Behind the scene foto sejuta umat tapi saya cetak diatas kertas awagami bizan dengan ukuran 1m dan dihadiahkan untuk @ini_umam Kenapa?
Kami mengambil gambar bersama dilokasi yang sama cuma camera lensa yang berbeda setelah pulang saya mengkategorikan file ini untuk pilihan kedua karena dibagian belakang haze dan saya menggunakan lensa yang lebih lebar.
Tapi beberapa minggu kemudian Pa Umam mengirimkankan saya final file dia untuk diperlihatkan dari melihat file dia ,membuka mata saya bahwa scene ini bisa dibuat sesuatu yang menarik menurut standard saya.
Ini salah satu contoh perlunya banyak melihat karya fotographer lain untuk terus belajar karena seringkali kita bisa mendapatkan sesuatu yang baru yang tidak terpikirkan sebelumya apalagi belajar dari seorang Chaerul Umam
yang sering membawa photography tour @avonturdotnet keseluruh peloksok dunia dengan Pengetahuan Yang Mumpuni Baik Dilokasi maupun Final Process di Komputer.
Repost from @suherryarno
Print are available @gallerydearno
Kelas Fotografi kembali! 📸
Mahasiswa CA B29, yuk ikut kunjungan galeri ke De’Arno Gallery, Sentul — 6 Mei 2026.
Di sini kalian bakal dapat insight tentang kualitas print untuk galeri fotografi + ikut gallery tour bareng Bapak Suherry Arno, fotografer berpengalaman di industri fotografi Indonesia.
Prioritas untuk DKV Creative Advertising B29, tapi jurusan/angkatan lain boleh ikut (slot terbatas, hubungi dosen ya).
📍 Kumpul di Kampus Anggrek: 10.30 WIB (berangkat 11.00)
Atau langsung ke lokasi: 12.30 WIB
Jangan sampai ketinggalan! ✨
Karya Christopher Burkett,"Cottonwood and Light", Foto tersebut tampak memiliki kedalaman tiga dimensi (3D) yang luar biasa bukan karena teknologi digital, melainkan karena penguasaan teknis pada cahaya dan material fisik.
Mengapa Terlihat Seperti 3 Dimensi?
Efek "keluar dari kertas" pada karya Burkett berasal dari kombinasi beberapa faktor optik dan teknis:
Transparansi Format Besar.
Burkett menggunakan kamera format besar (8x10).Ukuran film yang masif ini menangkap detail yang sangat halus sehingga mata mempersepsikannya sebagai tekstur nyata, bukan sekadar gambar datar.
Kualitas Kertas Cibachrome (Ilfochrome):
Kertas ini menggunakan dasar poliester yang sangat reflektif dan mengkilap. Karena molekul pewarnanya berada di dalam lapisan emulsi yang jernih, cahaya menembus lapisan warna, memantul dari dasar poliester, dan kembali ke mata. Hal ini menciptakan efek "backlit" (seperti melihat lampu dari belakang) yang memberikan kedalaman ruang.
Proses Cibachrome (sekarang dikenal sebagai Ilfochrome) dianggap sebagai metode cetak warna paling sulit dalam fotografi: 1. Proses Positif ke Positif:
Berbeda dengan cetak foto biasa yang menggunakan negatif, Cibachrome mencetak langsung dari transparansi (slide). Ini berarti tidak ada ruang untuk kesalahan jika eksposur meleset sedikit saja, seluruh cetakan gagal.
2. Kontras yang Ekstrim:
Kertas ini memiliki kontras yang sangat tinggi secara alami. Untuk menghasilkan foto yang terlihat natural seperti "Cottonwood and Light," Burkett harus membuat (masking kontras) manual (lembaran film hitam putih tambahan yang ditempelkan tepat di atas slide) untuk menahan bagian yang terlalu terang dan membuka bagian bayangan.
3. Presisi Manual:
Setiap cetakan memerlukan perhitungan waktu dan suhu yang sangat ketat. Burkett sering menghabiskan waktu berminggu minggu hanya untuk mendapatkan satu cetakan "master" yang sempurna.
Catatan:
Christopher Burkett saat ini adalah salah satu dari sedikit printmaker yang masih menyimpan stok kertas Cibachrome terakhir di dunia. Kertas ini sudah tidak diproduksi lagi, karyanya kini menjadi artefak sejarah yang tidak mungkin direproduksi lagi dengan cara yang sama.
Tertarik untuk melihatnya?
Karya Charles Cramer yang berjudul "Snag and Maples, Autumn, Zion" merupakan studi kasus yang sangat menarik dalam dunia fotografi fine-art. Cramer dikenal sebagai maestro transisi dari teknik cetak kamar gelap (analog) ke teknik cetak (digital).
Meskipun komposisi dan subjeknya tetap sama, terdapat perbedaan fundamental dalam karakteristik visual dan teknis antara versi cetakan analog (Dye Transfer) dan versi digital (Inkjet/Giclée). Versi Analog (Dye Transfer): Cramer awalnya menggunakan proses Dye Transfer yang sangat rumit. Hasilnya memiliki saturasi yang sangat dalam dan "bercahaya". Namun, kontrol terhadap area kontras tinggi (seperti detail pada batang pohon yang mati atau snag) lebih terbatas secara fisik oleh sifat kimia film.
Versi Digital (Inkjet): Dengan teknologi digital, Cramer mampu melakukan "masking" yang jauh lebih presisi. Warna merah dan oranye pada daun mapel terlihat lebih terpisah (inkremental), dan area gelap pada batang pohon memiliki detail tekstur yang lebih terbaca tanpa terlihat "berlumpur".
Dalam karya ini, detail pada kulit pohon snag yang berwarna pucat dan tekstur halus daun mapel adalah kuncinya: Analog: Cenderung memiliki tampilan yang lebih lembut karena butiran (grain) film. Ada kesan kedalaman organik yang sulit ditiru, namun ketajaman pada tepian daun mungkin tidak seekstrem versi digital.
Digital: Memungkinkan ketajaman yang luar biasa pada tekstur kayu yang melapuk. Cramer sering menyebutkan bahwa digital memungkinkannya untuk memperbaiki kesalahan lensa atau keterbatasan film di masa lalu, sehingga versi digitalnya sering dianggap lebih "setia" pada apa yang ia lihat di Zion saat itu.
Secara estetika, cetakan analog dari "Snag and Maples" menawarkan nilai historis dan kehangatan warna kimiawi yang unik. Namun, cetakan digital karya ini adalah bentuk "penyempurnaan" visi Cramer. Ia menggunakan teknologi digital bukan untuk mengubah foto, melainkan untuk mengeluarkan detail warna musim gugur di Zion yang secara teknis tidak mampu ditangkap sepenuhnya oleh kertas foto analog zaman dulu.
📸: @arbainrambey
#gallerydearno #fineartprint #gicleeprint #analogprinting #dyetransfer
Diskusi bareng dalam rangka foto exhibition edisi ke 2 di D’Arno Gallery - A Center For Fine Art Photography
Diskusi mengenai estetika hitam putih (B&W) versus berwarna memang menjadi perdebatan abadi dalam dunia fotografi. Banyak kurator dan fotografer veteran berargumen bahwa hitam putih memiliki kualitas “timeless” atau keabadian yang sulit ditandingi oleh foto berwarna.
Foto berwarna merepresentasikan dunia apa adanya. Sebaliknya, hitam putih adalah sebuah abstraksi. Karena kita tidak melihat dunia dalam monokrom, foto B&W memaksa mata untuk berhenti melihat “apa” objeknya dan mulai melihat “bagaimana” bentuknya.
Hitam putih bertahan lama karena ia menyederhanakan kekacauan visual dunia. Dengan menghilangkan warna, kita menyisakan struktur dasar dari sebuah momen dan struktur itulah yang biasanya bersifat universal dan abadi.
Bagaimana menurut Anda? Apakah ada foto berwarna tertentu yang menurut Anda memiliki kualitas “abadi” yang sama dengan karya klasik hitam putih?
Video by @ini_togen
Safe flight, Marco! Thank you for visiting our gallery and for sharing your knowledge, broadening the range of printing processes in our studio.
We look forward to your next visit and to the opportunity for you to share your printmaking expertise with fellow Indonesian artists.
Until next time!
@taiping_editions@marcoycportraits
Hi Sobat Gallery kali ini kita mau berbagi tips singkat dalam mengevaluasi print foto analog dalam keadaan basah / terendam air.
1. Bila print terlihat correct expose (terendam air) setelah kering print akan terlihat under expose (lebih gelap).
2. Bila print terlihat under expose akan terlihat lebih under expose (jauh lebih gelap saat kering).
3. Bila print terlihat slightly over expose keringnya akan menjadi correct expose.(pencahayaan yang pas)
Kondisi Penting: Selalu gunakan pencahayaan yang sama saat membandingkan print basah dengan estimasi hasil keringnya.Karena setiap proses analog yang berbeda mempunyai effect dry down yang berbeda beda.
Semoga tips ini bisa membantu Sobat Gallery lainnya saat berkarya di kamar gelap.
Apakah ada tips atau trik kamar gelap lainnya yang ingin Anda bagikan atau diskusikan?
Dan yang terakhir untuk penggemar fine art fotografi , sebelum memutuskan untuk membeli suatu cetakan , mutlak harus melihat cetakan aslinya terlebih dahulu.
Salam Fotografi
Dari JIPFEST jakarta, Taman Ismail Marzuki.
Pemaparan fotografi dari pak @suherryarno mewakili @fpsi.indonesia menghadirkan karya foto terbaik versi cetak fotografer Indonesia yang terpajang di @gallerydearno .
Suatu workshop yang luar biasa.
===
Video by @masruri201 dan @octoahadi
We are pleased to announce @tompiphotography@dr_tompi work was sold to Australia at De Arno Gallery. We are very grateful for his contribution of his best work to the De Arno Gallery.
#gallerydearno
#gallerinasional
#galleryphoto
#galleryphotography #photographyart
#photographylovers
#instaphoto
#classicphotography
#artgallery
#christopherburkett
#anseladams
#johnsexton
#alanross
#charlescramer
#blackandwhitephotography
#fineartphotography
#fineartprints
#printmaker
#collodion
#wetcollodion
#glasscollodion
#collodionphoto
#collodionprint
#vintagephoto
#photocollector
#oldphotographs
#collectphotography
#antiquephoto