Malam pukul 00.22 waktu Papua, saya menerima pesan dari Riana
@rianamgnd , sahabat dari SMP. Sebuah foto artikel di majalah Tempo yang memuat wajah saya. Terkaget2 karena cerita dan foto saya ditampilkan di bagian depan artikel. Kata Riana, keluarga di rumahnya ikutan heboh melihat artikel tersebut. Terima kasih kak Aisha
@aishdr yang sudah menulis kisahku dengan apik, dan terima kasih juga kepada Kak Wilda & Nurul dari
@hutankecilnya.bukanmain karena niat pergi ke Museum Nasional saat hari pangan waktu itu, akhirnya dipertemukan dengan Kak Aisha…
Saat pulang kuliah dan merombak total menu Boja Bakehouse, ada rasa takut dan tidak percaya diri. Kombinasi rasa dan bahan yang tidak lazim seperti buah jambu dengan keju, kelor kacang hijau, coklat-kluwek-tofu, ubi ungu-coklat, mungkin tidak semudah itu diterima pelanggan.
Merefleksi ulang visi misi dari praktik beberapa tahun ke belakang, terutama melalui
@lumbung.sagu , saya merasa sudah waktunya saya membagikan pengalaman berkenalan dengan bahan pangan Nusantara ke lebih banyak orang. Saya selalu mencari kesempatan untuk bercerita tentang biodiversitas pangan melalui karya kudapan. Dan tentunya tidak pernah terlepas dari pengalaman berkolaborasi dengan Kak Yuyun
@sinagipapua selama bolak balik ke Papua. Sampai hari ini semua kudapan Boja memakai garam dari tumbuhan nipahnya Sinagi Papua.
Ah, kalau diceritakan semua akan terlalu panjang. Tapi terima kasih kepada keluarga dan teman-teman yang percaya pada aku sejak awal. Untuk teman-teman baru, salam kenal 👋 Semoga kita berkesempatan bertemu dan berbagi cerita. Kalau lowong besok Sabtu (22 Nov) mari mampir ke Boja untuk coba kudapan kami secara langsung & bonus icip2 hasil RnD 😁
Hidup #panganlokal