikan tersebut. Penulis (laki-laki), dikritik karena buku fiksi kumcernya dianggap mengandung unsur misoginis oleh beberapa peserta diskusi. Mungkin sikap peserta diskusi yang sifatnya mengkonfirmasi unsur misoginis di dalam sebuah karya fiksi adalah kurang tepat juga (?) Namun sayangnya, tanggapan dari penulis seakan meyakinkan peserta diskusi bahwa misoginis menjadi bagian dari kesehariannya yang “lumrah”- bukan suatu hal yang tabu atau hal yg dengan sengaja diangkat oleh penulis untuk menjadi sebuah fenomena di dalam cerita-ceritanya tersebut (setidaknya, yang disimpulkan beberapa peserta diskusi hingga dan selesai acara). Cancel culture sering berangkat dari titik ini. Terlepas dari sikap penulis tersebut terhadap karyanya. Semenjak kejadian itu, saya terus memikirkan soal teks dan konteks, soal karya dan pembuat karya, dan soal bentuk kritik dan metode mengkritik itu sendiri. Sempat saya bertanya, apakah ada hal yang bisa saya pelajari yang merangkum pemetaan untuk menjawab dilema yang saya rasakan tersebut. Buku Meta-estetika: Studi tentang Morfologi Kritik karya Martin Suryajaya (Gang Kabel, 2024), sedikit seperti sebuah panduan metodologis ketika saya tersesat berada di dalam kondisi alam liar kritik, keributan sosial media yang selalu baru, dan fenomena cancel culture. Setidaknya membantu saya memahami dinamika perdebatan esetetika kontemporer dan mungkin (?) memetakan dialog dan perdebatan yang ada. [lanjut di kolom komen] #ghtreads #martinsuryajaya #metaestetika @martinsuryajaya @gangkabel lukisan pada slide 2,4,6,8 karya Jaroen Tan Markaban, Tanpa Judul (2023) akrilik pada kertas bekas 25x18 cm
55 1
4 months ago
for no particular reason in no particular order- just few pics form the past few weeks in between dramatic weather, unterland, and vast ocean boundaries
105 0
6 months ago
saat kecil saya mungkin tidak paham ketika ibu saya bilang “pekerjaan rumah tangga tidak akan pernah ada habisnya dan hasilnya paling tidak terlihat”. Sepuluh tahun kemudian saya perlahan memahami apa yang dimaksudnya. Di bawah kapitalisme dan patriarki bentuk-bentuk cinta dan kerja keperawatan menjadi tidak terlihat (unwaged reproductive labour that mostly done by women). Cinta dan emotional reproduction, istilah Gotby dalam buku ini, menjadi suatu hal yang tak terdengar. Padahal keduanya berkontribusi dalam menciptakan perasaan baik dalam sebuah relasi. Sebagai bentuk perawatan, mereka berperan dalam konstruksi dan konsolidasi relasi sosial serta kebersamaan yang dibagi secara merata. Beberapa waktu lalu seorang teman juga cerita soal kemarahannya di tempat kerja dilihat semata sebagai sebuah tindakan reaksioner dan dianggap bagian dari ketidaksukaannya dengan atasan. Tuduhan tersebut kurang tepat apabila pada kenyataannya teman saya terjebak pada beban kerja berlebih, ruang keperawatan yang sempit, dan juga upah rendah. Kemarahan akan semata dianggap tidak etis/tidak profesional ketika emotional reproductive dianggap sebuah hal yang tidak politis dan seolah berada di luar relasi kapitalis. Kemarahan akan dilihat sebagai suatu yang alamiah dari individu dan dianggap semata merupakan suatu upaya semata tindakan keluar dari kekangan waged work (double misconception). Seperti seks dan buku di negeri ini, ramai-ramai dibungkam karena dianggap tabu, menakutkan, dan berbahaya tapi ramai-ramai juga dilakukan bersama-sama; emotional reproduction secara bersamaan dipuja tapi juga dihapuskan pada konteks-konteks tertentu, padahal kapitalisme, heteronormativity, dan patriarki berdiri tegak dengan mengeksploitasi itu. [lanjut di kolom komen] 🧖🏼✨🐆 #ghtreads #alvagotby #theycallitlovethepoliticsofrmotionallife
183 9
7 months ago
empat tahun lalu, saya pernah bilang “hidup selalu menjadi barang kikuk yang harus saya hadapi, apalagi saya rayakan”, ia dalah entitas yang tidak pernah secara intensional saya perjuangkan sejak saya lahir. Itu juga yang mungkin membuat merayakan hari kelahiran semacam ganjil- dan di saat itu, saya mencoba belajar untuk merayakan apa yang belum sepenuhnya saya mengerti. Kemudian sekarang sedikit berbeda, bukan berarti karena saya sudah paham akhirnya soal hidup. Tapi ternyata memahami atau bukan, bukan lah persoalan lagi. Dengan segala tetekbengek yang terjadi, hidup selalu patut dirayakan. Dan ternyata “merayakan” juga datang dari berbagai bentuk dan kemungkinan, bahkan dari ketiadaaan. Sept selalu menjadi bulan yang padat bagi saya, bukan hanya karena pada saat yang sama saya perlu menyambut hari lahir nenek dan ibu, - toh di luar itu, hidup berjalan tak habis-habisnya. Di awal tahun, saya didiagnosa dgn tumor hepar dan cholelithiasis yang mengharuskan saya menerjang tb simatupang semakin sering 🐋, ulang tahun pertama tanpa kehadiran kakek, friendships breakups escalated, kepergian kak @piecesofririe dan kecautmarutan negara, aslam, back pain (again and again)… Setahun belakangan ini membuat saya akhirnya tidak menitikberatkan pada persoalan mengerti atau tidaknya lagi, melainkan memilih terus merayakan apa tidak. Karena disetiap penghabisan upaya itu, pada akhirnya saya yakin sendiri bahwa selalu adakesempatan untuk saya meredefinisi banyak hal, dan itu bisa terejawantahkan di mana mana, di keluarga misalnya- saya semakin tumbuh menyayangi begitu militan. maka “happy birthday” atau selamat ulang tahun menjadi juga seperti frasa yang sepenuhnya verb pada akhirnya, bukan sebuah nomina yang diperluas adjektiva- yang muncul dalam bentuk beku setiap tanggal 9, melainkan sebuah perjuangan menerus untuk merayakan walau kadang hidup (bukan tidak/belum dimengerti), namun memang ada kalanya tidak bisa dimengerti. Terima kasih untuk yang terus diam-diam mengupayakan itu, merayakan yang ada maupun ketiadaan dan dari ketiadaan. selamat ☀️ return, happy 9th Sept ☘️🕊️🦭
227 18
8 months ago
121 1
8 months ago
69 3
9 months ago
Buat @gehitto , waktu adalah musuh terberat kelas menengah. Kadang kita suka ngerasa kalau waktu cepet banget berlalunya, makanya Hitto selalu usahain buat "melonggarkan" waktu dengan ngelakuin banyak aktivitas sebagai antitesis dari rutinitas utama. Terima kasih @gehitto sudah berbagi #CeritaKelasMenengah! ----- Tag temen kamu yang suka bengong juga kayak Hitto!🍃
1,546 19
9 months ago
Snippet di atas adalah denouement of the Hannah Arendt (2012) film that I watched in Goethe few days ago to celebrate 50th the death of the German-Jewish historian and philosopher - #hannaharendt Setelah cuplikan di atas, Arendt kembali mengisap rokok sambil menatap ke luar jendela di remang ruang tamu rumahnya sambil mengatakan bahwa “kejahatan tidak bisa sekaligus terjadi karena banal dan juga radikal, ia pasti salah satunya”. Hal yang ia herankan dari para pengkritik tulisannya disalah satu laman surat kabar The New Yorker dengan judul “Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil”. Tulisan ini yang membuatnya dianggap tidak berperasaan karena membela salah satu arsitek utama Holacaust, Adolf Eichmann.  Artikel yang ditulis Arendt tersebut adalah hasil pengamatan dan liputannya terhadap persidangan Eichmann di Yerusalem. Arendt mengemukakan bahwa Eichmann bukanlah sosok jahat yang bengis, melainkan birokrat biasa yang tidak berpikir kritis tentang tindakannya, hanya “menjalankan perintah” - atau bisa disebut Banal semata. Hal ini memicu kontroversi besar (terutama dari kalangan intelektual Jewish), karena Arendt juga mengkritik beberapa keterlibatan pemimpin Yahudi selama Holocaust. Arendt berpendapat bahwa kejahatan terbesar didunia terjadi justru oleh manusia yang menolak menjadi manusia - yang tidak mau dan mampu berpikir. Ini lah yang menurutnya memunculkan fenomena banalitas kejahatan (banality of evil).  Selama menonton film, saya teringat sebuah artikel yang pernah saya tulis di tahun 2018 (hampir 7 tahun lalu), tentunya membacanya lagi kadang siwer dan penuh pemakluman, mengingat struktur kalimat yang tak lebih rapih dan terkesan menggebu-gebu. [lanjut pada kolom komen]
68 4
9 months ago
ini mungkin pertemuan dengan Mas Erik Prasetya @banalaesthetic yang keberapa bagi saya, baik disengaja maupun tidak, pastinya selalu dalam sebuah urusan publik (acara diskusi, ceramah, pameran) - bukan sebuah momen berdua, namun ada kalanya selalu personal bagi saya. Setiap kata setiap karya yang diucapkan dan disampaikan oleh Mas Erik selalu adalah hal-hal yang saya refleksikan secara personal dan mendalam, mulai dari cerita pengalaman hidupnya, pandangannya tentang jakarta, hingga keputusan-keputusan dalam karir fotografinya. Bahkan di dalam suatu hal yang banal sekalipun (dalam bahasanya), yang tidak estetis (di publik), - menjadi sebuah keterbatasan yang menantang untuk dikenali, kalau tidak untuk dibedah dan dipelajari, barangkali datang menemui pengalaman (yang lain) tersebut adalah suatu hal yang seperti urgent di dalam hidupnya. Walaupun saya bukan seorang fotografer, saya seperti selalu butuh mengkonsumsi atau sekedar mendengar Mas Erik bercerita, yang memang menurut saya, tidak pernah menjadikan fotografi itu entitas yang terpisah dan selesai, hingga saya pun yang tidak praktik berfotografi secara tekun menjadi tidak takut untuk belajar apapun dari sana. Selalu ada keterbukaan dan kemungkinan yang bisa saya ambil walaupun saya tidak membutuhkannya. Mas Erik dalam karya-karyanya selalu memperlihatkan bahwa ada yang lain dari yang sudah ramai di publik - termasuk dalam proyek estika banalnya, yang iya ajukan sebagai sebuah “tawaran”, bukan kah hidup sebenarnya hanya memberikan tawaran-tawaran? ketika sesuatu yang mutlak mungkin adalah ujung sejarah…. (berlanjut di kolom komentar)
126 3
11 months ago
the succinct 20-something minute documentary, “Meeting the Man: James Baldwin in Paris,” was further shortened into a clip on YouTube, which in turn the beginning of my love for the writer. The voice is very well known in interviews and documentaries that have circulated social media and the bookiesh in the latter years. The camera zoomed up on his face, capturing the sincerity in his eyes which I felt the same warmth when I saw this book cover “Notes of a Native Son” for the first time. It’s reference from Richard Wright’s novel: Native Son, where Baldwin criticizes how the author tend to oversimplify human experience- challenging us to see its full complexity instead of reinforcing harmful stereotypes. in this book, three parts contains 10 essays “terang tapi pedih”, Balwin tells us thru his journey in his encounter with different cultures, religions, social classes, politics —constantly questioning and confronting the world around him. His exploration of identity is a dialectic process it’s “a dance of meanings”. systemic racism doesn’t just grant the oppressor the right to oppress, but it also shows how the oppressor’s very existence depends on something that is being oppressed. It’s a devilish dependency where one constructs their own identity by creating an imagined version of another identity—one that appears superior to their own. this is my second of his and my first full essay book that I finished from him. Baldwin’s works carry the theme of humanity, regardless of the content or the medium, he brings sincerity and intensity to his work — honest in a way that has been scarcely recreated.  to close this passage I quoted one of my fave highlighs of the book; “negro in america doesn’t really exist except in the darkness of our mind.” #ghtreads #jamesbaldwin #notesofanativeson 🥢🥢
54 0
11 months ago