Tidak lama singgah di Pasar Legi, Solo
mungkin kurang dari satu jam. Itu pun belum sempat menyusuri lorong-lorong lapaknya.
Dari halaman Pasar Legi saja, kehidupan sudah terbuka, para perempuan pekerja, buruh gendong, menawarkan tenaga untuk mengangkut barang milik pedagang maupun pembeli.
Bagi mereka, ini barangkali sekadar rutinitas, dijalani tanpa banyak kata dan tanpa perlu penjelasan. Hari bergerak seperti biasa. Langkah mereka menyatu dengan riuh pasar, menjaga agar api dapur di rumah tetap menyala.
Wajah Kartini dari Pasar Legi...
#pasarlegi
Bangunan bergaya kolonial di Jalan Pemuda, Kota Semarang, Jawa Tengah, itu masih dipertahankan sejak berdiri pada 1936, menghadirkan suasana yang nyaris tak berubah.
Menjelang senja, langkah kaki tamu melewati jendela kaca bertuliskan ”90EN generaties en cerita, di tafel jang sama” sebagai penanda perayaan sembilan dekade. Dari balik kaca, tamu undangan tampak memenuhi kursi bertaplak putih, sementara hidangan tersaji rapi di atas meja, Kamis (16/4/2026).
Suasana hangat sekaligus intim terasa dalam jamuan makan malam puncak perayaan. Jenny Kalalo Megaradjasa, generasi ketiga pemilik restoran legendaris ini, menyambut tamunya yang sebagian besar pelanggan setia dan telah mengikuti perjalanan Toko Oen (@tokooen ) melintasi waktu.
Ia menuturkan, sejumlah menu tetap dipertahankan dengan resep warisan Ny Oen Tjoen Hok. Perjalanan usaha ini bermula di Yogyakarta pada 1910, lalu berkembang ke Jakarta dan Malang pada 1934 hingga akhirnya hadir di Semarang pada 1936.
Simak kisah dan foto-foto selengkapnya dalam “Toko Oen, 90 Tahun Menjaga Rasa dan Sejarah” oleh Raditya Mahendra Yasa (@begeus ) di Harian Kompas (Kompas.id).
#TokoOen #Fotografi #AdadiKompas @kompasfoto
Tembok-tembok tinggi di Kampung Petemesan, Pekojan, selama ini lebih akrab sebagai gudang, pagar pembatas, dan sisa lanskap perdagangan lama Kota Semarang, Jawa Tengah. Deretan tembok yang biasanya hadir sebagai latar bagi lalu lintas barang dan aktivitas ekonomi dalam sepekan terakhir berubah wajah lebih hidup dan berwarna.
Festival bertema ”Aturen Awuren” menjadi ruang temu beragam aliran. Dalam satu bidang tembok, gaya visual bertumpuk, saling silang, bahkan tampak bertabrakan. Dari pertemuan itu justru lahir kohesi baru, cara lain membaca dinamika kampung kota, Senin (6/4/2026).
Sore itu, Wicaksana (20) bersama Nanda (22) menuntaskan mural. Karya tersebut terinspirasi dari proyek band mereka, The Java Cats. Kedua anak muda itu menyelesaikan lukisan seekor kucing besar pada dinding sebuah gudang kertas. Figur kucing tersebut menjadi metafora kehidupan kampung kota.
”Ini bagian dari proyek musik juga. Saya mencoba merespons aturan awuren lewat lapisan visual yang saling menimpa, seperti dinamika kampung kota itu sendiri,” ujar Wicaksana.
Simak kisah dan foto-foto selengkapnya dalam “Dari Tembok Niaga ke Ruang Seni Kota” karya Raditya Mahendra Yasa (@begeus ) di Harian Kompas (Kompas.id).
#Fotografi #AdadiKompas @kompasfoto
Tembok-tembok tinggi di Kampung Petemesan, Pekojan, selama ini lebih akrab sebagai gudang, pagar pembatas, dan sisa lanskap perdagangan lama Kota Semarang. Deretan tembok yang biasanya itu hadir sebagai latar bagi lalu lintas barang dan aktivitas ekonomi dalam sepekan terakhir berubah wajah lebih hidup dan berwarna.
Dinding menjelma menjadi kanvas terbuka. Lapisan baru seni urban muncul di jantung kawasan niaga. Dalam satu bidang tembok, gaya visual bertumpuk, saling silang, bahkan tampak bertabrakan. Dari pertemuan itu justru lahir kohesi baru, cara lain membaca dinamika kampung kota,
Perupa Semarang Rudy Murdock menorehkan kalimat “No Art No Future” di bagian atas muralnya. Pernyataan sederhana itu menegaskan bahwa tanpa seni, dunia akan kehilangan denyutnya. Kota tanpa seni hanya akan menjadi kumpulan bangunan beton yang dingin tanpa empati. Masa depan akan berjalan repetitif dan mekanis...
#fotocerita
#semarang
Di tengah perjalanan panjang menuju kampung halaman, wajah-wajah lelah itu tak sepenuhnya mampu menyembunyikan rasa bahagia. Ratusan hingga ribuan kilometer ditempuh, berbagai cara diupayakan, demi satu tujuan, pulang dan bersilaturahmi menjelang Idul Fitri.
Siang itu, di depan sebuah restoran yang tutup di Rest Area Kilometer 429, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, serombongan keluarga dari Madura beristirahat. Mereka menggelar alas seadanya di pelataran, membuka bekal yang dibawa dari rumah.
Keluarga besar Ahmad menempuh perjalanan dari Tangerang menuju Madura dengan mobil sewaan. Bekal makanan sederhana berupa nasi dengan lauk telur tersaji dalam bungkusan plastik. Di sampingnya, termos berisi air panas menjadi andalan untuk menyeduh kopi dan teh.
”Kami pulang bersama agar lebih hemat. Biaya bensin dan tol ditanggung patungan,” ujar Ahmad.
Selama belasan jam perjalanan di Jalan Tol Trans-Jawa, mereka berusaha menekan pengeluaran. Bekal dari rumah dirasa cukup, sementara jajan hanya sesekali untuk anak-anak.
Simak kisah dan foto-foto lainnya dalam “Jalan Panjang Menuju Pulang” oleh Raditya Mahendra Yasa (@begeus ) di Harian Kompas (Kompas.id).
#Mudik #Lebaran2026 #Fotografi #AdadiKompas @kompasfoto
Dari balik gemerlap lampu dan musik riuh pasar malam, Lintang (20) menjalani pagi-paginya di ruang sempit yang hanya dibatasi tirai bergambar kartun. Ruang itu berada di balik wahana komidi putar yang berdiri di sekitar Alun-alun Kota Semarang. Di sanalah ia bersolek seadanya, mengoleskan bedak tipis dan gincu merah muda, sebelum hari kembali bergerak seperti biasa.
Gadis asal Boyolali, Jawa Tengah, itu tak sendirian. Di sebelahnya, Alia (20) sesekali menunduk menatap layar telepon seluler. Keduanya adalah bagian dari rombongan wahana keliling Diana Ria, kelompok pekerja pasar malam yang hidup berpindah-pindah, mengikuti jadwal hiburan rakyat dari satu kota ke kota lain.
Tempat tinggal mereka bukan rumah, melainkan bilik darurat yang dibangun di sela-sela besi dan papan wahana permainan.“Sudah setahun ikut keliling,” kata Lintang pelan. Waktu pulang ke rumah hanya sebentar, beberapa hari saja, sebelum kembali berangkat untuk perjalanan berikutnya yang bisa berlangsung berbulan-bulan.
Lampu-lampu warna-warni akan segera dinyalakan, musik diputar, dan pengunjung berdatangan. Dari balik semua itu, Lintang dan kawan-kawan kembali bersiap menjalani hari, di antara besi wahana dan perjalanan yang nyaris tak pernah benar-benar usai...
#fotocerita
#kompasid
#pasarmalam
Elang hitam terbang tinggi, berputar di atas hamparan tegakan pohon di lereng Gunung Muria. Kehadirannya menjadi penanda bahwa sebagian ekosistem hutan di kawasan ini masih bertahan, meski tekanan terhadap alam terus meningkat. Siang itu cerah, setelah beberapa hari hujan mengguyur lereng Muria.
Di bawah kanopi hutan, sekelompok warga menyusuri jalan setapak, menyibak rimbunnya vegetasi. Mereka berjalan bukan sekadar menembus hutan, melainkan menjaga rumah bagi beragam satwa liar yang hidup di dalamnya.
Langkah mereka sesekali terhenti. Di tanah tampak jelas jejak kaki macan tutul jawa (Panthera pardus melas), predator puncak yang menjadi indikator kesehatan ekosistem hutan. Triyanto pegiat @pekamuria Pegiat Konservasi Muria (Pekamuria) yang memimpin perjalanan, memastikan jejak tersebut milik macan tutul. Salah satu anggota kelompok mendokumentasikannya menggunakan telepon seluler.
Dalam beberapa tahun terakhir terakhir Pegiat Konservasi Muria yang beranggotakan lintas profesi mulai dari petani, guru, pengojek, hingga anak muda berupaya menjaga sisa-sisa bentang alam Gunung Muria. Fokus utama mereka adalah perlindungan hutan dan satwa endemik, terutama macan tutul jawa yang kini bertahan di kantong-kantong hutan tersisa.
15 Desember 2025
#gunungmuria
#macantutuljawa
#hutan
Selalu Ada Drama
Selalu akan ada drama ketika langkah kaki mereka sudah menginjak karpet merah. Kemenangan, kekalahan, kekecewaan, lelah, suka cita, haru bangga semua tumpah di sana. Menyentuh finis adalah kebanggan pada diri sendiri dengan segala perjuangan saat berlari sampai di garis finish. Karpet merah untuk mereka di @borobudur.marathon 2025...
#borobudurmarathon2025
#borobudurmarathon
Kursi Tahta Raja
Sejarah panjang Keraton Surakarta tak sepenuhnya tenang. Dinamika perebutan kekuasaan yang sempat beberapa kali memanas saat itu turut mempengaruhi eksistensi Keraton Surakarta sebagai poros kebudayaan Islam dan Jawa. Sementara harapan berjalannya pergantian dan kenaikan tahta dengan mulus tanpa pertentangan masih menyisakan bara di internal keraton. Suara-suara itu mulai terdengar samar dari beberapa pihak yang mempertanyakan siapa yang paling berhak atas kursi raja selanjutnya. Menjelang siang, kereta yang membawa jenazah PB XII tiba di Loji Gadrung, lalu melanjutkan perjalanan ke Imogiri sebagai peristirahatan terakhir para raja Mataram. Sementara itu singgasana di Keraton Surakarta masih menunggu sosok yang akan dinobatkan secara sah dengan kehormatan di tengah harapan suksesi berjalan damai...
#keratonsolo
#surakarta
#fotocerita
Kiri Pak Sokiirrr
Sudah hampir dua pekan ini pengemudi truk dengan armadanya yang berlalu-lalang melintasi Kaligawe menjadi penolong bagi ribuan pekerja. Sopir yang meluangkan waktu sesaat berhenti dan memberikan tempat seadanya untuk tumpangan menerobos banjir. Sederhana namun bisa menjaga dapur terus mengepul. Kiri pak sopiirr !!
#kaligawe
Dari seberang warung Pak De melihat dari kejauhan dua sisi kehidupan yang kontras. Cahaya temaram, gerimis hujan dan dinding berlatar hijau menemani drama yang masing-masing menikmati malamnya dengan cara berbeda. Begitupun saya menikmati malam dengan segelas minuman hangat dari seberangnya 🍺
.
.
#dailylife
#streetphotos
Banjir Kota Semarang
Hujan deras yang mengguyur Kota Semarang pada Selasa (21/10/2025) sore hingga malam menyebabkan sejumlah wilayah di kota itu terendam banjir. Genangan air dengan ketinggian 10 hingga 40 sentimeter terjadi di beberapa ruas jalan utama seperti Jalan Kaligawe Raya, Jalan Padi Raya, Muktiharjo Raya, serta kawasan Tlogosari.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat, sedikitnya delapan wilayah terdampak banjir dan longsor. Di kawasan pesisir seperti Jalur Pantura Semarang–Demak, banjir bahkan memicu kemacetan hingga enam kilometer.
Curah hujan tinggi disertai sistem drainase yang tersumbat serta air rob disebut menjadi faktor utama terjadinya genangan. Meski tidak ada laporan korban jiwa, warga dan pengendara diimbau menghindari jalur tergenang serta waspada terhadap potensi bencana susulan seperti tanah longsor dan angin kencang.
Kredit Foto
1-3. Kompas/Raditya Mahendra Yasa @begeus
4-6. ANTARA FOTO/Aji Styawan @ajistyawan
#pfisemarang #pewartafotoindonesia #banjirpantura