1 Table, 10 Minds :
(Hari 3) TrilogiLakon - Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi
Ruang diskusi yang diinisiasi oleh aRRRah @arrrah__ bersama Teater Garasi @teatergarasi ini menghadirkan perbincangan lintas disiplin yang mengangkat tiga naskah lakon dalam buku terbitan @sokong_publish "Trilogi Lakon Penciptaan Bersama Teater Garasi: Je.ja.l.an (2008), Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara (2010), dan Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi (YFaWKA, 2015)".
Ketiga naskah tersebut dikatakan sebagai trilogi bukan tanpa alasan. Pertama, ketiganya menjelajahi tema yang saling berkelindan dan berkembang secara berlapis. Kedua, proses penciptaannya berangkat dari metode yang sama, sebuah cara menulis yang merayakan keragaman, yang tumbuh dari praktik teater itu sendiri.
Karya ketiga, Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi (YFaWKA), mulai dikembangkan sejak 2013 dan dipentaskan pertama kali pada 2015. Judulnya meminjam larik puisi karya Sapardi Djoko Damono, meskipun pertunjukan ini tidak secara langsung berangkat dari puisi tersebut. Dalam prosesnya, Yudi menemukan bahwa ironi halus dalam frasa itu merepresentasikan refleksi utama karya ini: tentang sejarah keangkuhan dan kebodohan “kita”, sebuah siklus berulang yang terus menghadirkan kegagalan dalam rupa-rupa baru, tanpa benar-benar belajar darinya.
Diskusi dapat dinikmati lebih lengkap di YouTube mataWaktu. Subscribe untuk mengetahui postingan-postingan selanjutnya.
link youtube : https://bit.ly/1Table10MindsKitaAbadi
1 Table, 10 Minds :
(Hari 2) TrilogiLakon - Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara
Ruang diskusi yang diinisiasi oleh aRRRah @arrrah__ bersama Teater Garasi @teatergarasi ini menghadirkan perbincangan lintas disiplin yang mengangkat tiga naskah lakon dalam buku terbitan @sokong_publish "Trilogi Lakon Penciptaan Bersama Teater Garasi: Je.ja.l.an (2008), Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara (2010), dan Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi (YFaWKA, 2015)".
Ketiga naskah tersebut dikatakan sebagai trilogi bukan tanpa alasan. Pertama, ketiganya menjelajahi tema yang saling berkelindan dan berkembang secara berlapis. Kedua, proses penciptaannya berangkat dari metode yang sama, sebuah cara menulis yang merayakan keragaman, yang tumbuh dari praktik teater itu sendiri.
Karya kedua, Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara (2010), menghadirkan pembacaan atas apa yang disebut sebagai “kenyataan ketiga di Indonesia”, kali ini dengan jarak yang lebih dekat dan konkret. Teater Garasi menyelami kawasan pesisir utara Jawa, sebuah wilayah yang berada di persimpangan berbagai arus budaya: Jawa Tengah (Solo dan Yogyakarta), Jawa Barat (Bandung), hingga Jakarta.
Proyek ini digarap selama enam bulan, dengan riset yang berlangsung bertepatan dengan musim panen di Indramayu, sebuah musim yang identik dengan perayaan. Masyarakat menggelar berbagai bentuk hajatan: dari hiburan rakyat, rasulan, hingga upacara ritual. Pertunjukan ini pertama kali dipentaskan di Jakarta pada Oktober 2010, lalu kembali hadir di Yogyakarta pada Maret 2011.
Sebagai bagian kedua dari trilogi, Tubuh Ketiga memperdalam eksplorasi atas serpihan kebudayaan yang berada di antara berbagai kutub: tradisi dan modernitas, desa dan kota, kolonial dan pascakolonial. Ia berbicara tentang ruang “antara” tentang yang sudah mapan sekaligus yang masih mencari bentuk.
Diskusi dapat dinikmati lebih lengkap di YouTube mataWaktu. Subscribe untuk mengetahui postingan-postingan selanjutnya.
link youtube : https://bit.ly/1Table10MindsTubuhKetiga
1 Table, 10 Minds :
(Hari 1) TrilogiLakon - Je.ja.lan
Ruang diskusi yang diinisiasi oleh aRRRah @arrrah__ bersama Teater Garasi @teatergarasi ini menghadirkan perbincangan lintas disiplin yang mengangkat tiga naskah lakon dalam buku terbitan @sokong_publish "Trilogi Lakon Penciptaan Bersama Teater Garasi: Je.ja.l.an (2008), Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara (2010), dan Yang Fana adalah Waktu. Kita Abadi (YFaWKA, 2015)".
Ketiga naskah tersebut dikatakan sebagai trilogi bukan tanpa alasan. Pertama, ketiganya menjelajahi tema yang saling berkelindan dan berkembang secara berlapis. Kedua, proses penciptaannya berangkat dari metode yang sama, sebuah cara menulis yang merayakan keragaman, yang tumbuh dari praktik teater itu sendiri.
Je.ja.lan lahir dari proyek pertunjukan Teater Garasi yang dimulai pada akhir 2007 dan pertama kali dipentaskan pada Mei 2008. Setelah sebelumnya menelusuri isu-isu abstrak dalam proyek Waktu Batu (2001–2006) : waktu, transisi, dan identitas. Kolektif Teater Garasi ingin masuk dan menelisik ihwal kenyataan-kenyataan yang tergelar dalam realitas sehari-hari dan memaparkan “teater keseharian” (theatre of everyday life) yang hidup di ruang-ruang urban.
Diskusi dapat dinikmati lebih lengkap di YouTube mataWaktu. Subscribe untuk mengetahui postingan-postingan selanjutnya.
link youtube : https://bit.ly/1Table10MindsJejalan
Setelah beberapa purnama, kegelisahan kami bersambut. 1Table10Minds terwujud di Jakarta. Sebagai langkah pertama, aRRRah bersama Teater Garasi dengan dukungan dari sahabat-sahabat, SOKONG! , mataWaktu, dan Garasi Performance Institute mengundang seniman dan praktisi seni lintasdisiplin yang berbasis di Jabodetabek dan segelintir dari Bandung untuk ngobrol “Trilogi Lakon Kenyataan Ketiga Teater Garasi” (Je.ja.l.an, Tubuh Ketiga, dan yang Fana adalah Waktu.Kita Abadi)
Sebagai awalan, kami baru bisa bergerak dalam jumlah terbatas, di waktu yang terbatas pula. Semoga berikutnya, 1Table10minds bisa ada lagi dan lebih banyak yang bisa terlibat. Tapi jangan khawatir, kami sedang menyiapkan dokumentasi dari kegiatan ini.
Terima kasih istimewa kepada seluruh pembahas yang dengan sungguh-sungguh membaca, menonton dan membagikan buah pikirannya serta kepada Maria Pankratia, Kurnia Yaumil Fajar dari Sokong! , tim mataWaktu yang baik hati—Ocha, Mas Gun, Pak Winu, Anggi, Panda, dan Bang Oscar Motuloh serta tentu saja, teman-teman Garasi Performance Institute.
Nantikan lanjutan cerita dari para pembahas 1Table10Minds: Trilogi Lakon Kenyataan Ketiga Teater Garasi.
To all friends,
New and old
here and miles away
Who shared laugh love sweat sad
Either we crossed paths
Or building one,
The chaotic world we live in
And to survive together with you
was a tremendous experience.
Thank you! Congratulations!
Crafting the space where “Tell The Untold” could unfold.
It’s aRRRah with Rebecca Kezia, Aik Vela, Chriskevin Adefrid, and Muhammad Abe — the team behind this edition of Yogyakarta lab.
Following earlier facilitation in Jakarta last August, aRRRah aimed to open a wider space for experimentation — one that brings together diverse perspectives and reveals many possible directions in which documentary theatre can continue to emerge.
Appreciation also goes to the translators, note-taker, assistants, and everyone working behind the scenes who made the workshop run smoothly.
➡️ Scroll through to meet the team
#TellTheUntold #DocumentaryTheater
What remains when the lab ends? A fresh note! 📝
@titahaw —journalist and activist— witnessed the full journey of Tell the Untold: from unfamiliar grounds to shared wounds and hope. This writing marks an ending, and an opening — inviting those who weren’t present to enter the questions, possibilities, and ways of thinking that emerged.
Here, reality is performed once more.
#TellTheUntold #DocumentaryTheater
A powerful closing to a week of intense discovery 🎞️🎭
From interactive games to communal feasts, these explorations of memory, trans-human relations, and collective empathy blurred the line between observer and observed. In just five days, the research transformed into lived experiences: archives were projected, soundscapes walked through, fabrics sewn, and meals shared. The audience became part of the dramaturgy itself — invited to play, stitch, discuss, and dine together.
Watch the highlights from the final lab presentation.
#TellTheUntold #DocumentaryTheater
The studio became a crucial space in the workshop: a place where experimentation and showcases converged.
Across the studio days, each group spent time decoding one another’s artistic languages and questioning their own interpretations of space: non-physical memory, mystical immaterial realms, future imaginaries where humans stand alongside objects and other beings, and the fluid connections between the spaces inside and outside the body.
As the days progressed, all participants continued learning from one another — sensing each other’s practices across different national contexts — before shaping performance presentations based on their field findings, individual skills, and diverse artistic tendencies.
Step into the studio process and see how the works took shape from within.
#TellTheUntold #DocumentaryTheater