Kerja dari pagi sampe lupa diri, tapi tetap dibilang kurang bersyukurlah, banyak ngeluhlah.
Bukan soal malas atau rajin, ini soal siapa yang kenyang, dan siapa yang cuma jadi bahan bakar.
Menilik sebentar di hari kesekian seusai pameran Eksibisi di Toko Fotokopi berakhir.
Apakah ruang seperti ini cukup ‘aman’?
Terlepas dari itu, tak ada yang lebih berhasil dari sebuah pertemuan dan ide-gagasan menarik yang muncul dari Eksibisi ini. Bagi-nya adalah keberhasilan yang lain atas keresahan bersama atau memang begitulah harapannya.
Yaa gak ada salahnya juga kita sebagai warga wargi kota berharap agar geliat ruang-pameran seni tahun ini meningkat.
Artist : @diskkomik
Curatorial : @aditbaiik
foto/momen oleh @agungzuu
Berkunjung ke pameran lukisan merupakan salah satu moment ajaib. Entah kenapa, selalu terasa magis, dan cerita keajaiban itu datang ketika @diskkomik mengadakan Eksebisi tungalnya.
Kamu bisa follow untuk info dan cerita ringan dari kami.
Menjelang dua tahun terlalui, sejak rezim yang menghapus sejarah kelam dengan jogetan yang cringe bercokol. Menghipnotis mayoritas dan coba mengelabui semangat generasi mati-matian.
Hampir dua tahun aktual, sejak tokoh politik dan seperangkat kroni dengan catatan hitam dilantik. Sejak oligarki tak lagi bermain di bawah meja, tapi menjungkir balikkannya, membakar dan mengunyah dengan lumat dan lahap meja itu sendiri beserta kursi, motor listrik dan koperasi bersimbol burung mitos dwi warna.
Tak kalah bersamaan dengan grafis, gambar dan kerja kreatif diakumulasikan dengan 0 rupiah.
Namun menariknya, bersamaan seni dan politik akan selalu menemukan tempat dan relevansinya. Sebagaimana seni dan konstelasinya yang tak juga berubah, seni dan potret kekalahan yang abadi, seni dan perut kosong struktural & penyajian realita pahit tetap akan selalu juga kejar-kejaran dengan kekuasaan.
Lantas dari mana gesekan seni dan politik ini bermula?
Bagaimana hubungan romantis seni dan kekuasan dari masa ke masa?
Apakah seni dan protes memang baru muncul belakangan pada era 90an di indonesia lewat subkultur anak muda?
Apakah semangat seni yang mengunggah ikut terkubur bersama dongeng ala Lekra?
Menjawab sedikit dari banyak pertanyaan di atas, kuliah jalanan berlangsung minggu ini dengan sinergitas dalam rangkaian Eksebisi seni tunggal Diskkomik.
Jum'at 17 April 2026. Bersama dosen Jalanan: Ryllian Chandra. Lokasi: Tokofotokopi IBA/ Ekesibisi tunggal @diskkomik . Pukul 16:00 WIB.
Terus membaca dan melawan. Tetap takut dan terus saling menguatkan. Organisir.
Terima kasih buat teman-teman yang sudah ikut memilih cover. Dengan sedikit perbaikan, akhirnya kami memilih yang ini. Semoga suka! ❤️🔥
SEGERA TERBIT‼️
32 Tahun Menjarah Alam: Penghancuran Lingkungan di Bawah Orde Baru 1966-1998.
#32tahunmenjarahalam #bencanaekologis #sejarahlingkungan