Hati Bertali
sudah rilis hari ini.
Lagu ini nggak lahir dari cerita besar,
tapi dari hal-hal kecil
yang ternyata susah dilepas.
🎧 link di bio
Music Credits:
Writer: @budiirwandii
Co-Witer: Bumiy
Producer: @_denijanuarta
Mixing & Mastering: @renedmar
Recorded and produced at @3amstudio
Produced by @gitakita_ Production
#duniabumiy #ceritabumiy #musikbumiy
dulu tuh ya,
aku pikir cinta itu akan sama aja terus
ternyata… gak loh
kadang terasa biasa
kadang sebel, kesel
kadang lucu, bahagia
atau flat aja… kayak jalan tol
sampai akhirnya aku ngerti
“spark” itu bukan sesuatu yang datang otomatis
tapi sesuatu yang harus dijaga
lewat hal-hal kecil
lewat hadir
lewat memilih yang itu lagi
setiap hari
ibarat api panggangan…
kadang harus dikipas
kadang diaduk
kadang cukup dijaga aja
supaya tetap hangat
📸by @zulkumis
#refleksibumiy #duniabumiy #permintaanhati
Weekend kemaren padat merayap ya.
Hari dimulai dengan:
memfasilitasi Sesi Bicara Rangkul bareng Kak @lusisamiaji
Trus lanjut ke nikahan @rozi_rizqullah bareng @aadung ketemu teman2 yang udah lama gak ketemu
Malamnya nonton @yayafaraa dan @_denijanuarta perform di @riverbucks_ bareng @abielhasan16 dan ketemu teman2 baru
Ternyata hal yang paling menguatkan bukan cuma hal-hal besar.
Kadang justru datang dari perjalanan, bertemu banyak orang, obrolan singkat, dan momen-momen kecil yang lewat begitu saja.
Diam-diam, keseharian seperti ini ikut mengajarkan banyak hal.
Dan ternyata…
kita semua sedang bertumbuh pelan-pelan.
#ceritabumiy #refleksibumiy
Tidak semua lagu yang aku nyanyikan, aku yang tulis.
Setelah semua yang terjadi, aku tidak langsung paham.
Butuh waktu untuk benar-benar mengerti apa yang sebenarnya sedang aku rasakan.
Mencari momen itu juga tidak mudah.
Aku harus tetap terlihat kuat di depan Mama.
Ada fase di mana semuanya terasa kosong.
Bukan karena tidak ada yang terjadi, tapi karena terlalu banyak yang harus diterima dalam waktu yang bersamaan.
Kehilangan orang yang paling berarti,
dan di saat yang sama… kehilangan rencana hidup yang sudah aku bayangkan begitu jelas.
Waktu Da @budiirwandii memperdengarkan beberapa demo lagu, aku mendengar lagu ini.
Secara cerita memang tidak persis seperti yang aku alami.
Tapi entah kenapa, rasanya sama.
Rasa yang aku rasakan di momen itu,
dan di momen kehilangan yang lain.
Awalnya aku ragu untuk membawakan lagu ini.
Bahasanya Minang, dan aku sendiri belum sepenuhnya nyaman.
Tapi di saat yang sama, aku ingin sekali berbagi rasa ini.
Jadi buatku, ini juga sebuah tantangan.
Walaupun ini bukan lagu yang aku tulis sendiri,
aku bisa merasakan setiap katanya.
Dan aku tahu,
ini adalah cerita yang juga pernah aku jalani.
Itu alasan kenapa aku memilih lagu ini.
Bukan hanya karena materinya indah,
tapi karena rasanya nyata.
#ceritabumiy #japuiktabao #laguminang
untuk yang pernah kehilangan
Japuik Tabao - sudah rilis
Credits:
songwriter @budiirwandii
producer @_denijanuarta
mixing & mastering @renedmar
bass guitar @mahenddddd_
recorded at & production of @gitakita_
#musikbumiy #japuiktabao #laguminang
Ada hal-hal yang tidak bisa kita pertahankan,
bukan karena kita tidak cukup berusaha,
tapi karena memang bukan untuk kita miliki.
Lagu ini mewakili rasaku di moment itu.
Japuik Tabao — sudah rilis.
Songwriter: @budiirwandii
Music Producer: @_denijanuarta
Mixing & Mastering Engineer: @renedmar
Bass Guitar Player: @mahenddddd_
Recorded at & Production of @gitakita_
#musikbumiy #japuiktabao
Tidak semua rencana adalah takdir.
Aku dulu—mungkin sampai sekarang—termasuk orang yang suka merencanakan segalanya. Bahkan hal-hal yang belum tentu terjadi pun sudah aku bayangkan bentuknya seperti apa.
Salah satunya adalah keputusan untuk menikah pertama kali.
Waktu itu, alasan terbesarku sederhana: ingin memenuhi cita-cita Papa untuk menikahkan anak satu-satunya.
Tapi kalau dipikir sekarang, mungkin saat itu aku juga sedang berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa dengan menikah, hidup akan berjalan sesuai yang aku bayangkan.
Jadi aku tetap melangkah.
Satu hal yang masih ingin aku wujudkan sebelum benar-benar masuk ke fase itu adalah pernikahan yang pernah aku idamkan.
Tapi dua hari sebelum hari itu, semuanya berubah.
Papa meninggal.
Orang yang selama ini menjadi alasan di balik banyak keputusan dalam hidupku.
Alasan kenapa aku ingin menikah pun hilang, walaupun saat itu aku belum sepenuhnya sadar.
Semua rencana tentang pernikahan idaman harus berhenti di situ.
Di satu sisi, aku sedang berduka.
Di sisi lain, ada rasa kecewa yang tidak sempat aku akui.
Rasanya jadi datar.
Tenda yang dipasang untuk menikah, akhirnya menjadi tenda kematian.
Di momen itu, aku baru mulai mengerti:
tidak semua yang sudah direncanakan,
memang ditakdirkan untuk terjadi.
Dan ternyata, pelajaran tentang melepaskan itu tidak berhenti di situ.
#ceritabumiy #refleksibumiy
Senyum itu belum tentu cerminan bahagia.
Pada momen ini, senyum bukan berarti bahagia sepenuhnya.
Tidak banyak yang tahu, ini adalah momen ketika aku pertama kali belajar melepaskan. Melepaskan orang terkasih, dan melepaskan rencana-rencana yang sebelumnya terasa begitu pasti.
Ada hal-hal yang sudah disusun dengan penuh harap, tapi pada akhirnya tidak bisa diteruskan. Bukan karena tidak mau, tapi karena memang ada keadaan yang tidak memberi ruang untuk itu tetap berjalan.
Waktu itu aku pikir, mungkin cukup sekali saja aku belajar melepaskan. Tapi ternyata tidak.
Dalam perjalanan, akan selalu ada momen lain, dengan cerita yang berbeda, tapi rasa yang sama. Dan di situ, aku harus belajar lagi.
Lagi, dan lagi.
#refleksibumiy #ceritabumiy #monolog
sunyi.
pelan.
tapi nusuknya lama. 🥀
—
“JAPUIK TABAO”
Bumiy
—
Bukan sekadar lagu kehilangan.
Tapi tentang janji
yang gak sempat ditepati,
dan seseorang
yang pergi untuk selamanya.
Lewat “Japuik Tabao”,
Bumiy membawa warna musik Minangkabau
ke arah yang terasa berbeda.
Bukan megah.
Bukan dramatis berlebihan.
Tapi tenang,
hangat,
dan justru makin ngena karena kesederhanaannya.
Ditulis oleh Budi Irwandi,
lagu ini mengangkat rasa kehilangan paling dalam:
saat orang yang kita sayang
udah gak bisa kembali lagi.
Lirik seperti
“Uda kini dalam pusaro”
langsung bikin semuanya terasa nyata.
Ini bukan tentang hubungan yang renggang.
Bukan tentang jarak.
Tapi tentang perpisahan
yang gak akan pernah bisa diperbaiki lagi.
Dan di situlah “Japuik Tabao” terasa begitu menyakitkan.
Secara musikal,
Bumiy juga ngajak pendengar masuk ke atmosfer musik Minangkabau era 50-60an,
dengan pendekatan yang jarang banget ditemui di lagu Minang modern hari ini.
Aransemen dari Deni Januarta terdengar manis tapi tetap sendu,
sementara proses mixing & mastering oleh Irene Edmar Irawan bikin seluruh emosi di lagu ini tetap terasa intim dan dekat.
Hasilnya?
Sebuah lagu tradisional yang terasa klasik,
tapi tetap relevan buat generasi sekarang.
Karena ternyata,
kehilangan selalu punya bahasa yang sama.
Mau di masa lalu,
atau hari ini.
“Japuik Tabao” bukan cuma membuka ruang nostalgia,
tapi juga jadi bukti kalau musik Minangkabau masih bisa berkembang,
bereksperimen,
dan menyentuh pendengar lintas generasi.
🎧 “Japuik Tabao” sudah tersedia di seluruh platform streaming digital sejak 7 Mei 2026
💬 Pernah gak sih lo kehilangan seseorang sebelum sempat bilang semua yang pengen diucapin?
📌 Share ke orang yang akhir-akhir ini lagi belajar ikhlas
Karena kadang,
yang paling sakit…
adalah cinta yang gak sempat selesai.