Kemarin sore, my dear friend of mine baru saja kembali ke Pemiliknya. I was in literal shock. Karena beberapa hari yang lalu baru aja liat story-nya. Dan dia masih muda, lebih muda dariku. My friend, may He grant you a peaceful Barzakh....🥺
Keindahan dunia yang belakangan ini I really took for granted, runtuh seketika. Semua yang kita rawat bisa hilang dengan begitu cepat.
Hidup ini sebentar, dan sesebentar itu pula hal yang kita rasa adalah milik kita, akan kembali ke Pemiliknya. Ga terlepas dengan pasangan.
Masih bersamanya kita adalah bukti bahwa waktu terus berjalan. Dan suatu hari nanti, akan tiba saatnya di mana waktuku selesai.
Maka dengan berpulangnya temanku, aku turut diingatkan. Rasanya, bermasam muka pada hal remeh itu tiada guna. Sebab, apa yang lebih indah dari dua orang insan yang masih saling dititipkan?
Indonesia dan Palestina.
Dua kesatuan yang jauhnya melebihi pandang mata. Begitu jauh, hingga rasanya tak ada ruang bagi kita untuk berperan apa-apa.
Namun, guru kami berkata sebaliknya.
“Selama 40 tahun saya meneliti Baitul Maqdis dan menyebarkannya ke berbagai negara, saya yakin, 100% yakin, bahwa Indonesia akan memimpin persiapan keilmuan untuk membebaskannya.”
Ah….
Sebuah angin segar bagi kita yang telah berangsur-angsur patah.
Namun, jika nantinya takdir membawa kita pada mahkota keilmuan yang nyata, siapkah kita untuk bersama-sama mengembannya?
Makassar, 3 Mei 2026.
Chasing Laylatul Qadr
Jam 1 dini hari malam itu, aku keluar dari ruangan utama masjid. Sebab di sana banyak akhwat yang sudah terlelap, dan aku masih membutuhkan cahaya lampu.
Setelah duduk di salah satu lorong, aku tersentak hebat. Banyak yang tidur di dalam, tapi juga banyak yang membaca Qur’an di luar. Yang lebih mengagetkanku, shaf laki-laki begitu penuh dengan pemandangan orang bertilawah. Berjejer sebelahan, memegang mushaf masing-masing. Padahal ini jam 1 malam…. Bukannya para pencari nafkah ini seharusnya udah tidur?
Keindahan i’tikaf benar-benar ga bisa dibeli…
Sayu-sayu suara ngajinya (mulai dari yang lancar sampai terbata-bata), angin semilirnya, vibe berlomba dalam kebaikannya, dan kita yang belajar jadi lebih sederhana.
No comfy bed, tidur di karpet dan berjejer dengan yang lain, toilet dipakai bergantian, semua sahur dengan makanan yang sama. Ah, indahnya…🥹
Menjemput Laylatul Qadr adalah malam yang FOMO.
Fear of missing the special night.
Banyak orang berlomba-lomba menunggangi semangat ibadahnya, sebab siapa yang tidak mau ikutan kalau tau segala pintanya akan diamini?
Ramadan masih beberapa hari lagi. Masih ada waktu buat menutup Ramadan dengan banyak kebaikan.
Stay FOMO, everyone!
Semoga kita jadi bagian dari orang yang ngedapetin Laylatul Qadr. ✨
This might be weird, tapi setiap tahun aku selalu punya tema yang berbeda untuk Ramadanku. Tahun ini, aku sematkan tema ‘barakah’.
Aku merasa harus belajar banyak tentang keberkahan, karena ga tau kenapa, di dunia yang serba cepat ini rasanya aku mulai kehilangan esensi dari keberkahan itu sendiri.
Mungkin karena banyaknya salahku, kotornya hatiku, dan belum becusnya aku mengemban amanah sebagai manusia di dunia ini.
Kali ini aku belajar….
Ketika waktu kita berkah, sesempit apa pun waktu yang kita punya, rasanya kita bisa melakukan banyak hal.
Ketika makanan kita berkah, sesedikit apapun itu, kita akan merasa cukup dengannya.
Walaupun harta kita terbatas menurut standar dunia, tapi rasanya semua yang kita butuhkan bisa ter-fulfill dengan baik.
Ketika sebuah tempat itu berkah, mau dihinakan oleh manusia mana pun, maka keberkahannya akan terus memancar (this actually reminds me of Al-Aqsa, the center of barakah which now can’t even be used freely for Ramadan prayers🥹😭).
Barakah is another level of His love, and I hope to receive this form of love from the One who created me.
Ya Rabb, bring us closer to the center of barakah and grant barakah in our lives.🤲🏻