Mental seperti dora, berkawan layaknya gajah, memori bergiga-giga. Semoga sampai tua dan selamanya.
(memantrai dan mengutuk diri sendiri serta kawanan + keturunannya hehehe 🪄)
Kalian sedang ada di fase ini atau tidak: Hari-hari dipenuhi dengan kabar teman-teman yang menikah.
Masing-masing dari kita mulai punya pengalaman ketika ngajak main temen yang biasanya bisa, tapi sekarang jadi gak bisa karena gak dapet izin suaminya/lagi hamil/anaknya lagi gabisa dititip dll.
Rasanya seperti ada yang bolong ya, kehilangan.
Tapi memaklumi, dan ada rasa bahagia yang lain untuk mereka karena sadar hidup terus berjalan dengan rodanya sendiri-sendiri.
Kata warga instagram, kalau umur 27 tahun ke atas belum menikah isi insta stories-nya pasti kalau gak lagi jalan-jalan ya hidup sehat, olahraga, naik gunung.
Berkaca, bener lagi.
Bersyukur, masih punya temen-temen deket rumah yang bisa diajak olahraga, main-main ke hutan, gunung, dan makan bakso.
Membentuk kawanan baru, kisah-kisah seru.
Mereka ini teman SMA, tidak melulu sekelas.
Tapi ternyata ketika dewasa dan berada di fase yang sama, semuanya terasa pas.
Saat mengantarkan ibu bertemu dengan teman-teman masa kos-nya di sebuah pantai Jawa Tengah, saya melihat seorang bapak yang mengenalkan anaknya kepada laut.
Pada awalnya anaknya digendong di pinggang, lama kelamaan diturunkan dan perlahan diajarkan untuk belajar mengejar ombak.
Anak itu mulai berani mengejar, saat mulai jauh, ia berbalik untuk berlari kembali ke pelukan bapaknya yang siap menjaganya di belakang. Persis seperti ombak kecil yang berani maju mengejar daratan lalu pada akhirnya tetap kembali kepada ibu laut mereka.
Semoga seberani apapun kita pada dunia, masing-masing dari kita tetap mempunyai tempat pulang untuk mengadu dan berlindung.
Di antara bermacam misteri yang hadir di atas panggung sebuah pertunjukan, wajah-wajah penonton adalah salah satunya.
Kalau dari posisi kita sebagai pemain, kalian itu gelap, hitam.
Kami gak tau siapa saja yang nonton, gak tau orang-orang yang kami kenal dan harapkan duduk di mana, pakai baju apa, terhibur atau tidak, bangga atau tidak dan berbagai macam misteri di kepala tentang sosok-sosok yang lagi nontonin kami saat itu.
Kami cuma bisa dengar suara gemuruh manusia.
Biasanya saat gong pertama dan kedua terdengar sebagai tanda mulai masuk ke gedung pertunjukan, banyak suara ngobrol. Kemudian saat mulai dibukanya acara kalian ikut bernyanyi lagu Indonesia Raya.
Selanjutnya, saat layar terangkat, mulai terdengar suara gemuruh tepuk tangan yang sangat jelas, menembus wing kiri dan kanan sampai ke backstage yang membuat jantung kami mau loncat sampai mual. Membuat kami berpegangan tangan, saling menguatkan untuk mampu masuk ke panggung dan menghidupkan pertunjukan.
Kemudian saat cerita berjalan, mulai terdengar riuh ketawa, teriakan, saut-sautan, lalu tiba-tiba bisa saja lengang seperti ditonton hantu, kemudian gemuruh tawa lagi, hening lagi, dan tiba saatnya cerita selesai, suara tepuk tangan lagi yang lebih meriah. Beberapa nama pemain juga sembari diteriaki oleh kalian yang kenal kami.
Walaupun kami gak tau rupa kalian, tapi rasa yang dibawa ke dalam gedung pertunjukan untuk menonton kami saat itu, bisa kami rasakan melalui semua respon yang terdengar.Hal itu membuat senang dan merasa usaha kami tidak sia-sia.
Terima kasih, sudah menjadi berbagai suara gemuruh dan mengisi bangku-bangku di pertunjukan ini.
Kenal sama Anis @aniskala_ udah 9 tahun, berawal dari satu kampus, ternyata jadi nerus. Sejauh ini saya bersedia bikin cerita bareng dia lama-lama. Selain nginep di rumahnya melulu waktu kuliah, sekarang salah satunya itu adalah melakukan perjalanan ke Sukabumi untuk beberapa hari.
Keputusan yang cukup 'gila lu ndro' adalah kami setuju bawa motor dari Stasiun Sukabumi untuk ke berbagai tempat yang kami mau explore nanti. Modal Google Maps, katanya kira-kira membutuhkan tiga sampai empat jam untuk menuju titik explore. Tentunya setiap pantat mulai kebas dan fokus mulai kabur, kami pakai rumus "ganti-gantian".
Sadar bahwa kami hanya berdua, banyak ketakutan yang tumbuh di kepala kami tentang kemungkinan-kemungkinan 'apes' yang terjadi di jalan.
Namun ternyata kemarin, kalau 'apes' itu sedang terjadi pada kami, pasti rasanya seperti dimudahkan.
Setelah pulang dan mempelajarinya, saya mengambil kesimpulan. Sepertinya gara-gara 5 S: sholat, senyum, salam, sapa, susah & senang sama-sama.
Ternyata ketika kita baik kepada Tuhan, sesama manusia dan diri sendiri, semua ketakutan yang ada di kepala, bahkan jika itu memang terjadi, semua akan terasa lebih mudah ketika dijalani.
Di perjalanan ini, kami selalu merasa dilindungi dan dipertemukan dengan orang baik. Semoga di perjalanan-perjalan berikutnya terus begitu.
Doa kami, semoga formasi trio konco kwentel terjadi di perjalanan berikutnya. Nanti kita coba yang lebih jauh ya @aniskala_@kartinisartika