The Grey Field tidak mencoba membuat lagu yang mudah didengar. Eighteen Lights Fading adalah tentang kehilangan yang pelan β bukan yang tiba-tiba dan dramatis, tapi yang perlahan, yang hampir tidak kamu sadari sampai semuanya sudah terlalu gelap.
Band emo/post-hardcore asal Bandung ini membangun lagunya dari distorsi yang agresif bersanding dengan tekstur yang lebih dalam dan personal. Terinspirasi dari gelombang emo dan post-hardcore era 2000-an, mereka tidak mencoba menutupi referensnya β tapi Eighteen Lights Fading punya sesuatu yang lebih spesifik dari sekedar nostalgia genre.
Judul lagunya adalah metafora yang cukup kuat untuk tidak perlu terlalu banyak dijelaskan: delapan belas cahaya β mimpi, harapan, hubungan, versi terbaik dari dirimu β yang satu per satu redup. Bukan sekaligus, tapi bertahap. Dan justru di situlah lagu ini paling jujur: kehilangan yang paling menyakitkan bukan yang meledak, tapi yang menghilang tanpa pamit.
Yang menarik, The Grey Field tidak berhenti di kehancuran. Ada momen di lagu ini yang berbicara tentang berdamai β bukan sembuh, bukan selesai, tapi berdamai. Itu perbedaan yang penting, dan mereka cukup sadar untuk tidak menyamakannya.
Eighteen Lights Fading sekarang tersedia di Bandcamp sebelum merambah ke platform streaming lainnya. Untuk yang belum kenal The Grey Field, ini pintu masuk yang tepat.
Faza menulis Choosen di fase paling berat secara mental. Itu kalimat yang cukup untuk memberi tahu dari mana lagu ini datang sebelum sempat memutarnya.
Lagunya tentang pilihan masa lalu yang sudah tidak bisa dibatalkan β insurreksi (pemberontakan), penyesalan, rasa terjebak yang datang sekaligus. Baris "all your choices chosen/you've got no say, your decision's made" adalah paradoks yang tepat: kamu telah memilih, tapi pada akhirnya pilihan itu yang memilihmu. American Football dan Hotel Books disebut sebagai referensi, dan kamu bisa mendengar dari mana dinamika naik-turunnya datang β tapi ada sesuatu yang lebih gelap di sini dari yang biasanya kamu temukan di kedua nama itu.
Keyboard Yogie di lapisan bawah adalah detail kecil yang membuat lagu ini tidak jatuh ke territory yang terlalu berat. Ada ruang di sana, meski sesak.
Choosen adalah debut. Untuk lagu yang ditulis sebagai pelampiasan, ia terdengar terlalu rapi untuk sekedar itu β dan itu justru yang jadi menarik.
Tracklist Reminiscent adalah peta yang cukup jelas: Childhood, mirror, lost, Compass, Leave, Fading, Resentment, Resign, Blame, (Hell)pless. Sebelas lagu, satu benang merah yang tidak pernah benar-benar putus. Withered Whispers tidak mencoba menyembunyikan ke mana album ini akan membawamu.
Temanya bukan cuma kehilangan secara umum β mereka spesifik. Keluarga, pertemanan, masa kecil, seseorang yang pernah dicintai dengan penuh hati. Rasa hampa yang terus tertinggal bahkan ketika semuanya sudah lama berlalu. Heavy shoegaze jadi genre yang tepat untuk itu: distorsi yang masif bisa jadi dinding pelindung sekaligus sesuatu yang menghancurkan, reverb yang tebal bisa membuat kenangan terasa seperti mengambang antara nyata dan tidak.
(Hell)pless sebagai penutup adalah detail yang perlu diperhatikan β tanda kurung di depan Hell bukan kebetulan. Ada sesuatu yang disembunyikan sekaligus ditunjukkan di sana, dan itu cara Withered Whispers bekerja sepanjang album ini.
Bogor punya sesuatu yang berat untuk didengarkan. Dalam artian yang baik.
Ada band yang lahir dari latihan bertahun-tahun, audisi ketat, visi artistik yang sudah matang sebelum satu nada pun dimainkan bersama. Dan ada band yang lahir dari komentar di YouTube β spontan, impulsif, hampir tidak sengaja. Buff adalah yang kedua, dan entah kenapa justru itu yang membuat Kangaroo / Low terasa seperti sesuatu yang tidak sedang berusaha terlalu keras untuk terdengar seperti apapun.
Ceritanya sederhana sampai terasa seperti fiksi: Landi mengunggah video cover gitar, Aldi meninggalkan komentar, ajakan untuk "ngeband" dilayangkan. Danang masuk lewat postingan media sosial yang kebetulan terlihat oleh Landi β bassist yang juga aktif di unit powerpop Fuzzya, yang terasa selaras dengan frekuensi yang dicari. Diskusi panjang, ide bertemu perspektif, tiga kepala dari kawasan pinggir Jakarta dan Tangerang yang cukup berjarak akhirnya menemukan satu titik temu. Per awal 2025, Buff resmi bergerak.
Referensinya bicara banyak sebelum musiknya diputar: Alex G, deadharrie, Duster, beberapa rilisan Winspear Records seperti Villagerrr dan Slow Pulp. Indierock/slowcore β genre yang tidak pernah terburu-buru, yang membangun emosi lewat akumulasi dan bukan ledakan, yang membiarkan rasa tinggal lebih lama dari yang direncanakan. Nama Buff dipilih karena dirasa mewakili identitas band secara keseluruhan, dan aku tidak akan mempertanyakan logika itu karena hasilnya berbicara sendiri.
Kangaroo / Low β maxi-single perdana via Tromagnon Records, rilis akhir April 2026 β berisi dua lagu yang punya hubungan rasa tapi tidak memaksamu menarik garis lurus di antaranya. Kangaroo membuka dengan ballad instrumental bernuansa terang, wishful, seperti ingatan tentang sesuatu yang belum sepenuhnya pergi. Low menyusul sebagai single utama β failed relationship, resignation, riff gitar adiktif yang datang dari alternative tuning Landi dan bertahan di kepala lebih lama dari yang kamu siapkan. Aldi mengisi drum, Danang menggenapi dengan bass dan vokal. Keseluruhan produksi dikerjakan bersama Deni Noviandi alias Denol dari Swellow/Neal di Ben's & Co. Record Studio, Bogor.
Lanjutkan membaca di kolom komentar¬
Bandung punya kebiasaan buruk yang juga merupakan kebiasaan baiknya: menumpuk semua hal yang layak dihadiri dalam satu tanggal yang sama. Sabtu, 9 Mei 2026 adalah contoh terbaru dari penyakit lama itu β tiga gigs, tiga ruang, dan kamu hanya punya satu tubuh yang tidak bisa dibagi tiga.
Selamat Memilih, Wargi Bandungπ₯
πΈ@fajarws17
9 Mei 2026. Cruising β Kolektif yang selama ini membangun identitasnya di atas kesadaran bahwa kurasi adalah pernyataan sikap β menggelar Marryanne Showcase sebagai perayaan atas maxi-single terbaru Marryanne, unit shoegaze/alternatif yang tahu betul bahwa kebisingan, kalau dibangun dengan sabar, bisa terasa seperti keheningan yang akhirnya jujur.
Lineup-nya disusun seperti orang yang paham bahwa satu warna tidak cukup untuk membuat lukisan terasa hidup: Beltigs dengan melodi indie pop-nya yang datang seperti cahaya dari jendela yang tidak sengaja terbuka, Hush yang membawa distorsi progresif seperti tembok yang retak perlahan dan ternyata indah, Neurova dari Majalengka dengan Deftones-core yang berat tapi punya ruang bernapas, Fizzle yang akan membuat tangan mengepal tanpa tahu kapan memulainya, dan Nairrta β post-doom, heavy shoegaze, eksperimental β yang menutup spektrum dari ujung yang paling gelap.
Marryanne sendiri ada di tengah semua itu, bukan sebagai puncak hierarki tapi sebagai alasan kenapa malam ini punya arah. Shoegaze yang baik tidak memintamu fokus β ia memintamu menyerah, dan itu adalah dua hal yang berbeda.
Tidak ada yang tahu apakah malam itu akan terasa seperti yang dibayangkan. Tapi ada sesuatu dalam cara Cruising menyusun ini β dengan Cross-Genre Movement yang menjembatani komunitas shoegaze, skramz, hingga pop tanpa memaksa mereka berjabat tangan β yang terasa seperti keyakinan, bukan sekedar program acara.
Sabtu, 9 Mei. Bandung. Datang dengan ekspektasi yang longgar β atau jangan datang dengan ekspektasi sama sekali.
Regist now at @cruising____
Kebanyakan kolektif musik di Indonesia merayakan anniversary dengan postingan Instagram. Ikatan Keluarga Midwest memilih untuk bikin show.
Keluarga Midwest #1 digelar 25 April 2026 di Bento Kopi UMM, Tegalgondo β tujuh jam, delapan penampil, dan satu angka yang cukup bicara sendiri: 50 orang sudah ada di dalam begitu gate dibuka pukul 16.00. Bukan setelah maghrib. Bukan setelah headliner naik. Sejak awal. Di scene lokal kita, itu bukan hal kecil.
IKM sendiri bukan promotor. Mereka adalah kolektif dokumentasi dan wacana yang sejak Februari 2025 konsisten memetakan skena midwest emo dan emo revival Indonesia β lewat esai, arsip, siaran pers, dan shitpost. Dalam satu tahun, akun Instagram yang awalnya dijalankan Alfan dan Albert itu berkembang jadi salah satu ruang paling konsisten yang membicarakan emo di Indonesia secara serius. Show ini adalah konsekuensi logis dari itu semua.
Susunan penampilnya sendiri terasa seperti peta skena Jawa Timur yang dipadatkan dalam satu malam: Nevenue dan Candles membuka dari Tulungagung dan Kediri, The Polar Bears dan Blindphase membangun intensitas sesi malam, Encounter dari Sidoarjo hadir dengan skramz yang menaikkan tensi, sebelum Beeswax muncul dan jumlah penonton melonjak jadi 350 sampai 400 orang. Eastcape menutup segalanya dengan atmosfer yang lebih syahdu lewat Hope You Found Me β pilihan penutup yang tepat setelah tujuh jam energi yang naik terus.
Yang menarik bukan hanya soal penampilnya. Nevenue naik panggung sehari setelah merilis Unsafe Zone You Could Enter β debut live untuk rilisan itu. Beeswax memainkan Bridge of Emptyness, single pertama dari album self-titled yang sedang tur Mei ini. Acara ini bukan sekadar perayaan. Ada sesuatu yang sedang bergerak di skena ini, dan Keluarga Midwest #1 menangkap momentumnya dengan tepat.
Flag besar-besar sebagai dekorasi panggung, lapakan Stevenhouse Records, photobox dari The Mastej Live dan Sinpix. Tidak ada visual 3D, tidak ada motion graphics. Cukup. Justru karena cukup, semuanya terasa seperti milik komunitas β bukan produksi yang dipinjam dari luar.
Satu tahun. Satu show. Jawa Timur hadir.
#IkatanKeluargaMidwest #AcaraKeluargaMidwest
Bloom in Time vol. 5
Saturday, 9 May 2026,
Badak Singa 6, Bandung
We bring you show, you bring us memory.
Kita bertemu kembali kepada ingatan yang hampir mati, disuasana yang bertajuk βTake Me Home Tour 2026β kita akan menikmati rasa yang kini kembali.
Dengan amunisi lima penampil yang kita hadirkan, menjadi suasana makin hangat bersama @beeswaxtheband@noirenoises@_myhermione@cubfires@mymyth.id
Hayu barudak, sampai jumpa!
Informasi Ticket Presale hanya bisa diakses melalui @scenepass.id
Klik Link di Bio @melodickidss
Ticket presale :
1 Ticket -> 50K
2 Ticket -> 90K
Ticket On The Spot (OTS) hanya tersedia di venue, ketika acara berlangsung
Ticket OTS :
1 Ticket -> 65K
2 Ticket -> 120K
Kehadiran kalian semua akan menjadi memory baru bagi kami untuk tetap menghadirkan kemeriahan terbaru di Gigs selanjutnya
#AMergeOfSounds #melodickids
#gigsbandung