Mungkin lo pernah bermimpi jadi pilot, astronaut, atau bahkan presiden? Bukan gak mungkin sih, yang katanya gak mau jadi presiden aja sekarang jadi wapres 👀 (Halo Mas
@gibran_rakabuming )
Kalo gue, dari waktu masih sekolah tuh pengen banget jadi penulis. Mimpi ini muncul setelah gue selesai baca novelnya
@afuadi di tahun 2010 (Novelnya worth to read sampai sekarang!).
Di antara mimpi yang lain, yang menarik dari menjadi penulis bagi gue saat itu adalah ngebayangin bahwa apa yang kita tulis bisa membuat orang merasakan sesuatu. Isn’t that amazing?
Fast forward ke sekarang, di mana menulis udah bukan jadi rutinitas gue. Mimpi itu hampir mati, karena seperti yang kita tau, siapa yang masih baca buku sih zaman sekarang? Wapres kita masih sih meskipun bacanya komik, hehe, gapapa.
Sampai tahun lalu, gue disarankan oleh
@zamfarhad untuk ikut kontribusi di project bukunya PPI Denmark. Meski awalnya agak canggung, niat gue disambut baik oleh
@firdausyalif6 dan
@dekavvv selaku editornya, lalu akhirnya gue jalani aja sepenuh hati.
Ada perasaan aneh di tengah prosesnya, yang asumsi gue kayaknya ini karena mimpi yang hampir mati akhirnya ‘dibangunkan’ lagi oleh satu kesempatan yang bahkan gue gak pernah nyangka akan datang juga.
Belakangan ini, gue dihantui oleh momen-momen yang gue habiskan bukan untuk mengejar mimpi itu. Sampai gue mikir, ngapain aja sih selama ini?
Sampai akhirnya buku ini terbit, tepat 15 tahun setelah mimpi jadi penulis itu muncul di dalam diri gue, rasanya campur aduk banget.
Gue bersyukur tumbuh sebagai seorang pemimpi. Bahkan bukan hanya itu, gue adalah seorang pemimpi yang sangat detail. Saking detailnya, gue bisa jabarkan proses-proses yang harus dilewati menuju mimpi itu. Dan buku ini adalah salah satu manifestasinya.
Karya bersama teman-teman
@ppi_denmark ini, mungkin bisa berarti suatu hal untuk tiap penulisnya. Tapi bagi gue, ini bukan hanya ‘akhirnya gue nulis buku’. Lebih dari itu, karya ini pengingat bahwa ternyata mimpi gak bisa mati, dia cuma nunggu waktu.
Pertanyaannya, ketika mimpi itu datang lagi, lo masih berani ngejar gak?