Perjalanan ini membawa saya melintasi empat pulau yang terasa seperti satu tubuh yang bernafas: asin, lembap, dan penuh denyut manusia. Di Tasipi, angin perbatasan membawa suara mesin perahu yang gelisah, rumah-rumah nelayan bergetar oleh tahun-tahun penangkapan, namun di wajah mereka masih tersisa keinginan pulang dengan selamat. Di Pulo Semuang, udara berubah lebih sejuk: akar-akar bakau ratusan hektar memeluk tanah dan menyaring air hingga menjadi bening, harum tanah basah yang membuat saya merasa pulau ini sedang merawat siapa pun yang datang. Lalu Bungin menyambut dengan sunyi yang lebih berat: seorang nelayan berjalan perlahan, langkahnya terseret tetapi matanya tetap jernih. Ia bercerita tentang kakinya yang hilang digigit buaya, bukan dengan amarah, melainkan dengan suara yang lembut seperti ombak kecil di bawah rumahnya. Dan di Saponda Laut, pulau singgah tanpa penghuni, saya mencium aroma kayu lembab dari rumah-rumah sementara, lampu-lampu nelayan memantul di air jernih sebelum hilang ditelan malam. Empat pulau, empat rasa yang berbeda, tapi semuanya menyatu menjadi satu pengalaman yang membuat saya kembali mengerti betapa tubuh manusia dan tubuh laut selalu saling membaca, saling menjaga, dan saling melukai dengan cara yang kadang sulit dijelaskan.
#tasipi #semuang #bungin #saponda #fishingaustralia #australia #elnicalmultimedia #adhyrical
Re-post: @elnicalmultimedia
Jejak Pejalan | dari Rimba Tangkeno hingga Laut Wakatobi | Part 1
Kumpulan video pendek ini berasal dari berbagai tempat di Sulawesi Tenggara. Semua video diambil dari hp, go pro, dan drone yang sudah tidak terpakai dalam proyek video sebelumnya. Kalau mata anda tidak terbiasa dengan warna gado-gado, skip aja. Maklum, berbagai tipe hp dan segala macam hal teknis yang tidak diinginkan justru bergabung begitu saja.
Jabat erat hati
Video Lengkap cek di sini:
Fanpage: /mediaelnical/videos/445987777346489
Youtube: /watch?v=2Lfg-uhC3g0
Sumber video:
Adhy Rical
Ikhy Lamadjiara
Laode Septer
David
Amrin
Video drone:
Stev Dj
Irwan Leo
Amrin
Lokasi:
Pulau Hoga, Wakatobi
Sombu Wanci, Wakatobi
Pantai Lagunci, Sampolawa
Desa Bahari III, Sampolawa
Bukit Tengkorak Wansamolemo, Sampolawa
Tangkeno, Kabaena
Desa Sampela, Wakatobi
Goa Liangkabori, Muna
Goa Kaghati Kolope, Muna
Air Terjun Tondopano, Kabaena
Terima kasih kepada:
1. Aquaman of Sampela, La Uda sekeluarga
2. Kades & warga Bahari III, Sampolawa, Busel
3. Kades dan warga Liangkabori, Muna
4. Forum Wakabibika Sombu, Wakatobi
5. Komunitas DCDC Selam Wakatobi
6. Velta Sari
7. Rama, Wakatobi
8. Sahrul (Pendamping desa Tangkeno), Kabaena
9.Amiruddin Ena Amir, Fantastik Buton
10. Pak Sari, Wakatobi
11. Waode Mardiana
12. Ma'ruf Ode
#wakatobi #tangkeno #liangkabori #liangkaboricave #tangkeno #kabaena #kabaenaisland #bentengtuntuntari #kaghatikolope #wakatobiisland #wakatobitrip #wakatobitravellers #pulauhoga #pulauhogawakatobi #sampelawakatobi
#samabahariwakatobi
#desabahaributonselatan #pantailagunci #ratuampat #ratuampatbahari #ratuampatisland #sampolawa #sampolawabusel #pulaumuna #deswita #deswitasultra
#desawisata #desawisatasultra #anugerahdesawisataindonesia #jelajahsultra
La Uda Penyelam Tradisional Profesional dari Wakatobi
Kami menyebutnya: Aquaman dari Sampela
Banyak penyelam dunia mengenal beliau. Banyak hal keren yang tak bisa diungkap lewat ilmu pengetahuan, misalnya bagaimana ia berjalan di dasar laut dengan kedalaman 30 meter, bagaimana ia mengatur pernapasan yang sangat luar biasa. Semua itu dilakukan tanpa alat bantu selam.
Sehat terus pak La Uda, kami mencintaimu. Bersama Ikhy Lamadjiara.
#ceritakanwakatobi #wakatobi #kaledupa #hoga #lauda #bajo #adhyrical #elnicalmultimedia
Saya belajar dari burung-burung yang membuat sarang di dinding rumah, dan dari umbi hutan yang hanya diambil setelah waktu mengizinkan. Di sini, pengetahuan tidak diajarkan dengan suara keras; ia tinggal dalam diam, dalam urutan kerja, dan dalam cara manusia menempatkan dirinya tidak lebih tinggi dari hutan.
#hukaea #laea #rawaaopa #adhyrical #elnicalmultimedia
Mesapero adalah teknik yang lahir dari pengalaman panjang: membaca kedalaman air dari warna dan riak, mendorong perahu dengan kandai panjang untuk menjaga keseimbangan tanpa mengaduk rawa, memilih jalur di sela vegetasi agar tumbuhan air tetap terjaga, serta menyesuaikan tempo gerak dengan arah angin dan arus. Setiap tusukan kandai adalah perhitungan agar perahu tetap stabil, sunyi, dan selaras dengan alam; sebuah pengetahuan tubuh yang diwariskan, bukan diajarkan lewat kata, melainkan lewat praktik sehari-hari.
#rawaaopa #aopa #adhyrical
Di rawa gambut Aopa, kami tidak sedang mencari harta karun. Kami hanya memastikan La Bongo belum bangun tidur. Airnya hitam tapi bening, burungnya ramai tapi sopan, buayanya tua dan malas, dan manusia di perahu ini sok serius pakai teropong padahal yang dicari cuma tanda-tanda kecil: burung berdiri terlalu lama, daun pandan bergerak sendiri, atau sunyi yang kebablasan. Di sini, rawa bekerja pelan, waktu tidak tergesa, dan yang paling waspada justru manusia sementara La Bongo mengapung santai seperti kayu arang tua yang sudah hafal semua rahasia.
#rawaaopa #gambut #aopa #adhyrical
Video ini merekam proses di balik pencarian minsa (cacing laut) antara orangtua dan remaja di Lakudo: dua cara membaca pasir, dua ritme tubuh, satu ruang yang sama. Orangtua menunggu dengan telapak tangan, remaja bergerak dengan kaki dan mata, keduanya bertemu dalam kesabaran dan kegagalan yang wajar. Di sela kerja itu, kami menyertakan pekande-kandea, ritual makan bersama ala Buton, sebagai penanda bahwa pengetahuan tidak berdiri sendiri. Ia selalu kembali ke meja, ke tubuh-tubuh yang duduk melingkar setelah laut dan pasir memberi jawabannya.
#lakudo #buteng #pekandekandea #etnografi #adhyrical
Lantai ini pernah hidup.
Kerang-kerang mati diratakan waktu, menjadi pijakan rumah panggung yang tak pernah sepenuhnya lepas dari laut. Di bawah langkah kaki, asin menetap sebagai ingatan: sisa pasang, sisa makan, sisa napas yang kini menahan beban hidup sehari-hari.
#lakudo #gu #buteng #adhyrical
Jejak Sunyi dari Panggung
Rekaman kecil dari berbagai suara, gerak, dan cahaya bertemu dalam satu ruang yang sama. Sebuah pertunjukan yang tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga menyimpan getar yang pelan, hening yang menempel, dan momen-momen sederhana yang berubah menjadi ingatan. Ini adalah fragmen-fragmen yang tertinggal setelah lampu dipadamkan, ketika panggung berhenti bersuara tetapi meninggalkan jejaknya di dalam diri para penonton.
@danilhdyt_
#senipertunjukan #laskarsastra #adhyrical
Malam ini bukan hanya tentang sebuah puisi, tapi tentang perjalanan panjang kata-kata yang menemukan tubuhnya kembali di panggung. Setelah bertahun-tahun hanya menyimak lewat rekaman, akhirnya aku berdiri bersama lima orang yang telah memberi napas baru pada “Lelaki Air”.
Yang lucu, aku sama sekali tidak merencanakan pakaian malam ini. Tapi entah bagaimana, saat kami berdiri berdampingan, warnaku menyatu dengan mereka: putih dan hitam, seperti diam dan bunyi yang saling mengimbangi dalam sebuah pertunjukan. Seperti aku ikut larut dalam formasi mereka tanpa sadar.
Mereka inilah yang mengubah baris-baris sunyi menjadi gelombang, mengubah jeda menjadi ruang dengar, dan membawa puisi yang dulu kutulis dalam kesendirian menjadi sesuatu yang bisa dirayakan bersama.
Di balik panggung yang sederhana, kami berbagi tawa, degup, dan haru. Ada rasa terima kasih yang sulit dijelaskan: karena karya kecil ini dijaga, dihidupkan ulang, dan dibawa lebih jauh daripada yang pernah kubayangkan.
Terima kasih, @laskarsastra.uho
Pertunjukan musikalisasi puisi “Lelaki Air” malam itu terasa seperti pulang ke tubuh puisi sendiri. Setelah beberapa tahun hanya menyimak lewat rekaman, kali ini aku duduk di antara penonton: di bawah cahaya panggung yang lembut, di tengah gema instrumen yang bergerak pelan dan melihat bagaimana kata-kataku dirawat dengan penuh kesabaran: diulang, dibaca ulang, dan diberi napas baru oleh Laskar Sastra.
Sudah tiga kali puisi ini mereka bawakan, dengan komposisi musik yang terus berubah, semakin teduh, semakin matang, seolah setiap pertunjukan membuka lorong baru ke dalam makna yang tak pernah selesai. Aku mendengar “lelaki air itu perahu” kembali mengalir, tapi malam ini ia datang dengan kedalaman yang berbeda, lebih hening, lebih menembus, lebih dekat pada asal mula puisi itu ketika kutulis bertahun-tahun lalu.
Ada rasa haru yang pelan-pelan memenuhi dada: rasa terima kasih karena kata-kata kecil ini dipercaya, diangkat, dan dirayakan; rasa bangga melihat bagaimana karya tumbuh di tangan orang lain; dan rasa syukur karena akhirnya menyaksikan sendiri, bukan hanya melalui layar, bagaimana puisi ini menemukan bentuk-bentuk barunya.
Pertunjukan ini mengingatkanku bahwa puisi yang diulang tidak pernah sama. Ia selalu menemukan cara baru untuk hidup kembali, kadang lebih besar dari yang pernah kubayangkan saat menulisnya.
---
Arr: Nardin Effendi Ace, Laskar Sastra UHO
Lelaki Air
Adhy Rical
Lelaki Air
lelaki air itu perahu
bergerak cepat menuju hulu
sebuah lorong air tenang
ada pisau dapur dan sajak tetua
yang disimpan semalaman
lelaki air itu perahu
bergerak cepat masuk tanah
sebuah kayu gelondongan sekadarnya
ada pisau dapur dan gigi buaya
yang ditanam
di sebelah makam ibunya
#musikalisasipuisi #laskarsastra #puisi #adhyrical