Keinginan berkunjung ke Nepal, selalu jadi wishlist dalam otak saya. Tapi kalau yang lain ingin ke EBC, ABC, ACT and so on, saya berpikir sepertinya kurang lengkap jika jalan ke tracknya tanpa berkunjung ke puncaknya, bukan?
Setelah tektokan dengan guide saya (
@tembasherpa84 ), saya putuskan untuk ambil 2 puncak yang memang sejalan dengan jalur EBC: Lobuche East Peak (6119 m) dan Island Peak (6189 m) di Maret 2026. Memang segala yang terbungkus dengan kata “sekalian” itu sesungguhnya adalah jumawa yang terselubung.
Lalu?
Berhasil dua-duanya (ofc you can see in the picture), tapi sungguh…harus dengan badan remuk redam.
Lobuche East Peak, summit 9 jam, jalur nanjak zig-zag yang seakan tak ada putus. Cuaca cerah meskipun sedikit berangin, summit push ngos-ngosan karena saturasi oksigen di bawah 70%. Jatuh berulang kali sampai badan lebam, dan jangan lupakan sunburn serta pilek tak berkesudahan sebagai after effectnya.
Saya kira Lobuche East sudah berat, dan ketika badan saya aklimatisasi agak lama dan saturasi oksigen cukup baik di ketinggian 5000an mdpl (sekitar 90%), maka saya merasa Island Peak akan lebih mudah.
Ternyata tidak.
Beberapa hari sebelum summit push, cuaca buruk terus-menerus datang. Salju tak berhenti, disertai angin kencang. Bahkan jadwal saya yang seharusnya geser ke Island Peak Basecamp juga mundur satu hari karena cuaca tak kunjung membaik. Akhirnya terpaksa tanggal 23 Maret kemarin, mau tak mau saya harus berangkat ke basecamp karena tiket kepulangan sudah tak bisa ditunda.
Lalu bagaimana kelanjutan summitnya?
Berhasil. Dalam 12 jam.
12 jam terseok-seok dihajar elevasi 1000 meter lebih, lengkap dengan kombo udara tipis dan jalan berlumur es tipis. Super licin, crevasse dimana-mana, rope friksi. Menjelang puncak angin bertiup kencang melontarkan butiran-butiran salju tajam ke muka. Dingin, sekaligus perih.
Untuk itulah, kali ini saya duduk di 2 puncak, sungguh bukan dengan hati bangga, tapi justru menyadari: kita ini benar tak ada apa-apanya. Baik di hadapan Tuhan, maupun alam. :)