Mau marah takut pahala berkurang, mau diam tapi bikin tensi memuncak. Definisi kesabaran yang sedang diuji secara ugal-ugalan. Tag teman kalian yang sumbunya paling pendek kalau lagi puasa, suruh dia banyak istigfar dari sekarang.
#GodaanPuasa #MemeRamadan #Kocak #CuplikanFilm #Puasa
"Jaman edan," kata Kang Paijo tiba tiba. Aku yang sedang nyruput kopi hampir tersedak karenanya. "Banyak orang edan yang menuduh orang lain edan," Kang Paijo melanjutkan. "Kok Kang Paijo tahu kalau yang nuduh orang lain edan itu orang edan?" sanggahku. "Ya orang edan kan nggak tahu kalau dirinya edan". Nada suara Kang Paijo meninggi. Wah, jangan jangan Kang Paijo sedang kumat edannya, pikirku, dia malah ikut ikutan nuduh orang lain edan. Aku jadi waspada. Untuk meredakan ketegangan, kuambil sepotong tempe goreng yang masih hangat. Sebelum kumasukkan ke mulut, tempe itu lebih dulu kupotong jadi dua. Potongan tempe yang berada di tangan kanan kumasukkan lebih dulu ke dalam mulut, lalu potongan yang di tangan kiri kuambil memakai tangan kanan, dan selanjutnya menunggu gilirannya untuk kumasukkan ke mulut. Orang dengan gangguan edan seringkali dipandang rendah. Padahal bapak dan ibu guru di sekolah mengajarkan tentang kesetaraan, yang berbeda bukan berarti lebih tinggi atau lebih rendah. Masing masing makhluk punya peran berbeda, dan tidak ada yang lebih buruk di antara mereka. Terdengar suara air mendidih dari dalam ceret, membuatku ingin nambah kopi lagi. "Kang, ini kan jaman edan, kalau nggak ikutan edan malah nggak normal dong". Hati hati aku mencoba memulai pembicaraan lagi. "Kenapa begitu?" Mata Kang Paijo melebar. "Ya berarti dia nggak adaptif terhadap perkembangan jaman". Ucapku selembut mungkin. "Jadi kamu mau ikut ikutan edan?" Kedua lubang hidung Kang Paijo ikutan melebar. "Kang, di jaman edan ini, hanya orang edan yang nggak ikut ikutan edan." Ucapku sambil memasukkan potongan tempe kedua ke dalam mulut. Aku menunggu balasan dari Kang Paijo, tapi tidak segera terdengar suara dari mulutnya, hanya kulihat mulut Kang Paijo melebar, memperlihatkan seringai yang aneh.
Kesehatan itu mahal, lebih mahal dari makanan yang paling mahal. Ketika gigi sedang sakit, makanan semahal apapun terasa tidak nikmat lagi. Menjaga kesehatan itu penting. Bukan karena takut mati. Kematian sudah pasti akan datang, tapi mati dalam keadaan sehat tentu lebih menyenangkan daripada mati dalam keadaan sakit gigi. Itulah kenapa akhir akhir ini saya jadi lebih sering menyikat gigi. Belum lama ini saya menjenguk teman lama yang sedang sakit, sebut saja namanya Bunga. Bunga berulang kali jatuh saat berjalan, lalu seorang tetangga yang baik membawanya ke Rumah Sakit. Tubuhnya terlihat kering, padahal dulunya tegap berisi, dengan kumis dan brewok yang tercukur rapi, yang menambah ke-macho-an dirinya. Kini kumis dan brewok itu tampak tidak terawat, menjalar liar memenuhi wajahnya. "Kurang gizi", kata Bu Dokter, saat saya menanyakan penyakit teman saya itu. "Makannya tidak teratur dan kekurangan nutrisi", tambah Bu Dokter dengan muka prihatin. Setelah Bu Dokter pergi, kamipun ngobrol. Singkat cerita, rupanya Bunga merasa sakit hati pada dunia, dia merasa dunia telah memperlakukannya secara tidak adil. Bungapun mogok makan sebagai bentuk protes, berharap dunia jadi peduli pada dirinya. Sakit gigi dan sakit hati. Kalau menjaga kesehatan gigi caranya dengan sikat gigi, bagaimana cara menjaga kesehatan hati? Saya tidak punya semangat untuk memberi nasihat pada Bunga. Dia tampak seperti orang yang tidak butuh nasihat. Saya hanya berharap, waktu akan segera menyembuhkan hatinya. Sejenak saya alihkan pandangan ke tetes demi tetes cairan yang jatuh dari kantong infus. Kenapa hanya setetes demi setetes? Kenapa tidak dituangkan saja ke dalam gelas, lalu diminumkan agar cepat habis? Mungkin biar irit, pikirku. Atau jangan jangan Bu Dokter punya rencana lain buat teman saya Bunga. Ah, kelak kalau sempat, mungkin di lain hari, akan saya tanyakan pada Bu Dokter tadi.
Lebaran tahun ini Kang Paijo tidak mudik, sama seperti tahun tahun sebelumnya. Kang Paijo memang tidak pernah mudik, bukan karena tidak ingin mudik, tapi karena dia tidak bisa mudik.
Kang Paijo tinggal di kampung tempat di mana dulu dia juga dilahirkan. Banyak dari penghuni kampung itu yang masih terhitung kerabat dekatnya. Kakek moyang Kang Paijo adalah salah satu dari orang orang yang pertama kali membuka hutan, di tempat yang sekarang menjadi kampung tersebut.
Kang Paijo juga tidak pernah merantau. Dia memilih untuk menggarap ladang pertanian milik Budhenya. Tempat terjauh yang pernah dia kunjungi adalah kota Jogjakarta, Kraton Jogja tepatnya. "Sebagai wong Jogja, ndak elok kalau belum pernah sowan ke rumah rajanya." Begitulah dia beralasan.
"Halamannya luas sekali." Kang Paijo melanjutkan ceritanya. "Saking luasnya, sampai sampai yang ditanam itu pohon beringin. Dua buah, di tengah tengah."
Kang Paijo tidak pernah cerita, apakah dia bertemu langsung dengan rajanya. Dan aku tidak ingin bertanya. Jika hanya dengan berkunjung ke rumahnya saja telah membuatnya bahagia, sepertinya itu sudah cukup. Aku tidak ingin merusak kebahagiaannya, kebanggaannya.
"Kapan kamu akan mudik?" tanya Kang Paijo, berharap aku yang gantian cerita.
"Aku sudah mudik Kang," jawabku, "Tiap hari."
#Mudik
#Lebaran
#KangPaijo
#KratonJogja
#Kraton #Jogja
#MaafLahirdanBatin
Sore begitu tenang, saat Iwan Fals mulai memetik senar gitarnya dan bernyanyi, "Perang perang lagi semakin menjadi. Berita ini hari berita jerit pengungsi ... "
Lagunya enak didengar, liriknya juga bagus. Bercerita tentang derita para pengungsi yang kehilangan segala-galanya, bahkan harapannya. Aku berharap suatu hari nanti dia akan meraih sukses dan menjadi musikus terkenal di Indonesia.
Aku dan Kang Paijo sedang nongkrong di angkringan Kang Omat, letaknya di pinggir Selokan Mataram dengan pemandangan berupa hamparan sawah di sisi yang lain.
"Bumi itu luasnya nggak nambah." Tiba tiba Kang Paijo bersuara, "Sementara jumlah manusia teruus bertambah."
"Itulah kenapa minyak goreng bisa langka, dan minyak bumi makin habis ya Kang?" aku mencoba menambahi.
"Yap, ujung ujungnya perang. Berebut minyak, berebut pengaruh, berebut wilayah." Iwan Fals ikutan menambahi.
Tak ada yang didapat dari perang selain kehilangan. Perang Dunia II telah menghilangkan lebih dari 60 juta nyawa manusia. Atau jangan jangan, memang itulah tujuan sesungguhnya dari perang?
"Semoga perangnya tidak sampai kesini." kata Kang Omat lirih. "Kalau banyak pelangganku yang mati, siapa yang akan datang ke angkringan ini?"
Iya Kang, semoga.
#Perang
#KangPaijo
#Sore
#Angkringan
Demi mencari rejeki, sudah berbagai jenis pekerjaan yang pernah saya coba;
dari kurir ganja, pemain teater, hingga tukang becak. Apapun jenis pekerjaannya, semua rejeki itu halal, asal didapatkan dengan cara baik baik, dan digunakan untuk hal hal yang baik. Didapatkan dengan cara yang baik, tapi digunakan untuk hal hal yang nggak baik, ya jatuhnya akan jadi haram juga.
Dengan bayaran 100 ribu perbulan, tiap pagi saya jemput dan antar keempat anak ini pakai becak ke sekolah. Lalu siangnya, saya jemput dan antar mereka kembali ke rumah. Saya senang, karena paling tidak ada dua keuntungan yang saya dapatkan: bisa olahraga tiap hari, sekaligus mendapatkan gaji bulanan.
Dulu, waktu pertama kali disewa, pernah muncul pertanyaan di dalam benak saya; kenapa anak anak ini tidak diantar ke sekolah oleh orangtua mereka sendiri? Apakah orangtua mereka tidak punya waktu? Atau adakah sebab yang lain? Saya penasaran. Tapi setelah puluhan tahun, setelah puluhan kali disewa oleh sekian puluh orangtua, saya akhirnya dapat melihat adanya kesamaan di antara para orangtua ini. Ternyata tidak ada satupun dari mereka yang memiliki becak. Jadi kuat dugaan saya, saya disewa karena mereka memang tidak memiliki becak.
Saya masih ingat pelanggan pertama saya; dua anak bernama Anton dan Fifi, mereka kakak beradik, rumahnya sebelah utara Hotel Ambarukmo, sekolahnya di SD Kanisius Demangan Baru. Saat itu jalanan masih sepi. Andong dan gerobak sapi masih melewati Jalan Gejayan. Keduanya anak yang pendiam dan sopan, yang kalau bicara ke saya selalu menggunakan bahasa kromo inggil. Tentu sekarang keduanya sudah jadi orang yang sukses dan kaya, sudah mampu membeli becaknya sendiri. Dua, atau bahkan empat buah becak terparkir rapi di garasi rumah mereka yang luas dan megah.
Pada suatu hari nanti, otot otot kaki ini tak lagi mampu mengayuh pedal becak. Jaman berganti, generasi yang lebih muda dan kuat akan menggantikan para tukang becak yang sudah tua. Saat hari itu tiba, saya masih akan mengayuh becak saya. Mengayuhnya dengan pelan, menyusuri jalan jalan ramai yang dahulu pernah sepi. Tidak untuk mencari penumpang, tapi hanya sekedar mengenang masa masa yang telah pergi.
Insting bertahan hidup di tengah pandemi, telah membuat saya jadi Bajak Laut yang jauh dari lautan.
Orang bilang, Bajak Laut itu kejamnya melebihi pembunuhan, tapi biarlah, yang penting dijalani dengan ikhlas.
#BajakLaut
#Pirate
#Kejam
#Sadis
#Keji
#Biadab
#Cruel
#Savage
#SerialKiller
#JapaneseOccupation
#Rangga
Disebabkan oleh pandemi dan susahnya cari duit, saya jadi maling.
Kata orang maling itu jahat, tapi nggak papa, yang penting niatnya baik.
#Maling
#Pencuri
#Kriminal
#Penjahat
#Jahat
#KamuJahat
Kang Paijo
Kang Paijo lagi sedih. Salah satu kerabat dekatnya, Budhe Ruby, meninggal dunia karena korona. Rubinem Kusumowati meninggal pada usia 74 tahun, 11 bulan, 29 hari.
Budhe Ruby tidak punya anak, sementara Kang Paijo 12 bersaudara. Pada saat berusia 3,5 tahun, Kang Paijo dipungut dan dirawat oleh Budhe Ruby, yang kemudian memperlakukan Kang Paijo layaknya anaknya saudara perempuannya sendiri.
Sejak Kang Paijo masih kecil hingga dewasa, Budhe Ruby tak pernah sekalipun meminta Kang Paijo untuk memanggilnya "Ibu", mungkin itu adalah cara Budhe Ruby menjaga ingatan Kang Paijo agar dia tidak lupa pada ibu kandungnya sendiri.
"Virus korona itu kecil kan ya?" tanya Kang Paijo sehabis nyruput teh angetnya. Kami berdua baru saja pulang dari pemakaman Budhe Ruby dan sudah berada di teras rumahnya.
"Kecil banget Kang. Nggak kelihatan. Harus pakai termometer biar kelihatan", jawabku.
"Hmm ... dia tahu betul cara memanfaatkan kondisi fisiknya yang kecil." lanjut Kang Paijo, terdengar hampir seperti pujian.
"Messi juga kecil Kang." Aku mencoba menanggapi.
"Tapi beda." Suara Kang Paijo agak meninggi. "Keduanya memang kecil dan berbahaya, tapi Messi tidak membunuh orang."
"Iya Kang." Aku mengangguk cepat. Aku baru ingat, Kang Paijo adalah penggemar berat Messi dan Barcelona. Padahal aku cuma berusaha mengalihkan pikiran dia dari masalah korona dan Budhe Rubynya.
Kesedihan memang tidak bisa disangkal. Berusaha melupakan justru membuat kita mengingat. Biarkan ia tinggal, atau pergi dari ingatan, atas kemauannya sendiri.
Pada saat perjalanan pulang dari rumah Kang Paijo, tiba tiba aku teringat; alat yang dipakai untuk melihat virus namanya bukan termometer, tapi mikroskop. Ah, semoga saja Kang Paijo tidak tahu mengenai hal ini, sampai aku punya kesempatan untuk berkunjung lagi ke rumahnya.
#CerPen
#CeritaPendek
#KangPaijo
#Corona
#Covid19
Kang Paijo
Kang Paijo berencana ternak beruang. Sore yang sunyi. Angin berhembus hati hati, seakan takut mengusik ketenangan hari. Di teras rumahnya, kami berdua duduk menikmati hangatnya kopi dan cahaya matahari yang sebentar lagi beranjak pergi.
"Buat apa Kang?" tanyaku.
"Buat diperah susunya, buat ngobatin orang orang yang terkena korona" jawab Kang Paijo.
Kang Paijo memang baik orangnya. Hatinya mudah tersentuh oleh penderitaan orang orang. Sebagai petani, Kang Paijo bukanlah petani yang kaya. Ladangnya yang tak seberapa luas, ia tanami dengan singkong. Beberapa ekor kambing, ia piara di kandang di samping rumahnya.
Idul Adha tahun ini, ia berharap bisa menjual beberapa ekor kambingnya dengan harga yang layak. Sudah semingguan ini ia bolak balik ke pasar hewan, tapi sesampainya di sana, ia selalu dihadapkan pada dua pilihan, kambingnya terjual dengan harga murah, atau ia membawa kembali kambingnya ke rumah. Dan pagi tadi, akhirnya ia memutuskan, ia jual kambing kambingnya. Semuanya.
"Cari anakan beruang yang murah di mana ya?" tanya Kang Paijo membuyarkan narasiku.
"Oh, sebentar Kang." Segera kuambil hp-ku, di halaman google search kuketik kata kata "anakan beruang".
17072021
#CerPen
#CeritaPendek
#IdulAdha
#Kambing
#Beruang
#KangPaijo
#Corona
#Covid19
Cerita Simbah
Simbah memulai ceritanya, "Pada jaman dahulu kala, ada sebuah tempat yang bernama Surga. Di Surga tidak ada kesedihan, tidak ada ketakutan, yang ada hanyalah kebahagiaan. Untuk bisa masuk ke sana, kamu haruslah orang yang baik, dan harus mati terlebih dahulu.
Lalu terjadilah; orang orang yang merasa dirinya baik, ramai ramai mencari mati. Kejadian ini membuat Surga menjadi resah, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghilang."
"Duh, trus gimana nasib orang baik yang mati Mbah?", tanya si Cucu.
Simbah melanjutkan, "Nah, ternyata Surga tidak benar benar hilang. Tanpa sepengetahuan orang orang, diam diam Surga berpindah tempat." Simbah tiba tiba terdiam, entah apa maksudnya.
"Pindah ke mana Mbah?", tanya Cucu.
Simbah melanjutkan, "Surga pindah ke Bumi.
Jadi, kalau kamu benar benar orang yang baik, kamu tak harus mati."
#Cerita
#Simbah
#CeritaSimbah
#CerMbah