Psikologi Ledakan Demand
FOMO Marketing
Perilaku konsumen kini dipengaruhi oleh faktor sosial dan momentum, membuat FOMO (Fear of Missing Out) Marketing semakin relevan. Word of Mouth (WOM) menciptakan kepercayaan, sementara FOMO menciptakan urgensi, mendorong konsumen untuk bertindak cepat.
Kombinasi keduanya menghasilkan ledakan demand yang cepat, yang dapat meningkatkan penjualan dan engagement secara efektif.
Dalam webinar ini, kita akan belajar:
1. Mengapa WOM dan FOMO efektif dalam mendorong penjualan.
2. Bagaimana WOM membangun kepercayaan melalui rekomendasi sosial.
3. Cara FOMO menciptakan urgensi untuk pembelian cepat.
4. Strategi menggabungkan WOM dan FOMO tanpa terkesan memaksa.
5. Langkah-langkah praktis mengimplementasikan FOMO Marketing dalam bisnis Anda.
Pelajari Pola Marketingnya!
📅 Selasa, 19 Mei 2026
⏰ 16.00–16.45 WIB
🎟️ FREE Webinar
Daftar linknya dengan komen "Join", LIMITED SEAT!
*S&K
SUKO, The Next UNIQLO?
Berawal dari private label milik Matahari Department Store, kini SUKO mulai menarik perhatian pasar fashion lokal.
Mengusung desain minimalis, harga terjangkau, dan fokus pada kebutuhan sehari-hari, SUKO hadir di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin selektif soal value.
Hari ini, konsumen tidak lagi sekadar mencari produk murah.
Mereka mencari produk yang terasa paling worth it: desain relevan, kualitas cukup baik, dan harga yang masuk akal.
Di tengah tren “affordable essentials” yang terus tumbuh, apakah SUKO punya peluang menjadi “UNIQLO versi lokal”? 👇🏼
Carousel by @inventure.institute
Efek Domino Dolar Naik
Dalam buku Misbehaving, pemenang Nobel Richard Thaler menjelaskan bahwa manusia tidak membaca ekonomi seperti ekonom membaca tabel statistik.
Masyarakat memahami ekonomi lewat pengalaman sehari-hari.
Lewat harga yang mereka bayar dan biaya hidup yang mereka rasakan.
Karena itu rakyat tidak terlalu peduli pada indikator makro seperti yield obligasi atau kurs rupiah.
Yang mereka rasakan adalah harga sembako. Ongkos transportasi. Kemudian, pengeluaran rumah tangga yang terus berubah.
Di titik ini saya rasa pernyataan “orang desa tidak butuh dollar” menjadi terlalu menyederhanakan masalah.
Mungkin masyarakat desa tidak pernah memegang dollar secara langsung.
Namun, hidup mereka tetap terhubung dengan ekonomi global melalui harga barang sehari-hari.
Saat pupuk naik mereka merasakannya.
Saat minyak goreng mahal mereka ikut menanggungnya.
Lalu saat rupiah melemah dampaknya akhirnya tetap masuk ke dapur rumah tangga.
Carousel by @consumeri_id
By @baguszin
.
KEDUANYA
PEMENANG
Persaingan besar klasik Coca-Cola vs Pepsi sering terlihat seperti perang saling menghancurkan.
Padahal, dlm byk kasus, rivalitas justru memperbesar pasar.
Keduanya bertempur lewat iklan, distribusi, harga, hingga budaya pop.
Namun perang itu membuat konsumsi soft drink makin masif secara global.
Coca-Cola memaksa Pepsi terus inovatif. Pepsi memaksa Coca-Cola tetap relevan bagi generasi baru.
Kompetitor besar kadang bukan ancaman terbesar, tapi “partner tak langsung” yg ikut mendidik pasar, memperluas kategori, dan menjaga industri tetap hidup.
Itulah pula yg terjadi pada perang abadi Indomie vs Mie Sedaap.
Rivalitas sehat antar keduanya bukannya mengecilkan pasar, tapi justru membesarkannya bersama-sama.
Siapa yg menang?
Keduanya adl pemenang.
by @yuswohady
Carousel by @consumeri_id@inventure.id
.
BRAND INERTIA
Ketika Suzuki Carry terlalu lama mjd standar,
ia berhenti melihat perubahan pasar sbg ancaman.
Ia melihatnya sbg deviasi kecil.
Di sinilah brand inertia bekerja...
Keberhasilan masa lalu berubah mjd lensa
yg membatasi masa depan.
Lalu hadir Daihatsu Gran Max. Bukan sekadar
produk baru, tapi redefinisi konsep.
Ia membaca bhw pelaku usaha tak lagi hanya butuh
alat angkut, tapi kendaraan yg lebih nyaman,
fleksibel, dan aspiratif.
Gran Max tak melawan Carry di permainan lama;
ia mengubah permainannya.
Carry merespons, tapi terlambat dan terlalu hati-hati. Ia memperbaiki, bukan memikirkan ulang.
Ia menjaga warisan, bukan menantangnya.
Pelajarannya...
Pasar tidak pernah setia pada sejarah
dan kebesarannya, tapi pada relevansi.
Perusahaan yg gagal "mengkhianati" masa lalunya, pada akhirnya akan "dikhianati" oleh pasar.
by @yuswohady
Carousel by @consumeri_id@inventure.id
Saat Eksposur
Buat Produk Viral?
Ubi cilembu madu bukan sekadar tren biasa
Di balik viralnya, ada pola tentang cara pasar bekerja hari ini.
Awalnya hadir dengan positioning sehat, visual menarik, dan relatable dengan lifestyle diet.
Saat eksposur terus berulang di media sosial, familiaritas mulai terbentuk.
Lalu muncul FOMO.
Konsumen tertarik bukan hanya karena rasa,
tetapi karena produk tersebut terasa relevan.
Tren ini terus diperpanjang lewat
berbagai adaptasi,
dari yogurt hingga mozzarella.
Karena di era digital, yang viral
bukan selalu produk terbaik.
Tapi produk yang hadi di momentum
yang tepat dan diperkuat oleh eksposur.
Akankah hype sesaat atau tren jangka panjang? 👀
carousel @consumeri_id
.
MARKET
LEADER
ABADI
Kopiko menunjukkan bahwa market leader abadi
tidak lahir dari perang harga...
Tapi dari kemampuan mendefinisikan kategori.
Selama puluhan tahun, Kopiko tak sekadar
menjual permen kopi, tapi menciptakan identitas:
“gantinya ngopi.”
Ada 4 pelajaran pentingnya:
#1. Ciptakan kategori baru agar
tak terjebak kompetisi langsung.
#2. Bangun asosiasi tunggal yg konsisten
di benak konsumen.
#3. Kuasai distribusi hingga produk
terasa “ada di mana-mana”
(termasuk di luar angkasa 😀)
#4. Lakukan inovasi inkremental & kontinyu
tanpa merusak DNA brand.
Market leader yg abadi bukanlah
yg paling ramai & ekstrim berubah...
Tapi yg paling konsisten menjaga relevansi
dan makna produknya lintas generasi.
by @yuswohady
Powered by @consumeri_id@inventure.id
.
KENAPA MINIMARKET
MENJADI LEISURTAIL?
Indomaret masuk clothing.
Alfamart masuk bioskop.
Family Mart masuk coffee shop.
Ini bukan diversifikasi biasa.
Ini tanda lahirnya era baru: "Leisurtail".
Yaitu ketika retail dan leisure melebur
mjd satu pengalaman.
Ada 3 alasan kenapa minimarket berevolusi mjd leisurtail:
#1.
Bisnis grocery makin sulit bertumbuh. Margin tipis, perang harga brutal, dan produk antar minimarket semakin sulit dibedakan. Retail perlu sumber pertumbuhan baru.
#2.
Konsumen tidak lagi hanya mencari transaksi, tapi experience. Minimarket kini ingin mjd bagian dari gaya hidup: tempat nongkrong, menikmati kopi, membeli merchandise, hingga mencari hiburan ringan.
#3.
Indomaret dan Alfamart sdh memiliki aset terbesar: kedekatan dgn kehidupan sehari2 masyarakat. Ribuan gerai mrk bukan sekadar titik penjualan, tapi titik interaksi sosial.
Di masa depan, retail mungkin tak lagi dinilai
dari seberapa banyak barang terjual.
Tapi dari seberapa lama konsumen mau tinggal...
Menikmati suasana dan kem @inventure.id bali datang.
by @yuswohady
Carousel by @consumeri_id
Kenapa Politisi “Biasa” Bisa Lebih Populer dari yang Kerja Nyata?
Di era sekarang, publik sering menilai kesan lebih dulu sebelum kinerja. Itulah kenapa personal branding jadi senjata penting di dunia politik.
Lewat buku Personal Branding for Politician, kamu akan memahami bagaimana citra, komunikasi, dan persepsi publik bisa membentuk pengaruh besar di mata masyarakat.
Baca selengkapnya dalam buku “Personal Branding for Politician” dapatkan di e-commerce kesayangan ❤️
*Tap detail video selengkapnya
.
AKANKAH UNIQLO
MENJADI "SERAGAM"
KELAS MENENGAH
Masuk ke kafe, coworking space, kampus,
hingga bandara, pemandangannya terasa mirip:
Oversized Airism, ankle pants, warna earth tone,
dan gaya minimalis rapi.
Tanpa disadari, Uniqlo perlahan mjd “seragam”
kelas menengah urban Indonesia.
Dulu fashion dipakai utk tampil beda.
Kini byk orang justru ingin tampil aman, simpel,
dan tak salah kostum.
Uniqlo menjawab kebutuhan itu: nyaman dipakai kerja, nongkrong, traveling, hingga tampil di medsos.
Kesuksesan Uniqlo bukan hanya soal pakaian,
tapi perubahan psikologi konsumen urban
yg lelah dgn "fashion gaduh". Minimalisme kini mjd simbol sophistication baru.
Akibatnya, visual masyarakat urban makin homogen.
Di Starbucks, di coworking space, di airport, or gaya mahasiswa startup terlihat seperti template yg sama.
Ironinya, Gen Z yg katanya mengedepankan individualitas & autentisitas, kini justru
kian berpakaian seragam.
Akankah Uniqlo mjd "seragam" kelas menengah
di era susah?
by @yuswohady
Carousel by @consumeri_id@inventure.id
“Mimpi sederhana banyak brand produknya dicari, dibeli, lalu dicintai pasar”
Tapi realitanya, banyak bisnis berhenti bukan karena produknya jelek melainkan karena kalah dikenal, kalah relevan, dan kalah membangun momentum.
Hari ini, langkah kecilnya bukan langsung viral. Kadang cukup berani belajar cara membangun FOMO yang tepat agar produk punya value, percakapan, dan alasan untuk dipilih. 🚀
Mulai dari insight kecil, bisa jadi pertumbuhan besar.
Swipe selengkapnya & ikut webinar FOMO Marketing sekarang 👇🏼
bit.ly/fomomarketing26
#Marketing
#DigitalMarketing
#Bisnis
#UMKM
Status UNESCO
akankah sekadar label?
Nyatanya status UNESCO bukan sekadar label.
Ia bisa menjadi soft power baru bagi kota untuk menarik wisatawan, talenta, hingga investasi.
Tapi pertanyaannya:
apakah branding itu benar-benar menggerakkan ekonomi lokal, atau hanya jadi simbol global?
Di era ekonomi kreatif, kota bersaing lewat narasi dan identitas.
Menurut anda, kota mana di Indonesia yang punya branding paling kuat hari ini? 👇