Frame 24
05.00 -06.00 AM -
Big Ben
*THE MULTIPLE LAST FRAME*
*Last But Not Least*
Time fractures at the moment of completion.
What remains is not an ending, but an overlap.
⸻
*Continuation*
Beyond the final frame, something persists.
More than what was planned. More than what was needed.
What remains becomes meaning—
visible, carried, and continued.
*複数のラストフレーム*
最後にして、しかも最後ではないもの
完成の瞬間に、時間はひび割れる。
残るのは終わりではなく、重なり合い。
⸻
*継続*
最後のフレームの先にも、何かが残り続ける。
計画されたもの以上に。必要とされたもの以上に。
残されたものが意味となり、
可視化され、運ばれ、そして続いていく。
What was planned did not happen.
What happened, remained.
Not control-but surrender.
As
計画していたことは起こらなかった。
起こったことだけが、残った。
コントロールではない。降伏た
Frame 23
04.00 AM -
Big Ben Area
Lost/Found
Disorientation redefines direction.
The loss of certainty becomes part of the navigational process.
喪失/発見
方向感覚の喪失は、進む向きを捉え直す。
確情を失うことも、進んでいく過程の一部になる。
To lose direction is still to be on the path.
Г
進む道を見失うことも、それでもなお道の途中にいるということだ。
Versi Indonesia .
Know Where.
Malam itu gue baru tahu kalau ada bus yang
beroperasi 24 jam, dan salah satu rutenya melewati Big Ben. Gue naik bus itu, tapi ternyata salah turun. Alhasil harus jalan kaki sekitar 21 menit menuju Big Ben.
Suasananya cukup mencekam. Melewati lorong-lorong gedung yang sepi, gue bertemu dengan tiga orang berbadan tinggi, pakai hoodie dan masker. Gue langsung menduga mereka perampok. Mereka berdiri sekitar 20 meter
dari posisi gue.
Gue mencoba menghindar sambil panik. Waktu nunjukin pukul 4 pagi... dan entah objek apa yang akhirnya gue foto.
"Ketika kamu sudah menetapkan tujuan akhir, tersesat adalah bagian dari perjalanan."
Frame 22
03.00 AM
Camden Town
Scary Alley.
Fear sharpens perception.
The environment is experienced as both physical space and psychological condition.
笳い路地
恐れは知覚を鋭くする。
環境は、物理的な空間であると同時に、心理的な状態としても経験される。
Fear sharpens the senses.
And reminds us we are alive.
恐れは感覚を研ぎ澄ます。
そして、私たちが生きていることを思い出させる。
Versi Indonesia
Scary Alley.
Sebotol minuman energi cukup bikin gue segar lagr. Gue lanjut motret di area Camden, meskipun kabarnya di London agi banyak kasüs kejahatan, termasuk perampokan.
Seorang kawan sempat ngingetin gue
buat lebih hati-hati.
Melewati jalan yang cenderung sepi di
Lengah malam, rasa waspada jadi makin tinggi.
“Fear reminds us that faith is alive."
Frame 21
02.00 AM
Hotel Camden
Wake Up
Interruption gives way to continuation.
Rest functions not as withdrawal, but as a necessary condition for persistence.
目を覚ます
中断は、継続へとつながる。
休息は退避ではなく、持続のために必要な条件として働く。
Rest is not surrender.
It is preparation.
休息は降参ではない。
それは準備だ。
Versi Indonesia
Wake Up
Sejenak gue ambil waktu buat power nap, cuma sekitar 30 menit. Jujur berat banget, tapi gue harus komit-udah hampir selesai.
Sayangnya nggak ada video yang kerekam. Entah kenapa meta glass gue nggak berfungsi, datanya nggak ke-record... atau mungkin gue sendiri yang udah nggak fokus.
Akhirnya gue melangkah keluar lagi, melanjutkan rencana: menuju Big Ben.
"Selesaikan apa yang sudah kamu mulai."
Frame 20
01.00 AM - Camden Pizza
Critical Moment
Stillness becomes an act of resistance
Control is maintained through effort rather than certainty.
危機的瞬閒
静けさは抵抗の行為となる。
確実さによってではなく、努力によって制制は保たれる。
In fragile moments, stillness becomes resistance.
壊れやすい瞬間に、静けさは抵抗にな
る。
Versi Indonesia
Critical Moment .
Kondisi fisik sudah semakin lelah.
Gue cuma pakai jaket tipis-nggak nyangka
malam sedingin itu.
Karena mulai lapar, akhirnya gue memutuskan cari makan, di pojok jalan terlihat sebuah Pizza store yang masih buka. Tepat jam 1, gue memotret toko itu sebagai Frame ke-2o.
Dengan slow shutter, gue berusaha sekuat mungkin agar kamera nggak bergetar.
Setelah itu, gue membeli pizza lalu kembali ke hotel untuk mengganti jaket yang lebih tebal.
“No matter what, stand still-never tremble."
Frame 19
00.00 - Camden Town
The Light Falls
A moment of perceptual breakdown.
Blur and instability register the limits of physical and mental endurance.
光が差し込む
知覚が崩れる一瞬。
ぼやけと不安定さが、身体的・精神的な持久力の限界を示している。
At the edge of exhaustion, control slips away.
疲れ果てた限
界で、コントロールは手からこぼれ落
ちる
Versi Indonesia
The Light Falls.
Ini titik terendah gue. Gue bener-bener nggak ngerti lagi mau foto apa. Konsentrasi udah buyar, ngantuk parah.
Terus terang, di momen ini gue cukup kecewa-tapi nggak ada pilihan lain.
Waktu udah nunjukin pukul 12 malam, akhirnya gue tekan tombol shutter sambil menggoyangkan kamera.
"Iman ada untuk diuji."
Frame 18
23.00 - Camden Town
Enlightenment.
Contradiction remains unresolved
The image holds tension without offering closure
啓示
矛盾は、解決されないまま。
そのイメージは、結末を与えずに緊張をえ込んでいる。
Clarity doesn't always arrive. Still, we move forward
出勤さは、いつも訪れるとは限ら
ない。
それでも、私たちは前へ進む。
Versi Indonesia
Enlighten-ment.
Sampai sekarang gue masih
heran-gedung ini bagian
atasnya ada salib, tapi persis di bawahnya malah ada club.
Awalnya gue tertarik sama
objek sepeda, tapi setelah diperhatiin, salib di atas gedung itu justru bikin gue mikir.
Fisik udah mulai drop, akhirnya gue mutusin balik ke hotel buat rebahan sebentar. Mata sempet merem
sesaat.
Masih belum ada ide untuk shoot berikutnya... mungkin setelah istirahat sebentar bakal ada pencerahan?
"Harapan adalah bukti kalau kita masih hidup."
Frame 17
22.00 -
London Paddington Station
Why Are We Here?
Attention shifts toward the overlooked.
Meaning emerges through persistence, even in states of fatigue.
私たちはなぜここにいるのか
注目は、見過ごされていたものへと向かう。
意味は、疲労の状態の中でさえ、持続することによって立ち現れる。
In the smallest movements, a reason to continue appears,
ほんのわずかな
動きの中に、続ける理由が現
れる。
Versi Indonesia
Why Are We Here?
Gue mulai kelelahan, keyakinan pun sempat goyah.
Tapi tiba-tiba seekor burung yang lagi cari makan
seakan jadi simbol harapan.
Perjuangannya nyari remah-remah di antara kaki
manusia membangkitkan lagi semangat gue buat
nyelesaiin project ini.
Tanpa ragu, gue langsung capture momen itu.
“Never give up “
Frame 16
21.00 -
Brighton Train
Courage.
The act of approach becomes central.
Connection is contingent upon vulnerability and the willingness to engage.
勇気
接近するという行為が中心になる。
つながりは、弱さを受け入れ、関わろうとする意思に左右される。
Every connection begins with risk.
A step taken toward the unknown.
すべてのつながりは、リスクから始まる。
未知へ踏み出
す一歩。
Versi Indonesia
Brighton to London.
Bisa aja gue ditolak waktu minta izin motret mereka.
Percaya deh, nggak gampang memulai komunikasi sama sekelompok orang yang lagi seru-seruan bareng-apalagi cewek-cewek semua.
Gue sempat agak terintimidasi sama keseruan mereka.
Sungguh sulit nemuin objek foto di dalam kereta
perjalanan dari Brighton ke London.
Akhirnya gue beranikan diri untuk jelasin project 24
Time Frame ke Lizzy dan teman-temannya.
Tanpa ragu, mereka setuju. Tepat pukul 21.00, gue
menekan tombol shutter.
*Kejujuran dan ketuluşan hati akan
tercermin di wajah kita”