Juli
Bulan kelahiran ibuku, bulan kelahiranku.
Bulan yang kami syukuri kehadirannya dan selalu kami sambut dengan bahagia. Sungguh, kami berbahagia. Pada 25 Juli 30 tahun yang lalu, beliau berjuang melahirkanku ke dunia. Seperti bayi baru lahir lainnya, aku menangisi kelahiranku. Namun, ibuku berbahagia atas kehadiranku.
Selain Tuhan, ibuku juga pandai menyimpan rahasia, menyimpan kesedihan, juga pilu yang mendalam, termasuk rasa sakitnya. Kuat sekali ya kau ibu?
25 Juli 2023 saat ulang tahunku, aku dikabari ibuku sakit di rumah sakit Wonosobo. Sedangkan aku di Jakarta. 26 pagi aku pulang. Aku harus segera pulang. Berjumpa dengan ibuku. Aku dijemput di stasiun Purwokerto oleh saudaraku. Tempat terakhirku bersama ibuku saat beliau dan adiku mengantarkanku ke Jakarta.
Seperti mimpi, 26 Juli 2023 ibuku menghembuskan nafas terakhirnya. Lagi-lagi aku menangisi diriku sendiri. Tetapi ibuku tersenyum dengan damai. Cantik sekali ππΉ.
Malam itu, kepulanganmu disambut ribuan bintang berkilauan. Juga orang-orang yang begitu mencintaimu. Sungguh aku bersaksi malammu begitu indah β¨π.
Kini, bulan Juli-ku tak lagi sama ππ₯. Tetapi aku akan tetap merayakan hari sakral kami berdua. Hari yang ditetapkan Tuhan untukku agar selalu ingat, bahwa ada Dzat yang paling agung yang begitu menyayangi kami berdua. Meski di dunia yang berbeda, kami akan selalu berbahagia, karena CINTA adalah intinya dan dunia hanya kulitnya.
Selesai sudah tugas muliamu di dunia. Sekarang, giliranku berjuang menembus batas-batas gelapnya kehidupan menuju terang yang dijanjikan Tuhan.
Sungguh, ditinggal karena kematian adalah luka batin yang belum ditemukan penawarnya. Tak apa, sekali lagi CINTA adalah intinya πΉπ. Berbahagialah ibuβ¦
Alfatihah π€².