Made Eru | Culture & Diversity Enthusiast

@being.eruu

Travel & Culture through Gen Z lens Raw moment only| 📥 [email protected] @syailandsweet @neo_charcoal #balilife
Followers
21.2k
Following
2,061
Account Insight
Score
37.57%
Index
Health Rate
%
Users Ratio
10:1
Weeks posts
Bali yang kamu cari-cari, ternyata ada di sini… 🌴🌊 Bukan di tengah hiruk-pikuk Canggu atau Seminyak, tapi di ujung barat Bali di tempat yang tenang, damai, dan masih alami: Puri Dajuma Eco Resort. Bayangin bangun pagi, buka jendela, dan langsung disambut suara ombak plus view laut lepas. Nggak ada suara klakson. Nggak ada FOMO. Cuma kamu, alam, dan ketenangan yang nggak bisa dibeli di kota. Resort ini bukan cuma cantik, tapi juga peduli lingkungan dari bahan bangunan, makanan lokal, sampai energi ramah lingkungan. Jadi, kamu healing sambil ikut bantu jaga bumi. Double win, kan? Kalau kamu lagi cari tempat buat rehat total, recharge, atau sekadar escape dari keramaian… Trust me, ini Bali versi terbaik. ❤️ #HiddenGemBali #EcoTravel #PuriDajuma #SlowLiving #BaliEscape #bali #baliaccomodation #travel #traveling #bali🌴 #travellife #baliisland #baliindonesia
588 29
1 year ago
Aku Kira Healing Trip, Ternyata Tes Mental. 🤣 #backpack #backpacker #backpacking #travelling #travel #traveler #explore #explorer #wildlife #niceexperience #indonesia
869 55
6 months ago
Moment staff di Bali barat heboh karena kemunculan ular😭🤣 #balimoment #bali #balipeople
301 19
5 days ago
Aku pernah ada di fase hidup yang benar-benar down karena sesuatu yang pernah hilang dalam hidupku. Waktu semuanya hilang, aku pun ikut kehilangan diriku sendiri. Hari-hari waktu itu terasa berat banget. Bangun tidur rasanya kosong. Ketemu orang capek. Ketawa pun rasanya kayak dipaksa. Aku rutin ke psikolog, psikiater, minum obat berbulan-bulan. Dan aku gak bilang itu salah, karena itu sangat membantu banyak orang. Tapi entah kenapa buat aku, tetap ada bagian kosong yang gak bisa dijangkau. Aku malah merasa makin jauh dari versi diriku yang dulu. Sampai satu hal kecil yang sebenarnya sering aku lihat setiap hari mulai bikin aku sadar. Orang Bali sembahyang. Awalnya sederhana banget. Cuma lihat ibu-ibu taruh canang pagi-pagi, bapak-bapak sembahyang sebelum buka toko, bau dupa di jalan, suara gamelan dari jauh. Tapi entah kenapa setiap lihat itu, rasanya tenang banget. Kayak ada energy yang beda. Damai. Hangat. Tulus. Dan yang bikin aku sadar adalah orang Bali melakukan itu setiap hari. Mereka hidup dekat banget sama rasa syukur dan spiritualitas, bahkan di hal-hal kecil. Sampai akhirnya seseorang bilang ke aku buat coba melukat. Jujur awalnya aku gak expect apa-apa. Aku pikir itu cuma ritual biasa. Tapi ternyata pengalaman pertama melukat jadi salah satu momen yang paling aku inget sampai sekarang. Waktu air itu nyentuh kepala dan mukaku, aku nangis. Bukan nangis mewek, tapi kayak ada sesuatu yang akhirnya keluar setelah lama dipendam sendiri. Rasanya tenang banget. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikiranku pelan-pelan jadi diem. Dan anehnya, perasaan itu gak pernah aku rasain di tempat lain. Di situ aku sadar kalau mungkin setiap orang punya jalannya masing-masing buat sembuh. Dan ternyata jalanku ada di Bali. Bukan lewat party. Bukan lewat distraction sementara. Tapi lewat doa, budaya, laut, orang-orangnya, dan energy Bali itu sendiri. Sekarang aku ngerti kenapa banyak orang datang ke Bali dalam keadaan capek, kehilangan arah, bahkan kehilangan dirinya sendiri… lalu pulang jadi versi yang berbeda. Karena ternyata Bali gak cuma indah. Bali punya cara sendiri buat nyembuhin manusia. 🤍✨
13.2k 445
8 days ago
Katanya pura ini tempat orang minta jabatan… Katanya, kalau ke Pura Batu Kursi, banyak yang datang bukan cuma buat sembahyang. Tapi buat minta sesuatu yang lebih spesifik: kedudukan, kesuksesan, posisi, status, dan arah hidup. Makanya disebut “Batu Kursi”. Simbolnya kursi, tempat duduk, posisi. Dan jujur… itu yang bikin aku penasaran pertama kali. ⸻ Tapi waktu aku sampai di bawah, yang aku lihat bukan sesuatu yang “sakral banget” seperti yang dibayangkan. Cuma bukit. Tangga panjang. Dan suasana yang relatif sepi. ⸻ Sampai akhirnya aku mulai naik. Beberapa menit pertama. Masih bisa lihat-lihat. Masih mikir, “oh, segini doang.” Tapi makin ke atas, napas mulai berubah. Langkah jadi pelan. Dan tanpa sadar… aku berhenti mikirin hal-hal di luar. ⸻ Yang menarik, gak ada distraksi di sepanjang jalan. Cuma kamu dan langkahmu sendiri. Dan di situ biasanya orang mulai diam. ⸻ Pas sampai atas, juga aku lihat cuma: laut di kejauhan, bukit di sekeliling, angin yang cukup kencang. Dan suasana bikin tenang. ⸻ Di titik itu, aku malah mikir: kalau memang tempat ini sering dikaitkan sama “jabatan” dan “kedudukan”… kenapa rasanya justru bikin kita lepas dari itu semua? Gak kepikiran soal posisi. Gak kepikiran soal ambisi. Cuma duduk. Diam. Dan napas. ⸻ Mungkin itu yang orang sering salah tangkap. Bahwa tempat seperti ini bukan tentang “mendapat sesuatu”. Tapi tentang melihat ulang apa yang sebenarnya kita kejar. ⸻ Dan mungkin juga itu kenapa tempat ini tetap dijaga seperti sekarang. Gak terlalu ramai. Natural dan nggak komersial. Orang datang, berdoa, lalu pergi. Tanpa perlu banyak hal. ⸻ Jadi kalau kamu dengar, “katanya pura ini tempat minta jabatan…” mungkin itu benar. Tapi setelah sampai di atas, kamu bisa jadi pulang dengan sesuatu yang berbeda. Bukan jawaban. Tapi keheningan yang cukup jelas.
5,145 60
13 days ago
Makin lama gue di Bali… gue mulai lihat realita yang jauh lebih nyata dari sekadar karma yang dibicarakan. Gue lihat orang buang sampah dari jembatan… santai. Gue datang ke air terjun yang di foto keliatan kayak surga… pas nyampe? zonk. Sampah di mana-mana. Gue bahkan pernah lihat… staf hotel, pakai atribut lengkap… buang sampah ke sungai. Dan di situ gue mulai mikir: Kita ini lagi ngomongin karma yang sama… atau beda? Karena kalau karma itu action and reaction, harusnya ini juga termasuk. Bukan yang mistis. Yang langsung kelihatan. Dan ketika Tempat Pembuangan Akhir Suwung ditutup atau dibatasi… realitanya makin kelihatan. Sampah di sungai di Denpasar bahkan tembus 30 ton per hari setelah penutupan Ini bukan lagi isu kecil. Ini bukan sekadar “orang buang sampah sembarangan.” Ini udah sistem. Dan yang bikin gue makin ke-trigger… kita punya filosofi luar biasa: Tri Hita Karana Harmoni manusia. Harmoni dengan Tuhan. Harmoni dengan alam. Dua yang pertama? Gue angkat tangan, luar biasa. Tapi yang ketiga? Masih jadi PR besar. Yang lebih ironis lagi… Banyak orang bahkan dari luar punya niat bantu, punya solusi… tapi sering berhenti di tengah jalan. Sementara yang jalan? Justru orang-orang kecil. Komunitas. Individu. Influencer yang edukasi. Orang yang pungut sampah satu-satu. Bukan karena mereka punya power… tapi karena mereka punya kesadaran. Dan ini bukan hate speech. Gue cinta Bali. Gue sering ke pura. Gue respect budaya dan spiritualitasnya. Dan gue juga kenal banyak banget orang Bali yang: ✔️ baik ✔️ hangat ✔️ peduli lingkungan ✔️ vokal soal sampah Tapi di saat yang sama… kita juga nggak bisa tutup mata kalau masih banyak yang melakukan sebaliknya. Karena jujur aja… karma itu bukan cuma soal apa yang lo lakukan secara pribadi. Tapi juga… apa yang lo biarkan terjadi. Kalau kamu baca sampai sini, gue cuma mau bilang satu hal: Bali itu indah. Tapi keindahan itu bukan sesuatu yang otomatis bertahan. Dia dijaga. Atau… pelan-pelan hilang. Dan itu juga… karma. #safetheworld #baliisland #karma♻️
278 28
1 month ago
Sibuk banget mereka orang Bali sebelum “Nyepi” 😭😂🙏🏻 #nyepiday #balinese #baliculture #baliisland
896 20
1 month ago
Baru kali ini lihat ogoh ogoh tapi good looking 😭🤣
1,087 17
1 month ago
Terkagum-kagum sama Tampaksiring style. Klasik, no robotic, authentic gitu. Epic banget 😭🔥❤️ #baliisland #ohohogoh #silentday
57.8k 192
1 month ago
Setuju sama komen “satir” ini ton? 😭🤣🙏🏻
12.5k 471
1 month ago
Pulang bisa nanti, tapi moment ini nggak datang 2 kali 😍🤟🏻❤️ #nyepiday #silentday #baliisland
14.8k 284
1 month ago
Jujur ya, dulu gue agak takut sama pohon kamboja. 😭🙏🏻 Soalnya dari kecil selalu dengar cerita yang sama: “itu pohon angker.” Di kampung gue, hampir nggak ada orang yang mau nanam kamboja di halaman rumah. Kalau lihat pohonnya tinggi, batangnya bengkok, bunganya jatuh di tanah, langsung kebayang cerita mistis yang sering diceritain orang tua.🤣 Padahal kalau dipikir sekarang, agak lucu juga. Kita takut sama sebuah pohon. Secara ilmiah, pohon kamboja dikenal dengan nama latin Plumeria, tanaman tropis dari keluarga Apocynaceae. Menariknya, pohon ini sebenarnya bukan berasal dari Asia, tapi dari wilayah Amerika Tengah, Meksiko, Karibia sampai Amerika Selatan sebelum akhirnya menyebar ke berbagai negara tropis di dunia. Jadi sebenarnya dia cuma pohon bunga biasa. Image “angker” itu muncul karena di banyak tempat di Indonesia, kamboja sering ditanam di area pemakaman sebagai pohon peneduh. Dari situlah muncul berbagai mitos, mulai dari katanya jadi tempat tinggal makhluk halus sampai sering dikaitkan dengan cerita hantu😭. Tapi Bali melihatnya dengan cara yang sangat berbeda. Di sini, kamboja yang sering disebut jepun justru dimuliakan. Bunganya dipakai untuk canang, upacara keagamaan, dekorasi pura, bahkan sering jadi hiasan rambut penari Bali.🥰 Dan yang paling gue suka, pohonnya benar benar ada di mana mana. Di halaman rumah, di pura, di pinggir jalan.❤️ Setiap pagi bunganya jatuh berserakan di tanah, seperti karpet alami berwarna putih, kuning, kadang pink. Aromanya juga khas, lembut tapi semerbak, bikin suasana terasa tenang.🥹 Lucunya lagi, ada mitos kecil juga soal bunganya. Kalau kamboja punya jumlah kelopak yang tidak biasa, misalnya empat atau enam kelopak, sebagian orang percaya itu membawa keberuntungan. Entah benar atau tidak. Tapi satu hal yang gue pelajari dari Bali, alam tidak selalu harus ditakuti. Kadang kita hanya perlu belajar melihatnya dengan lebih hormat. Karena di banyak tempat, kamboja dianggap pohon angker yang harus dijauhi. Tapi di Bali, bunga yang sama justru jatuh setiap hari dan wanginya membuat pulau ini terasa lebih hidup. 🌺 #frangipani #kamboja #pohonkamboja #bali
1,185 115
2 months ago